Advertisements

Lebih Dalam Lagi Memaknai Natal

(Lebih dari sekedar hari kelahiran, lebih dari sekedar emosi dan perasaan)

Oleh Bruder Silas Henderson, SDS

Bayi Yesus (Sumber: fanpop.com)

Allah beserta kita selalu bersama kita, bahkan di tengah-tengah dunia yang gelap ini dengan penderitaan orang-orang tak berdosa. Apakah kita percaya?

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah … Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:1-2, 14, Injil Misa Natal “Misa Siang”)

Tuhan berfirman: “Engkaulah Putra-Ku, hari ini Engkau Kuputrakan” (Antifon Pembuka Misa Natal “Misa Malam Natal”). Seakan-akan kalimat itu kelihatan tidak mungkin, tapi inilah pengingat yang begitu kuat bahwa ini lebih bermakna tentang perayaan Natal daripada sekedar hari kelahiran Yesus.

Setiap Natal, kita merayakan suatu kebenaran bahwa Allah menjadi manusia. Kepercayaan ini begitu penting untuk disangkal atau berusaha untuk menjelaskannya, menyangkalnya berarti melepaskan keyakinan dasar orang Kristen. Oleh sebab itu, Paus St. Leo Agung, salah seorang pengkhotbah besar tentang misteri Inkarnasi berkata demikian, “Juruselamat kita yang tercinta telah lahir pada hari ini, mari kita bersukacita.  Tidak ada tempat untuk kesedihan pada hari lahirnya Sang Kehidupan. Ketakutan akan maut telah ditelan; Sang Kehidupan membawakan kita sukacita dengan janji kebahagiaan kekal.”

Perayaan Hari Raya Natal mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna dari perkataan itu.

Satu hal untuk menyatakan perkataan itu adalah “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia” (dari Syahadat Nikea). Maka kata-kata dalam Syahadat ini perlu kita perkenankan untuk memberikan daya perubahan dalam hidup kita. Sebagaimana Kardinal Basil Hume pelajari, “Kata-katanya sederhana dan langsung, tapi maknanya sangat jauh melampaui kekuatan kita untuk memahaminya.” Kardinal Hume melanjutkan perkataannya demikian:

Bukan daging dan darah (manusia –red.) yang menuntun kita kepada kebenaran. Tapi Bapa kita yang di Surga yang memberikan kita terang-Nya untuk berkata ‘Aku Percaya’ dan dengan keyakinan (untuk mengucapkannya –red.) Sentuhan-Nya lembut. Tidak ada paksaan ketika Dia menggerakkan kita untuk berbagi pemikiran rahasia-Nya. Dialah Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita, melalui seorang Manusia yang membimbing kita ke tempat yang seharusnya kita berada, yang dibungkus dalam kasih-Nya bagi kita (The Mystery of the Incarnation, 142).

Walaupun ada sesuatu hal yang kebanyakan dari kita terima tanpa suatu pertanyaan, untuk berkata bahwa Yesus adalah Imanuel (Allah beserta kita) memerlukan suatu pernyataan iman yang mendalam dan dinamis. Namun hanya melalui iman hal itu menjadi mungkin, sama seperti para gembala dan para orang majus dari berabad-abad yang lalu, untuk berjalan bagi kita melalui kegelapan menuju palungan, bahkan ketika perang, penyakit, kemiskinan, dan kehilangan nyawa tak berdosa yang tidak masuk di akal, dapat membuat kita bertanya, “Di manakah Allah?”

Tapi bagi kita, sebagai umat beriman, merayakan Natal berarti kenyataan bahwa Allah ada di sini, hadir di tengah-tengah kita.

Akhirnya, sebagaimana Henri Nouwen menulis, Natal berarti berkata “Ya” untuk sesuatu di luar emosi dan perasaan.  Berkata “Ya” untuk harapan dan pengetahuan bahwa keselamatan adalah karya Allah, bukan karya kita:

Dunia ini tidaklah utuh … Namun ke dalam dunia yang hancur ini, seorang Anak telah lahir, yang disebut Putra Yang Mahatinggi, Raja Damai, Juruselamat. Saya memandang Dia dan berdoa, ‘Terima kasih, Tuhan, Engkau telah datang .. Hati-Mu jauh lebih besar daripada hatiku’ (The Road to Daybreak).

Bisakah Anda berkata ‘Ya’ untuk kehadiran Allah beserta kita dalam cara yang baru pada Natal ini?

Bagaimana perayaan itu memperbarui iman Anda kepada Allah dalam kasih Allah yang menjelma menjadi manusia?

Hadiah apa yang Anda persembahkan bagi Bayi Yesus pada Masa Natal ini?

Kata-kata Bijak:

“Kepenuhan waktu membawa kita bersamanya menuju kepenuhan Ilahi. Putra Allah menjadi daging sehingga manusia bisa melihat dan mengakui kebaikan Allah. Ketika Allah mengungkapkan kemanusiaan-Nya, kebaikan-Nya tidak lagi tersembunyi … Inkarnasi mengajarkan kita betapa pedulinya Allah bagi kita dan apa yang Dia pikir dan rasakan tentang kita … Benar-benar hebat dan nyata kebaikan dan kemanusiaan Allah. Dia telah mengaruniakan bagi kita bukti yang paling luar biasa dari kebaikan-Nya dengan menambahkan manusia ke dalam keilahian-Nya Sendiri.” – St. Bernard dari Clairvaux

Sumber: More than a birthday, more than emotions and feelings

Advertisements

Posted on 24 December 2018, in Kenali Imanmu and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: