Advertisements

Beata Barbara Jeong Sun-mae

Beata Barbara Jeong Sun-mae (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beata Barbara Jeong Sun-mae (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun dan tempat Lahir: 1777, Yeoju, Gyeonggi-do
  • Gender: Wanita
  • Posisi/Status: Perawan dari keluarga kelas bangsawan
  • Usia: 24 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 3 atau 4 Juli 1801
  • Tempat Kemartiran: Yeoju, Gyeonggi-do
  • Cara Kemartiran: Dipenggal

Barbara Jeong sun-mae lahir di Yeoju, Gyeonggi-do. Pada tahun 1795, pada usia 19 tahun, dia belajar Katekismus dari kakak laki-lakinya dan kakak iparnya. Kakak laki-lakinya adalah Barnabas Jeong Gwang-su yang membantu Pastor Yakobus Zhou Wen-mo dan terlibat secara aktif dalam aktivitas Gereja. Sedangkan kakak iparnya adalah Lusia Yun Un-hye yang berasal dari keluarga Katolik yang luar biasa. Dan mereka semua menjadi martir pada tahun 1801.

Ketika dia menjadi Katolik, Barbara Jeong menjalankan agamanya dengan lebih bersemangat daripada yang lainnya. Untuk membaktikan dirinya dengan sepenuh hati kepada Tuhan, dia memutuskan untuk tetap menjadi seorang perawan. Dia berpura-pura sebagai seorang janda dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Saya sudah menikah kepada Tuan Heo, tetapi saya menjadi seorang janda.”

Beberapa tahun kemudian, Barbara Jeong pindah ke Seoul. Kemudian dia membantu kakak dan adik iparnya untuk menyebarluaskan buku-buku dan benda rohani kepada umat beriman lainnya. Dia menjadi anggota komunitas perawan yang diketuai oleh Agatha Yun Jeom-hye. Kapanpun rumahnya digunakan sebagai gereja dia mempersiapkan segalanya dengan hati-hati. Pada tahun 1800, dia dibaptis oleh Pastor Yakobus Zhou. Barbara Jeong menjadi seorang Katolik yang lebih setia dan taat setelah dia dibaptis.

Barbara Jeong ditangkap ketika Penganiayaan Shinyu pada tahun 1801. Selama dia diinterogasi dan disiksa, dia menunjukkan keberanian yang kuat dan mengakui imannya kepada Tuhan. Dia tidak pernah mengungkapkan nama-nama umat beriman lainnya, namun mengakui imannya kepada Tuhan dengan berkata, “Saya tidak dapat menyerah dari agama saya walaupun saya harus mati.” Sehingga kepala petugas memerintahkan agar dia dihukum lebih berat lagi. Namun dia gagal mencapai tujuannya.

Barbara Jeong dijatuhi hukuman mati bersama umat beriman lainnya. Hakim memerintahkan agar dia dikirim ke kampung halamanya, di Yeoju, untuk dieksekusi disana agar membuat warga desa menentang agama Katolik. Dia dipindahkan ke Yeoju dan dipenggal pada tanggal 3 atau 4 Juli 1801 (23 atau 24 Mei pada penanggalan Lunar), dan dia meninggal sebagai martir. Barbara Jeong saat itu berusia 24 tahun dan masih perawan.

Berikut ini pernyataan terakhir Barbara Jeong sebelum dihukum mati:

“Dihukum di Pusat Kepolisian dan diinterogasi dengan keras di Departemen Hukum, sangatlah menyakitkan. Namun demikian, saya tidak dapat mengubah pikiran saya karena saya sangat mencintai agama Katolik.”

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on December 9, 2014, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: