Advertisements

Kisah Natal dalam Kitab Suci

Oleh Joby Provido

Adoration of the sheperds (Karya: Matthias Stomer) Sumber: wikimedia.org

Pendahuluan

Kisah kelahiran Kristus digambarkan secara romantis dengan sebuah palungan yang nyaman lengkap dengan lembu dan keledai, para malaikat menampakan diri kepada para gembala, dan juga kunjungan dari tiga raja. Semua itu ditunjukkan dalam gambaran kelahiran Yesus yang kita tampilkan selama Masa Natal, dan kita merindukan kenyamanan yang kita peringati dalam kisah yang hangat dan menggemaskan ini.

Namun jika kita lebih dalam lagi dalam Kitab Suci, kisah Natal tidak lebih dari kisah yang kasar sekaligus mengagumkan. Tidak ada kegemasan ataupun kenyamanan sedikitpun jika kita menelaahnya.

Rencana yang berantakan

Dalam permulaan Injil Lukas kita bisa membaca kisah pengabaran kepada Maria. Kita tahu bahwa Maria sudah bertunangan dengan seorang pria bernama Yusuf. Pertunangan bagi orang Yahudi pada waktu itu berarti mereka sudah bisa untuk hidup sebagai suami istri, dan satu-satunya hal yang dilakukan seorang pria adalah membawa istrinya ke rumahnya untuk tinggal bersamanya. Inilah rencana Yusuf dan Maria, namun pengabaran oleh Gabriel mengubah semuanya itu. Apapun yang telah dipersiapkan “dikacaukan” oleh rencana Allah. Kenyataannya, Maria berencana untuk menjalani kehidupan murni, dia perlu tahu bagaimana nantinya dia akan mengandung, mengingat dia tidak berencana untuk melakukan hubungan seksual. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Dalam kalimat ini, Anda bisa mendengar nada bicara untuk memohon bimbingan.

Begitu pula dengan Yusuf yang merencanakan kehidupan yang tenang bersama Maria, namun menyadari bahwa Maria sudah mengandung, maka dia ingin menceraikannya diam-diam, sebagaimana hal ini diungkapkan dalam Injil Matius. Hanya dengan melalui mimpi, Yusuf menyadari akan rencana barunya untuk tetap menjadi suami Maria dan menjadi ayah bagi Anak Maria. Dalam tradisi Yahudi waktu itu, pemberian nama anak adalah hak prerogatif sang ayah. Jadi ketika malaikat memberitahunya untuk memberikan nama kepada sang Anak, dia sebenarnya diminta untuk menjadi ayah bagi sang Anak. (bdk. Kisah pemberian nama St. Yohanes Pembaptis oleh Zahkaria (Luk 1:59-63) dengan pemberian nama Tuhan Yesus oleh St. Yusuf (Luk 2:21 dan Mat 1:25) keduanya dilakukan pada hari kedelapan ketika peristiwa penyunatan –red.)

Inti dalam kisah ini adalah jika mereka tidak menerima “campur tangan” dari Allah, maka kisah Natal bisa jadi berbeda.

Tidak ada tempat di penginapan

Kaisar Agustus ingin menerapkan perpajakan yang tepat, dia memerintahkan kepada dunia yang berada dalam kekuasaannya, supaya pulang ke kampong halaman masing-masing untuk cacah jiwa / sensus. Ketika Yusuf dan Maria tiba di Betlehem, semua tempat sudah penuh. Semua tempat yang tersedia sudah disewa, dan tentu saja beberapa orang melakukan pengecualian dan berbagi ruangan dengan yang lain. Namun Injil memberi tahu kita, waktu Maria untuk bersalin sudah dekat. Sehingga Yusuf tidak akan setuju untuk skenario berbagi ruangan karena Maria membutuhkan privasi. Kita harus bisa membayangkan mengapa Yosef sepakat untuk menyewa suatu tempat yang tidak layak huni sehingga tak seorangpun akan mengambilnya.

Kita diceritakan bahwa tempat itu adalah palungan – suatu tempat hewan-hewan diberi makan. Menurut tradisi (dalam konteks “t” kecil) memberi tahu kita bahwa tempat ini berarti juga gua (sebagaimana diceritakan oleh Yustinus Martir dan Origen). Kita hanya bisa membayangkan bagaimana baunya tempat itu. Membayangkan seorang anak mengenakan kain lampin juga tidak enak dipandang. Paus Benediktus XVI, dalam bukunya “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, menjelaskan bahwa seorang anak yang dibungkus dengan balutan kain dimaksudkan untuk menggambarkan waktu kematian-Nya. Sedemikian mengerikan kah, tidak juga?

Kain bedung atau lampin (jika dalam bahasa Inggris kita bisa melihat kesamaan istilah “swaddling clothes” pada Luk 2:7, Luk 2:12 dan Keb 7:4 –red.), para ahli berpendapat juga dengan mengambil referensi dari Salomo, putra Raja Daud. Dalam Kitab Kebijaksanaan (Bab 7), Salomo menulis tentang kelahirannya yang begitu rendah hati dan dia mengenakan bedung. Tentu saja hal ini merupakan gambaran Kristus yang disebut “Anak Daud”, Allah kita yang dengan segala kerendahan hati menjadi manusia.

Dalam gua Natal, kita biasanya melihat seekor lembu dan keledai, bahkan jika Injil tidak memberi tahu kita tentang adanya binatang-binatang itu dengan jelas. Itu berasal dari Yesaya 1:3:

“Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.”

Hal ini menggambarkan gambaran yang suram, karena selama ribuan tahun Allah telah mempersiapkan umat manusia untuk menerima Juruselamat yang telah Ia janjikan; namun ketika akhirnya Kristus lahir, Dia berpaling karena umat manusia tidak mengenalinya. Hanya lembu dan keledai (kemungkinan di tempat binatang-binatang itu hidup) yang memberi Yesus suatu tempat bagi-Nya. Semua itu bukan pemikiran yang menyenangkan.

Bala tentara sorga

Dalam Injil Lukas memberitahu kita bahwa kelahiran Kristus diberitakan oleh para malaikat kepada para gembala di suatu ladang dekat sana. Kita juga meromantiskan adegan ini, namun kenyataannya lebih dari itu. Lukas terus menerus menulis tentang Yesus yang datang untuk semua umat manusia – bukan hanya untuk orang Yahudi. Hal ini menjadi sangat nyata ketika Lukas menulis kitab Kisah Para Rasul di mana orang-orang bukan Yahudi diundang untuk masuk ke dalam Gereja. Namun narasinya tentang Natal adalah pengantar untuk pesan itu. Lihat, ketika masa Yesus, para gembala adalah orang-orang yang dianggap tidak diinginkan. Mereka itu seperti pencuri dan penipu – pendosa. Kaum elit Yahudi tidak ingin berurusan dengan mereka. Sehingga ketika kita diberitahukan bahwa orang-orang pertama yang menerima berita kedatangan Kristus adalah para gembala, yang tentunya memberitahu kita bahwa Dia datang untuk menyelamatkan semua orang berdosa.

Setelah pemberitaan kepada para gembala, sejumlah malaikat (host of angels) muncul dan menyanyikan Gloria yang terkenal itu. Uskup Robert Baron menekankan bahwa kata “host” adalah terjemahan bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Yunani “stratias” yang berarti bala tentara. Maka ini menjadi gambaran lengkap pemberitaan kabar gembira Gabriel kepada Maria bahwa putranya akan menjadi Raja Daud, dan inilah bala tentara-Nya. Kaisar Agustus mungkin menguasai sebagian besar dunia yang sudah diketahui saat itu, tetapi Anak ini sebaliknya, Dialah sang penguasa sejati – inilah pesan dari “bala tentara sorga”. Inilah perspektif yang luar biasa itu.

Kunjungan Orang Majus

Sebagaimana dalam Injil Lukas yang menegaskan kembali bahwa keselamatan bukan hanya untuk orang Yahudi. Matius melakukan ini juga dengan memberi tahu kita bahwa Allah memberitakan kelahiran Mesias kepada para majus. Kita tidak bisa memandang rendah para majus itu sebagai orang jahat yang kadang-kadang melakukan hal-hal jahat. Sama seperti para gembala, hanya ada dua kelompok orang yang menerima kabar itu yang adalah orang-orang yang terasing (para gembala) dan orang asing (para majus), dan ini yang membuat suatu singgungan bahwa orang luar juga (dari luar agama Yahudi) diundang untuk diselamatkan.

Para ahli Kitab Suci telah menempatkan garis waktu kunjungan para majus beberapa waktu setelah Yesus disunat dan dipersembahkan di Bait Allah. Mereka tidak mengunjungi pada malam Natal. Karena Injil Matius memberi tahu kita bahwa ketika mereka menemukan Yesus, Dia sendiri bersama dengan Maria ketika para majus masuk ke dalam “rumah”, dan dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk menggambarkan Yesus bukan lagi seorang bayi tetapi sebagai “anak kecil usia 1-2 tahun / toddler” (dan ini juga mengapa Herodes memerintahkan untuk membunuh anak-anak berusia 2 tahun ke bawah dalam Mat 2:16 –red.)  Jadi dengan dua informasi ini, para ahli berpikir bahwa sensus sudah berakhir dan Keluarga Kudus sudah bisa pindah ke sebuah rumah.

Kita juga diberitahukan bahwa para majus membawa tiga hadiah: emas, kemenyan dan mur, setelah mereka “menyembah” Anak itu – sesuatu yang diperuntukkan untuk para raja ilahi. Hadiah-hadiah ini tidak terlalu praktis bagi Keluarga Kudus, namun kenyataannya bersifat simbolis. St. Iraneus menjelaskan bahwa emas adalah simbol martabat raja Kristus, kemenyan adalah simbol imamat-Nya, dan mur adalah simbol kemanusiaan-Nya yang mana mur digunakan sebagai minyak pembalsaman dalam pemakaman. Teolog Dr. Scott Hahn, mengungkapkan bahwa hadiah-hadiah itu juga digunakan dalam karya (pekerjaan) para majus, oleh karena itu menjadi simbol persembahan karya mereka – sesuatu yang dilakukan rakyat untuk seorang raja.

Tidak adanya St. Yusuf

Ada hal yang menarik yang ditunjukkan oleh seorang teolog lain yang bernama Frank J. Sheed, dia menunjukkan bahwa St. Yusuf tidak ada dalam adegan ini (ketika kunjungan para majus –red.). Dia berkata bahwa tidak menyebutkan kehadiran seorang ayah dalam keluarga adalah suatu penghinaan (secara khusus dalam tradisi Yahudi), maka satu-satunya kesimpulan yang dapat diperoleh dalam situasi itu adalah St. Yusuf tidak berada di sana.

Lantas di mana St. Yusuf? Kita bermaksud untuk mencerminkan bahwa Kelurga Kudus bukanlah keluarga ajaib yang mana Allah menghujani mereka dengan uang. Mereka adalah sebuah keluarga yang miskin. Kenyataannya ketidakhadiran St. Yusuf di sana kemungkinan besar bahwa dia menawarkan jasanya atau sedang mengerjakan sesuatu (pekerjaan tukang kayu –red.). Kita harus ingat bahwa anggota Keluarga Kudus hanyalah pengunjung di Betlehem. Mereka tidak memiliki tempat tinggal permanen di sana, oleh karena itu St. Yusuf harus mencari pekerjaan untuk membayar sewa dan membeli makanan dan minuman. Karena sebagai pengunjung, dia tidak punya tempat berjualan sendiri dimana orang-orang bisa mencari dia untuk memperbaiki pintu, jendela, dan sebagainya. Dia pasti dari rumah ke rumah menawarkan keahlian sebagai tukang kayu. Jadi kita harus menyadari bahwa hanya karena Allah memanggil kita untuk melakukan sesuatu bagi-Nya, Ia tidak akan memberikan cara yang ajaib untuk melakukannya. Sehingga melalui usaha kita, kita bisa melakukan apa yang kita bisa lakukan.

Penyingkiran ke Mesir

Raja Herodes yang picik mengetahui bahwa para majus tidak datang kembali untuk memberi tahu di mana Anak Raja berada dan membuat dia terhasut dengan amarah yang mengerikan. Dalam suatu mimpi, St. Yusuf diperingatkan untuk melarikan diri ke Mesir, dan ketika tengah malam mereka meninggalkan tempat tinggal mereka yang nyaman dan pergi dari Betlehem.

Sementara itu, anak-anak di Betlehem dibantai. Herodes berpikir bahwa Yesus pasti sudah mati dalam pembantaian, maka Herodes tidak lagi mengejar Dia. St. Thomas Aquinas mengomentari Injil Matius, bahwa anak-anak itu dianggap sebagai martir karena mereka telah mengakui Kristus secara non loquendo, sed moriendo (bukan dengan ucapan, tetapi dengan mati). Dengan demikian, kita bisa berkata bahwa Kanak-kanak Suci memegang yang satu-satunya dan yang terutama kehormatan karena telah mati untuk menyelamatkan Kristus. Inilah bagian yang sangat tidak menyenangkan sama sekali.

Pada bagian yang sama pula kita membaca ratapan para ibu yang mengekspresikan dalam firasat Nabi Yeremia:

Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi. (Yer 31:15 bdk. Mat 2:17-18)

Kutipan ini tentang Rahel istri dari Yakub, yang berada di Yerusalem sedang menangis karena anak-anaknya dibawa ke pengasingan ketika masa penyerangan orang Asyur. Rama berjarak 9,6 kilometer (enam mil) dari Yerusalem, dan yang menjadi intinya adalah tangisannya begitu keras sehingga bisa didengar dari jarak yang sangat jauh.

Kesimpulan

Begitu banyak kisah Natal yang hangat dan menyenangkan, namun Kitab Suci mengungkapkan kepada kita bahwa Allah tidak memberikan Yusuf dan Maria suatu rencana yang terperinci yang mana mereka bisa berkonsultasi untuk meminta bimbingan-Nya. Mereka harus melakukan pembedaan roh dalam setiap langkah yang mereka lakukan. Dan kebanyakan langkah itu adalah langkah sama sekali tidak nyaman dilakukan. Sama seperti bintang yang muncul sesekali untuk membimbing para majus, mereka merasa senang kapanpun Allah membimbing mereka. Namun kebanyakan, mereka harus percaya kepada Allah. Maka, kita harus melihat bahwa inilah kisah Yusuf dan Maria – bahwa hidup mereka bukan milik mereka sepenuhnya. Mereka bersedia menjadi alat dalam rencana Allah, sebagaimana kita seharusnya juga demikian. Kita tidak akan pernah tahu apa yang telah disediakan bagi kita, namun kita harus percaya bahwa semua itu ada dalam rencana Allah, dan yang harus kita lakukan adalah bekerja sama dengan melakukan bagian kita.

Sumber: A Scriptural Christmas Part 1 & 2 dengan penyesuaian

Advertisements

Posted on 22 December 2018, in Kitab Suci and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: