Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Maria, Perempuan dalam Wahyu 12?
oleh Trent Horn

Our Lady of Aparecida (Sumber: catholic.com)
Bahkan banyak cendekiawan Protestan percaya bahwa dia adalah gambaran bunda Sang Kristus.
Ketika pihak Protestan mengatakan, “ Umat Katolik percaya pada ajaran-ajaran yang tidak ditemukan dalam Alkitab,” mereka sering mengacu pada dogma “Maria diangkat ke surga” untuk membenarkan klaim tersebut. Sebagai tanggapan, beberapa orang Katolik mengatakan bahwa dogma itu ada dalam Alkitab karena Maria adalah perempuan yang dilihat Yohanes di surga seperti yang dijelaskan dalam Wahyu 12. Kalangan Protestan sering menentang klaim ini dengan menuduh orang Katolik memaksakan Maria ke dalam teks yang sebenarnya berbicara tentang Gereja atau bangsa Israel.
Jadi, siapa yang benar?
Dalam arti tertentu, keduanya benar. Namun, sebelum saya menjelaskan bagaimana kedua pandangan itu benar, saya perlu mengingatkan umat Katolik bahwa kita bukanlah Protestan.
Tantangan yang mengharuskan kita untuk “membuktikan” semua ajaran Katolik berasal dari Kitab Suci seharusnya tidak membuat kita khawatir, karena kita menolak ajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, yaitu sola scriptura. Ketika St. John Henry Newman berkhotbah tentang Maria diangkat ke surga dan dikandung tanpa noda, ia memberikan bukti mengenai ajaran-ajaran tersebut, tetapi ia juga berkata, “Saudara-saudariku, Aku tidak membuktikan ajaran-ajaran ini kepada kalian, bukti dari ajaran-ajaran ini terdapat dalam pernyataan Gereja. Gereja adalah pewarta kebenaran religius, dan menyalurkan apa yang para rasul serahkan kepadanya di setiap zaman dan tempat.”
Namun, ada argumen yang masuk akal bahwa Alkitab “merefleksikan” doktrin Maria Diangkat ke Surga, dan bukti untuk doktrin ini secara implisit terdapat dalam deskripsi Yohanes tentang perempuan dalam Wahyu 12:1-6. Hal ini tidak cukup untuk membuktikan bahwa Maria diangkat ke surga, tetapi hal ini sesuai dengan keyakinan sebelumnya tentang pengangkatan Maria dan memberikan dukungan tambahan untuk klaim tersebut. Mari kita telaah apa yang dikatakan Yohanes tentang perempuan ini dan pertimbangkan simbolisme Maria yang memungkinkan:
Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan berteriak dalam kesakitan dan dalam derita untuk melahirkan. Lalu tampaklah suatu tanda yang lain di langit, dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan tongkat besi. Namun. Anaknya itu dirampas dan dibawa kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ selama seribu dua ratus enam puluh hari (Wahyu 12:1-6 TB2).
Seorang penulis Protestan, Gregory Beale, menulis, “Sebagian besar simbol dalam Kitab Wahyu memiliki makna majemuk atau asosiasi yang beragam, dan . . . penafsir tidak pernah dapat memastikan bahwa semua makna yang majemuk dari suatu simbol sudah terungkap.” Hal ini umum terjadi dalam gambaran Alkitab dan merupakan poin yang sering terlewatkan oleh kritikus Protestan ketika mereka mengkritik argumen Katolik.
Misalnya, beberapa kalangan Protestan berkata bahwa Petrus bukanlah “batu karang” dalam Matius 16:18 dengan merujuk pada Bapa-bapa Gereja yang mengidentifikasi “batu karang” sebagai pengakuan iman Petrus. Namun, Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa “batu karang” melambangkan baik pengakuan iman Petrus (424) maupun Petrus sendiri (881). Demikian pula, ketika berbicara tentang perempuan dalam Wahyu 12, tidak ada kontradiksi dalam mengatakan bahwa perempuan itu melambangkan Maria dan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok orang lainnya.
Cendekiawan Protestan Ben Witherington setuju: “Tokoh ini adalah ibu kandung Yesus, sang anak laki-laki, sekaligus gambaran perempuan dari umat Allah. Sekali lagi, teks ini memiliki makna yang beragam!” Peter Leithart juga setuju: “Bukan hanya Maria, tetapi perempuan itu juga adalah Maria [penekanan tambahan], Maria sebagai eskatos dalam garis para bunda mukjizat, sebagai perwujudan keperawanan Israel dalam melahirkan, semuanya diperlukan untuk membentuk Kristus di dunia ini.”
Sebagian besar ahli kitab suci melihat perempuan dalam Wahyu 12 memiliki hubungan dengan kelahiran Mesias. Akibatnya, mereka melihatnya sebagai representasi dari umat Allah yang mendahului Mesias, termasuk Maria, Israel, dan bahkan Hawa. Para ahli juga percaya bahwa perempuan ini melambangkan Gereja, yang melahirkan umat Perjanjian Baru. Keragaman makna dalam ayat ini menjawab beberapa keberatan umum terhadap identifikasi Maria dengan perempuan “berselubungkan matahari” ini.
Misalnya, beberapa kritikus mengatakan bahwa sakit bersalin yang dialami oleh Maria bertentangan dengan keyakinan lama bahwa Maria yang dikandung tanpa dosa asal tidak mengalami salah satu hukuman dosa asal dalam bentuk sakit bersalin (Kejadian 3:16). Namun, “sakit bersalin” ini dapat merujuk pada penderitaan Maria sebelum kelahiran Yesus, penderitaan yang dirasakannya di kaki salib saat ia menjadi ibu rohani bagi Yohanes (dan secara luas bagi semua umat beriman), serta penderitaan yang dialami oleh umat Allah baik sebelum kelahiran Mesias maupun setelah kebangkitan-Nya selama penganiayaan Romawi.
N.T. Wright berpendapat bahwa perempuan ini adalah “suatu ‘tanda,’ bukan ibu secara harfiah.” Sebagai tanggapan, kita dapat mencatat bahwa Yohanes juga menggambarkan “naga merah besar” dalam ayat ini sebagai sebuah “tanda” (Yunani: semeion), tetapi hampir semua penafsir sepakat bahwa naga tersebut mewakili individu: Iblis. Seperti yang dicatat oleh Tim Staples, “ada empat tokoh utama dalam bab ini: ‘perempuan,’ Iblis, Yesus, dan Malaikat Agung Mikael. Tidak ada yang menyangkal bahwa ketiga karakter lain yang disebutkan adalah pribadi-pribadi nyata. Sesuai dengan konteks, secara eksegetis menafsirkan ‘perempuan’ sebagai pribadi (Maria) juga masuk akal.” Wright bahkan mengatakan, “Dari Israel yang setia ini, akhirnya melalui ‘putri perawan Israel,’ Maria sendiri, Mesias dilahirkan.”
Kita juga perlu mencatat bahwa dalam Injil Yohanes, ibu Yesus tidak pernah disebut “Maria.” Yesus bahkan tidak pernah memanggilnya “ibu,” melainkan merujuk padanya sebagai “perempuan” (Yohanes 2:4, 19:27). Para Bapa Gereja melihat bahwa istilah ini adalah referensi kepada Maria sebagai Hawa Baru, yang juga disebut “perempuan” (Ibrani: Ishah) dalam Kitab Kejadian hingga setelah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika Adam menamainya “Hawa” (Ibrani: Ḥawwāh).
Keberatan lain terhadap kesimpulan ini adalah bahwa Bapa Gereja yang paling awal yang mengidentifikasi perempuan tersebut sebagai Maria adalah St. Quodvultdeus pada tahun 430, meskipun penulis-penulis sebelumnya seperti St. Metodius dan St. Hipolitus telah menafsirkan ayat ini. Namun, hal ini tidak mengherankan, mengingat Gereja perdana belum sepakat apakah Kitab Wahyu termasuk bagian naskah Kristen!
Konsili Laodikia dan Sirilus dari Yerusalem tidak memasukkan Kitab Wahyu ke dalam daftar kitab kanonik. Pada tahun 330, sejarawan Gereja bernama Eusebius berkata tentang Kitab Wahyu, “Di antara tulisan-tulisan yang ditolak, seperti yang telah saya katakan haruslah termasuk Kitab Wahyu Yohanes, jika dianggap tepat, yang oleh sebagian orang ditolak, tetapi oleh yang lain dikategorikan bersama kitab-kitab yang diterima.” Jika Gereja perdana memandang Kitab Wahyu sebagai naskah Yahudi, maka masuk akal jika mereka tidak melihat Maria di dalamnya dengan jelas seperti mereka melihat motif-motif Perjanjian Lama lainnya hingga teks tersebut lebih luas diterima di Gereja perdana.
Hal ini sejalan dengan kesimpulan dari karya tahun 1978 berjudul “Mary in the New Testament”, yang mendokumentasikan hasil studi bersama tentang Maria yang dilakukan oleh sekelompok cendekiawan Protestan dan Katolik. Studi tersebut menyimpulkan bahwa simbol perempuan yang menjadi bunda Sang Mesias dalam Injil Yohanes “mungkin saja dapat diinterpretasikan yang merujuk pada Maria” dan mengakui bahwa “Kitab Wahyu merupakan kitab yang relatif terlambat masuk ke dalam kanon beberapa gereja Timur, sehingga simbolisme Maria yang kanonik ini tidak akan sama kunonya di semua wilayah.” Dalam buku Mary for Evangelicals, seorang penulis Protestan, Tim Perry, menyimpulkan hal serupa: “Tidak mengherankan … untuk menemukan bahwa interpretasi Maria dalam Wahyu 12 dimulai pada abad kelima, setelah kanon Perjanjian Baru ditetapkan.”
Para cendekiawan Protestan seperti William Barclay dan Larry Heyler mengakui bahwa gagasan bahwa perempuan dalam Wahyu 12 adalah Maria adalah hal yang “jelas” untuk dikatakan. Mereka ragu untuk melakukannya hanya karena mereka percaya bahwa perempuan ini tidak bisa merujuk hanya pada Maria. Umat Katolik setuju bahwa perempuan ini melambangkan banyak hal dan orang yang berbeda, tetapi mereka juga siap untuk melangkah lebih jauh dan mengatakan bahwa Maria sendiri, karena statusnya sebagai Bunda Allah, menjadi simbol yang tepat. Misalnya, St. Metodius mengatakan bahwa perempuan itu adalah,
… menurut penafsiran yang akurat, bunda kita, ya para perawan, adalah kekuatan yang berdiri sendiri dan berbeda dari anak-anaknya; yang oleh para nabi, sesuai dengan aspek bahasan mereka, kadang-kadang disebut Yerusalem, kadang-kadang Mempelai Perempuan , kadang-kadang Gunung Sion, dan kadang-kadang Bait Suci dan Tabernakel Allah.
Menjadi masuk akal bahwa umat Kristen kemudian menyadari bagaimana konsep-konsep seperti “Israel” dan “Gereja” (yang diidentifikasi oleh Metodius dengan istilah-istilah seperti “ bunda,” “perawan,” “ Bait Suci,” dan “ Tabernakel Allah”) secara sempurna disimbolkan dalam diri Maria. Seperti yang dikatakan Heyler, “Perawan Maria mewakili atau mewujudkan umat Allah yang sejati.”
Maria adalah Perawan Abadi, Bunda Allah, Bunda semua orang beriman, dan Tabut Perjanjian Baru yang berbeda dengan Tabut Perjanjian Lama, yang juga digambarkan [Tabut Perjanjian Baru] berada di surga dalam ayat sebelumnya (Wahyu 11:19). Bahkan Perry, seorang Kristen Injili, mengakui, “Sebagai bagian dari kanon Perjanjian Baru, penggambaran perempuan surgawi dalam Wahyu melengkapi topik Maria dalam Alkitab.”
Jika perempuan ini melambangkan Maria – atau, seperti yang telah kita lihat, secara masuk akal dapat disimpulkan bahwa perempuan ini adalah Maria – maka keyakinan bahwa Yesus membawa ibu-Nya ke surga untuk turut memerintah bersama-Nya menjadi semakin masuk akal, dan kesaksian Kitab Suci akan berfungsi sebagai penguat implisit bagi misteri agung iman kita ini.
Posted on 15 October 2025, in Apologetika and tagged Maria, Wahyu. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0