Advertisements

Beato Martinus Yi Jung-bae

Beato Martinus Yi Jung-bae (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Martinus Yi Jung-bae (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun dan tempat Lahir: 1751, Yeoju, Gyeonggi-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Keluarga kelas bangsawan
  • Usia: 50 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 25 April 1801
  • Tempat Kemartiran: Yeoju, Gyeonggi-do
  • Cara Kemartiran: Dipenggal

Martinus Yi Jung-bae lahir di Yeoju. Gyeonggi-do pada keluarga bangsawan. Dia orang yang kuat dan berani dan juga dia memiliki karakter yang periang, tetapi sekaligus, dia orang yang kasar dan mudah marah. Namun, temperamennya berubah total setelah dia menjadi Katolik.

Martinus Yi pertama kali mendengar agama Katolik pada tahun 1797 dari Yosafat Kim Geon-sun yang merupakan teman dekat dari sepupunya Yohanes Won Gyeong-do. Martinus Yi menerima ajaran Katolik dengan cepat, kemudian dia mengajari ayahnya dan istrinya. Dia berhenti mempersembahkan ritual leluhur seperti yang diperintahkan oleh ajaran Gereja dan dia bersemangat mengakui imannya kepada Tuhan tanpa gentar, oleh karena sikapnya yang berani.

Pada Minggu Paskah tahun 1800, Martinus Yi pergi mengunjungi seorang teman bersama sepupunya Yohanes. Mereka berdoa Malaikat Tuhan dan menyanyikan lagu pujian bersama-sama. Pada saat yang sama, hakim dari Yeoju, yang bertekad untuk membasmi agama Katolik di wilayahnya sampai ke akarnya, dia mendapatkan informasi mengenai pertemuan doa. Setelah menerima laporan rahasia tersebut, hakim segera mengirim polisi untuk menangkap umat Katolik pada pertemuan doa.

Begitu Martinus Yi dan umat beriman lainnya dibawa ke kantor pemerintahan, polisi menginterogasi dan menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk menyangkal Tuhan. Dibawah perlakuan yang kasar itu, mereka tetap kokoh dalam iman mereka dan juga terinspirasi oleh keberanian dan kepahlawanan yang ditunjukkan oleh Martinus Yi kepada penganiaya.

Martinus Yi dipenjarakan selama enam bulan, selama waktu itu, dia bertahan dari berbagai interogasi dan siksaan yang mengerikan. Walaupun dia tak pernah kehilangan keberaniannya, dia tetap kuat. Dia mendorong umat Katolik lainnya agar bertekun dalam iman akan Tuhan. Ketika seorang hamba wanita yang sudah tua dari sepupunya Yohanes datang ke penjara untuk membujuknya, kemudian dia memarahinya dengan keras dan meminta dia untuk pulang ke rumahnya. Martinus Yi mencoba membujuk ayahnya dengan perkataan berikut:

“Yang terkasih Ayah, saya tidak melupakan tugas bakti saya. Ayah seorang Katolik juga, jika ayah mempertimbangkan ini dari cara pandang yang khusus ini, ayah tidak akan menyangkal Tuhan, Bapa kami, oleh karena kasih sayang manusia.”

Martinus Yi memiliki beberapa pengetahuan tentang pengobatan. Tetapi pengetahuan pengobatan yang ia tunjukkan adalah sesuatu yang tidak biasa. Hal itu lebih ke arah mukjizat yang tidak dapat dijelaskan oleh bahasa manusia. Penjara penuh sesak oleh orang-orang yang datang untuk melihat dia, dan setiap orang kagum dengan hasil pengobatannya.

Pada bulan Oktober 1800, Martinus Yi dan teman-teman Katoliknya dipindahkan ke kantor gubernur Gyeonggi, dan disana mereka menjalani interogasi dan siksaan berat lagi. Dengan adanya Penganiayaan Shinyu yang terjadi pada tahun berikutnya, gubernur Gyeonggi memanggil mereka untuk diiterogasi dan disiksa, dan mencoba memaksa mereka untuk menyangkal Tuhan. Martinus Yi dan teman-temannya tidak menaatinya, tetapi mereka mengatasi seluruh godaan dengan menguatkan satu sama lain.

Gubernur meminta mereka untuk menuliskan pernyataan terakhir mereka dan menyerahkannya ke istana, yang kemudian memerintahkan terdakwa dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing untuk dieksekusi dalam rangka membuat orang-orang melawan agama Katolik. Martinus Yi dan teman-temannya dipindahkan ke Yeoju, kampung halaman mereka.  Mereka dipenggal dan meninggal sebagai martir pada tanggal 25 April 1801 (13 Maret pada penanggalan Lunar), dan saat itu dia berusia sekitar 50 tahun.

Berikut ini adalah kutipan dari pernyataan tertulis mengenai hukuman mati yang diserahkan ke istana:

“Dia sangat dalam menjiwai agama Katolik sehingga dia menghancurkan tablet leluhur (plakat atau papan roh yang dipercaya sebagai tempat kediaman arwah leluhur), sehingga dia layak mati sepuluh ribu kali.”

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on November 9, 2014, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: