Advertisements

Beato Matias Choe Yeo-gyeom

Beato Matias Choe Yeo­-gyeom (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Matias Choe Yeo­-gyeom (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun dan tempat Lahir: 1763, Mujang, Jeolla-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Keluarga kelas bangsawan
  • Usia: 38 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 27 Agustus 1801
  • Tempat Kemartiran: Mujang, Jeolla-do
  • Cara Kemartiran: Dipenggal

Matias Choe Yeo-gyeom lahir pada keluarga kelas bangsawan di Mujang, Jeolla-do. Dia belajar Katekismus dari Paulus Yun Ji-chung ketika dia masih muda. Setelah dia menikah, dia bertemu dengan Luis Gonzaga Yi Jon-chang, kemudian melanjutkan untuk mempelajari ajaran Gereja, sehingga menjadi seorang Katolik yang saleh. Pada saat itu, mertuanya tinggal di Hansan, Chungcheong-do. Disana dia bertemu dengan Luis Gonzaga Yi.

Setelah dia kembali ke Mujang, Matias Choe menjalankan agamanya dengan semangat yang tinggi dan mewartakan kebenaran kepada tetangganya, menuntun banyak orang kepada Tuhan.

Ketika Penganiayaan Shinyu terjadi pada tahun 1801, Matias Choe melarikan diri ke rumah mertuanya di Hansan. Di Mujang, banyak umat Katolik ditangkap, termasuk orang yang menjadi Katolik karena bimbingan Matias Choe. Oleh karena interogasi yang dilakukan kepada umat Katolik ini, nama Matias Choe diketahui. Sehingga dia ditangkap di Hansan pada tanggal 13 April, dan kemudian dia diinterogasi. Kemudian, Gubernur memerintahkan agar dia dipindahkan ke Mujang.

Ketika Matias Choe tiba di kantor gubernur di Mujang, hakim langsung memulai menginterogasi dan menyiksa dia. Tak lama kemudian, hakim menyadari bahwa dia tidak dapat mengubah pikirannya, kemudian hakim memerintahkan agar dia dipindahkan ke Jeonju. Disana Matias Choe menjalani babak baru interogasi dan siksaan yang kejam, namun dia tidak menyerah. Kemudian,secara tidak sengaja dia bertemu dengan dua orang Katolik yang saleh di dalam penjara, mereka adalah Stanislaus Han Jeong-heum dan Andreas Kim Cheon-ae. Mereka saling menguatkan dan saling bersahabat.

Matias Choe dan teman Katoliknya dibawa dengan paksa ke Seoul. Mereka diinterogasi dan disiksa baik di Pusat Kepolisian maupun di Departemen Hukum, namun iman mereka tetap tak tergoyahkan. Departemen Hukum menjatuhi mereka dengan hukuman mati pada tanggal 21 Agustus 1801, dan memerintahkan agar mereka dibawa ke kampung halamannya masing-masing dan dieksekusi disana. Matias Choe dibawa ke Mujang. Beberapa hari kemudian, dia dipenggal dan meninggal sebagai martir di pasar Gaegap (sekarang, Gapchon, Gongeum-myeon, Gochang-gun, Jeonbuk). Pada saat itu tanggal 27 Agustus 1801 (19 Juli pada penanggalan Lunar). Matias Choe saat itu berusia 38 tahun.

Berikut ini adalah kutipan dari surat hukuman mati yang diumumkan oleh Departemen Hukum mengenai Matias Choe:

“Choe Yeo-gyeom pertama kali belajar agama Katolik dari Yun Ji-chung dan kemudian dia bertemu dengan Yi Jon-chang, kemudian dia mempelajarinya lebih dalam lagi. Dia menggoda orang-orang dengan ajaran Katolik dan menipu mereka, dia menghancurkan dirinya sendiri serta orang lain. Oleh karena itu, dia pantas mati sepuluh ribu kali.”

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on December 16, 2014, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: