Advertisements

7 Perjanjian dalam Alkitab

Oleh Chris McCarthy

Alkitab oleh Dwight Stone (Sumber: flickr.com)

Sebagian besar umat Kristiani percaya bahwa hanya ada dua perjanjian yang ditetapkan oleh Allah dalam sejarah keselamatan (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru –red.). Sebenarnya ada tujuh. Tentu saja ada pembagian utama antara perjanjian yang ketujuh dengan enam perjanjian yang dirumuskan sebelumnya (lihat Scott Hahn dalam bukunya “A Father who Keeps His Promises: God’s Covenant Love in Scripture” tersedia dalam Bahasa Indonesia terbitan Dioma –red.). Seorang penulis ternama yaitu John Bergsma, dalam bukunya “Bible Basics for Catholics” dia menunjukkan bahwa yang kita sebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu ternyata ada lebih banyak lagi kronologi dalam Perjanjian Lama dari yang kita baca sepintas lalu. Dengan demikian, satu-satunya cara untuk memahami kisah penebusan manusia adalah terlebih dahulu memahami bagaimana setiap perjanjian itu saling berhubungan dan juga bagaimana masing-masing perjanjian itu memberikan pertanda (memberikan gambaran samar-samar akan masa depan –red.) kepada perjanjian ketujuh, yaitu Perjanjian Baru di mana kita semua hidup saat ini. Namun demikian, perjanjian ini akan menggambarkan bagi kita gambaran sejarah keselamatan yang tidak memadai jika kita tidak memahami sifat dari setiap perjanjian-perjanjian itu sendiri.

Maka, apa itu perjanjian? Sebagian besar orang berpendapat bahwa perjanjian itu hanyalah suatu janji atau pakta yang dibuat antara Allah dan umat-Nya. Meskipun hal ini tentu saja salah satu aspek dalam suatu perjanjian, tapi sebenarnya ada lebih banyak lagi hal yang perlu dipertimbangkan. Menurut Bergsma, cara masyarakat Timur Tengah Kuno memahami konsep suatu perjanjian itu dalam konteks suatu keluarga besar. Menurut dia, suatu perjanjian dapat digambarkan sebagai “suatu cara yang sah untuk membuat seseorang menjadi bagian dari keluarga Anda.”[1] Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Alkitab pada dasarnya adalah kisah Allah yang berusaha untuk mendirikan suatu keluarga besar bagi Allah sendiri dengan menjangkau perhitungan waktu manusia, lagi dan lagi. Satu hal lain yang sangat penting dalam hubungan perjanjian adalah adanya konsekuensi yang akan timbul jika salah satu pihak melanggar syarat yang dalam perjanjian yang dibuat itu. Kita akan melihat konsekuensi-konsekuensi ini direalisasikan ketika kita meneliti Perjanjian Musa dan Perjanjian Daud, di antara perjanjian-perjanjian yang lainnya.

Perjanjian Adam

Setiap orang pasti tahu dengan kisah perjanjian pertama antara Allah dan manusia dalam pribadi Adam. Kita bisa temukan dalam kitab Kejadian 2:1-24[2], Bergsma menjelaskan kisah penciptaan dengan makna perumpamaan bait suci. Dengan setiap hari-hari penciptaan yang berturut-turut, Allah menambahkan lagi “batu bata” ke bait suci yang Ia bangun untuk diri-Nya sendiri dan makhluk ciptaan-Nya. Pada hari ketujuh, yang merupakan hari istirahat, Ia duduk di atas puncak penciptaan sebagai batu penjuru yang mengikat seluruh ciptaan menjadi satu. Dalam bait suci penciptaan itu, ada pula Taman Eden, semacam Tempat Maha Kudus dalam Perjanjian Daud yang juga menjadi gambaran samar-samar tentang Yerusalem Surgawi yang akan datang. Konsep alam semesta ini seperti suatu bait suci besar di mana hadirat Allah tinggal dan yang akan diungkapkan kembali dalam rancangan bait suci dalam Perjanjian Daud.

Tak lama setelah Adam diciptakan, Adam diberikan suatu posisi dengan otoritas dalam bait suci penciptaan dan diberikan tugas tertentu yang harus dilaksanakan. Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, ia harus “mengusahakan dan memelihara taman itu,”[3] ia harus memberi nama semua binatang,, dan ia harus menjadi bapak bagi semua umat manusia. Sementara itu menamai binatang mungkin tampak sebagai pekerjaan sepele, namun sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada itu. Di sini Adam diberikan suatu wewenang atas ciptaan Allah, sehingga menegaskan Adam dalam perannya sebagai raja. Mengusahakan dan memelihara Bait Allah menunjukkan bahwa Adam juga memiliki peran imamat. Dia juga menanggung beberapa unsur kenabian, karena seorang nabi pada dasarnya seseorang yang berbicara bagi Allah. Karena itu, dalam bahasa Alkitabiahnya, Adam ditunjuk sebagai “putera sulung, raja, imam, nabi, dan mempelai pria.”[4] Apakah peran-peran itu mengingatkan Anda kepada seseorang? Kitab Kejadian menggambarkan Adam sebagai gambaran Yesus Kristus, Dia yang kita ketahui sebagai Putera Tunggal Allah yang sejati, Raja Penciptaan yang sejati, dan lain sebagainya.

Tentu saja, Adam tidak memerintah sendirian dalam Bait Allah. Allah telah memberinya Hawa untuk menjadi ratu penciptaan dan yang akan menjadi “ibu dari semua yang hidup.[5]” Dalam Perjanjian Baru Ekaristis, kita melihat Hawa sebagai gambaran dari Perawan Maria yang merupakan Ratu Penciptaan yang sejati, dan yang menjadi “ibu dari semua yang hidup” secara spiritual, istilah-istilah itu dimaknai karena telah menerima rahmat pengudusan.

Pada akhirnya, apa yang membuat Adam melanggar perjanjian pertama ini? Inilah yang disebut para teolog sebagai tiga hawa nafsu berlipat (threefold lust). Dengan melihat “buah” dari Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan Jahat itu “baik untuk dimakan, dan sedap kelihatannya, dan pohon itu menarik hati karena memberi pengertian[6], ” Adam dan Hawa jatuh ke dalam hawa nafsu daging, hawa nafsu penglihatan, dan harga diri kehidupan. Penting untuk dipahami bahwa “pengetahuan” tentang yang baik dan jahat bukanlah yang tersirat di sini, melainkan tentang definisi yang baik dan yang jahat. Dalam kisah Kejatuhan Manusia, kitab Kejadian menggunakan bahasa simbolis untuk memberitahu kita bahwa Adam dan Hawa ingin mendefinisikan yang baik dan yang jahat menurut diri mereka sendiri, terpisah dari menurut Allah. Jika kita merasa hal itu tidak asing, mungkin karena umat manusia masih menderita akibat godaan sampai dengan saat ini. Ketika kita bergerak maju dalam sejarah keselamatan, kita akan melihat hal seperti itu berulang kali, setiap perjanjian dipatahkan oleh manifestasi lain dari tiga hawa nafsu berlipat dengan keinginan untuk “menjadi seperti Allah”[7] untuk mendefinisikan hal yang baik dan yang jahat menurut mereka sendiri.

Perjanjian Nuh

Dalam suatu rentang waktu yang lama setelah Kejatuhan Manusia yang terjadi di Taman Eden. Umat manusia sudah meningkat jumlahnya dan menyebar ke seluruh dunia yang sudah dijelajahi pada waktu itu. Namun, karena tercemar noda dosa yang diwariskan oleh Adam, manusia menjadi semakin sesat. Keadaan menjadi sangat buruk sehingga Allah memutuskan untuk memusnahkan umat manusia dan memulai lagi dari awal. Namun karena memperhatikan kebenaran Nuh, maka Allah memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera untuk menampung dirinya sendiri, keluarganya, dan dua ekor dari setiap jenis binatang. Hal ini cukup signifikan dalam sejarah keselamatan sebagaimana bahtera yang dibangun oleh Nuh adalah bait suci simbolis di mana ciptaan Allah harus dilestarikan dan dipulihkan. Ketika air bah surut, Nuh mengorbankan seekor anak domba (gambaran tentang Perjanjian Baru) dalam suatu tindakan imamat. Sekarang kita mempunyai sosok Kristus yang lain, seperti Adam yang adalah imam, nabi, dan raja. Senang akan persembahan Nuh, Allah mendirikan sebuah perjanjian “baru” dengan umat manusia. Perjanjian ini tercatat dalam kitab Kejadian 9:8-13, yang tertulis demikian:

Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.[8]

Tentu saja, busur biasanya digunakan sebagai senjata di dunia kuno. Jadi, apa yang kita lihat di sini adalah bahwa Allah bukan hanya mendirikan hubungan kekeluargaan yang baru dengan Nuh dan keturunannya, namun juga memperingatkan konsekuensi yang akan menimpa salah satu pihak jika perjanjian itu dilanggar. Sedihnya, perjanjian ini dilanggar tak lama setelah didirikan karena insiden kemabukan Nuh yang dicatat dalam kitab Kejadian 9:18-28. Maka insiden ini menjadi kedua kalinya manusia melanggar perjanjian dengan Allah karena tiga hawa nafsu berlipat.

Gambaran bahtera Nuh sudah lama dikaitkan dengan Gereja Katolik. Salah satu sebutan Gereja yang sering disebut adalah sebagai Bahtera Keselamatan, dengan jelas menunjukkan bahwa bahtera Nuh bukan hanya gambaran simbolis tentang Eden, namun juga gambaran awal tentang Yerusalem Surgawi yang merupakan Gereja Jaya.

Perjanjian Abraham

Setelah peristiwa Babel, ketika Allah mengacaubalaukan bahasa-bahasa untuk merendahkan umat manusia, kemudian Allah memilih seorang pria bernama Abram untuk menjadi bapak bagi sebuah bangsa baru dan besar. Allah melakukan ini untuk memberkati semua bangsa melalui Abram dan keturunannya. Janji yang dibuat Allah kepada Abraham berbentuk tiga lipat: “bangsa yang besar, nama yang masyhur, dan berkat bagi semua orang.”[9] Abram merasa ragu apakah Allah akan memenuhi janji-janji itu, dan dengan demikian seperti yang dicatat dalam kitab Kejadian 15, Allah berfirman kepada Abram untuk mengambil beberapa jenis binatang dan memotongnya menjadi dua bagian (kecuali burung –red.). Setelah Abram melakukannya, hadirat Allah turun dalam bentuk “perapian yang berasap beserta suluh yang berapi”[10] lewat di antara potongan-potongan daging itu. Abram mengerti bahwa inilah cara Allah untuk mendirikan perjanjian dengannya. Pentingnya memotong binatang-binatang itu menjadi dua bagian, terletak dalam apa yang dilambangkannya. Dengan lewat di antara potongan-potongan hewan itu, pada dasarnya Allah memberitahu Abram, “Jika Aku tidak menepati janji-janji-Ku, maka Aku mungkin juga dipotong menjadi dua bagian.”

Namun, terlepas dari gambaran umum ini, Abram mengalami keraguan besar bahwa Allah akan memberikan dia seorang keturunan walaupun istrinya Sara sudah lanjut usia. Hal ini menyebabkan kejatuhan Abram ketika dia memilih Hagar untuk menjadi istri keduanya dan mendapat seorang anak laki-laki daripadanya. Merasa kecewa dengan kurangnya iman Abram, Allah mengingatkan Abram bahwa pewarisnya seharusnya berasal dari Sara dan memerintahkan dia untuk mengusir Hagar. Allah kemudian mendirikan kembali perjanjian-Nya dengan Abram, yang mana Allah menamai dia kembali menjadi Abraham, namun dalam kondisi yang menyakitkan. Karena Abram melanggar syarat perjanjian awal, yang dibuat dengan memotong hewan-hewan, Abram akan memotong dirinya sendiri untuk memulihkan kembali hubungan perjanjian dengan Allah. Oleh karena itu, ada ritual penyunatan. Karena Itulah sebabnya setiap keturunan Abraham sampai zaman Yesus harus menjalani prosedur yang menyakitkan ini. Itulah tanda perjanjian yang tadinya sudah dilanggar tapi sekarang dipulihkan.

Seiring berjalannya waktu, Allah memenuhi keinginan Abraham untuk mempunyai ahli waris, yang dia beri nama Ishak. Ishak adalah seorang tokoh yang sangat penting dalam sejarah keselamatan, karena dia menggambarkan Kristus di Kalvari. Sebagai ujian terhadap Abraham yang sampai pada waktu itu masih lemah imannya, Allah memerintahkan dia untuk mengorbankan satu-satunya ahli waris yang sudah lama dia rindukan. Setelah belajar dari kesalahan sebelumnya, Abraham mematuhi perintah ini sampai Allah mengirimkan seorang malaikat untuk menghentikan dia di detik-detik terakhir. Kitab Kejadian[11] mencatat bahwa peristiwa pengorbanan ini terjadi di Gunung Moria.

Apa yang penting untuk dipahami di sini bukan hanya Abraham rela mengorbankan putra satu-satunya itu, namun juga bahwa Ishak sendiri tampaknya dengan rela bersikap setuju atas pengorbanan ini. Hal ini terjadi karena Abraham seorang yang tua dan lemah sedangkan pada saat itu Ishak sangat jelas bahwa dia seorang yang cukup kuat sebagaimana dikatakan bahwa dia membawa kayu untuk korban bakaran bermil-mil jauhnya ke atas gunung. Jika Ishak ingin melarikan diri dari ayahnya, maka pasti sudah dilakukan. Tampaknya tidak demikian, Ishak benar-benar gambaran Kristus dalam kesediaannya untuk mati bagi Allah, sementara itu Abraham adalah gambaran Kristus dalam tiga peran yang sama dengan Adam dan Nuh, yaitu sebagai imam, nabi, dan raja.

Perjanjian Musa

Setelah beberapa generasi berlalu, cucu Abraham yaitu Yakub diberi nama Israel oleh Allah. Pada akhirnya keturunannya akan menjadi dua belas suku Israel. Namun untuk suatu waktu, salah satu putra Israel yaitu Yusuf dijual sebagai budak di Mesir oleh saudara-saudaranya yang iri kepadanya karena Israel lebih menyayanginya, dia adalah putra dari istri keduanya, Rahel. Setelah melalui berbagai macam peristiwa yang rumit yang tercatat dalam kitab Kejadian 37-48, Yusuf dilantik menjadi tangan kanan Firaun, dan dia menyelamatkan saudara-saudaranya juga ayahnya dari tujuh tahun kelaparan hebat.

Beberapa ratus tahun kemudian di mana Musa hadir. Dia pada akhirnya membuktikan sebagai gambaran Kristus dalam peran memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan, sama seperti Kristus yang memimpin umat-Nya keluar dari perbudakan rohani dari dosa. Musa juga akan memenuhi syarat sebagai imam, nabi, dan raja sebagaimana gambaran besar alkitabiah tentang Kristus sebelum-Nya.

Setelah kelaparan berakhir, putra-putra Israel memutuskan untuk tetap tinggal di Mesir, melawan kehendak Allah bagi mereka untuk berjuang demi tanah yang telah Dia janjikan kepada Abraham. Seiring waktu berlalu, putra-putra dari Israel bertambah banyak dengan dahsyat berlipat ganda dan mereka menggabungkan diri mereka dengan masyarakat Mesir. Seberapa burukkah itu? Sangat buruk, karena bangsa Israel mengadopsi penyembahan dewa-dewa kafir dan menjadi budak orang-orang Mesir.

Menyadari perlunya membebaskan umat-Nya dari Mesir untuk memenuhi janji-Nya kepada Abraham, Allah memilih Musa sebagai alat yang melalui dirinya Allah akan memimpin bangsa Israel ke tanah terjanji. Urutan peristiwa ini bisa ditemukan dalam kitab Keluaran 1-14.

Setelah bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan, Musa naik ke Gunung Sinai, di mana Allah memberikan kepadanya Sepuluh Perintah Allah yang ditulis dalam dua loh batu. Batu itu sendiri itu memberikan ibarat betapa kerasnya hati manusia. Kerasnya hati manusia itu diperlihatkan ketika Musa kembali untuk mengambil Sepuluh Perintah Allah. Ketika Musa tidak ada, sebagian besar orang-orang sudah kembali menyembah dewa-dewa kafir Mesir. Marah oleh apa yang dilihatnya, Musa memecahkan dua loh batu itu di kaki gunung untuk melambangkan bahwa perjanjian itu baru dilanggar, dan Musa memerintahkan kepada mereka yang setia kepada Allah untuk membunuh orang-orang yang menyembah berhala. Karena suku Lewi yang melaksanakan tugas ini, Musa menyatakan bahwa sejak saat itu, imamat harus dberikapan kepada orang Lewi daripada bangsa Israel secara keseluruhan. Oleh karena itu, imamat Lewi dalam Perjanjian Lama pada zaman Yesus. Perlu juga disebutkan bahwa Yohanes Pembaptis yang membaptis Yesus di Sungai Yordan, adalah seorang Lewi.

Dengan dibunuhnya para penyembah berhala, Musa kembali menaiki Gunung Sinai dan menjadi perantara atas nama semua orang, untuk “mengingatkan” Allah akan janji-Nya kepada Abraham. Dengan demikian, perjanjian diperbarui dan dua loh batu yang kedua diberikan kepada Musa. Pada saat ini pula, Allah memerintahkan Musa untuk membangun Tabut Perjanjian sebagaimana tercatat dalam kitab Keluaran 36-37. Kemudian Tabut Perjanjian ini akan digunakan untuk menyimpan manna (Keluaran 16), tongkat Harun (Keluaran 7:18-13) dan loh batu itu sendiri. Tentu saja, Tabut itu adalah gambaran Santa Perawan Maria, sebagai bejana di mana kehadiran Allah tinggal di antara umat-Nya. Dalam tabut itu terdapat manna yang menggabarkan Ekaristi. Sayangnya, karena kekerasan hati orang-orang dan kekurangpercayaan Musa kepada Allah, bangsa Israel terpaksa mengembara di padang gurun selama 40 tahun tanpa memasuki tanah terjanji. Hanya setelah generasi asli yang dibebaskan dari Mesir mati, Allah membawa mereka ke tanah yang telah dijanjikan-Nya kepada Abraham dahulu kala. Perjanjian Musa pada dasarnya tidak berubah dari zaman penerus Musa, Yosua sampai kedatangan Raja Daud.

Salah satu perubahan signifikan yang perlu diperhatikan dalam Perjanjian Musa setelah perjanjian itu pada awalnya dilanggar adalah pengenalan akan pengorbanan binatang. Mungkin tampak aneh bagi orang-orang zaman sekarang bahwa Allah telah memerintahkan penyembelihan binatang sebagai korban. Namun alasan sebenarnya adalah suatu pengajaran. Allah ingin mengajarkan bangsa Israel untuk berhenti menyembah dewa-dewa kafir bangsa Mesir. Cara yang paling sederhana untuk meghentikan kebiasaan mereka untuk menyembah dewa-dewa Mesir adalah dengan memerintahkan bangsa Israel untuk membunuh binatang-binatang yang mewakili dewa-dewa itu. Selain itu, korban sembelihan itu juga merupakan gambaran awal tentang pengorbanan Kristus.

Perjanjian Daud

Selama beratus-ratus tahun, bangsa Israel hidup dalam “siklus dosa melawan Allah, menderita di bawah tekanan musuh-musuh mereka, menyesali dosa mereka, keselamatan di bawah pimpinan yang diutus Allah, dan kemudian siklus dosa-menderita-menyesali-keselamatan” [12] yang berulang-ulang. Pada saat inilah Allah mengirimkan “hakim-hakim” kepada orang Israel, yang bertindak sebagai penuntun atau pemimpin untuk mengarahkan mereka sesuai dengan kehendak Allah. Namun, setelah sang hakim meninggal, orang-orang Israel akan kembali ke kebiasaan lama mereka yang penuh dosa sampai ada seorang hakim lain datang untuk menggantikannya. Akhirnya pada zaman 1 Samuel 8, kita bisa menemukan bahwa bangsa Israel sudah muak dengan para hakim dan membujuk nabi Samuel untuk mengangkat seorang raja bagi mereka. Pada akhirnya, mereka tidak menginginkan seorang raja supaya mereka bisa hidup dengan lebih benar, namun hanya ingin seperti bangsa-bangsa lainnya.

Menerima permintaan mereka, Samuel mengurapi Saul sebagai raja Israel yang pertama secara literal. Tindakan pengurapan menunjukkan kita kepada “Kristus” yang berarti “yang diurapi.” Pada dasarnya, mengurapi seseorang adalah lambang otoritas dan kuasa Allah yang menyertainya. Sayangnya, Saul menjadi sombong dan egois, dengan demikian dia kehilangan hak untuk menjadi raja di mata Allah. Oleh karena itu, Allah memilih seorang gembala yang rendah hati yang bernama Daud untuk menjadi raja Israel selanjutnya. Dengan bantuan Allah kepadanya, Daud dengan cepat menaklukkan berbagai daerah di sekitar wilayah itu dan menjadikan Yerusalem sebagai ibukotanya. Di sinilah Perjanjian Daud didirikan ketika Allah menjanjikan Daud seorang putra yang akan “membangun Bait Allah, menjadi Putra Allah, dan memerintah atas Israel selamanya.” [13] Jika kita memerhatikan, Yerusalem juga berada di atas gunung, sama seperti Eden, Moria, dan Sinai. Di sinilah, Allah menjanjikan seorang putra kepada Daud dalam dua pengertian. Secara literal, putra Daud yaitu Salomo, yang akan memiliki tiga karakteristik ini, dan juga secara nubuatan, yaitu Mesias, Dia yang akan berasal dari garis keturunan Daud, yang akan memiliki pengertian yang lebih penuh dan benar.

Ironisnya, Salomo adalah hasil kejatuhan Daud ke dalam perzinahan dan pembunuhan, sebagaimana dicatat dalam 2 Samuel 11. Karena Daud melanggar perjanjian yang dia buat dengan Allah, maka kerajaannya jatuh pada kelemahan dan kekacauan selama hidupnya, bahkan sampai suatu saat Daud dikhianati oleh Absalom, yang sangat dipercaya oleh Daud. Tentu saja, pengkhianatan ini menunjukkan kita kepada pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus.

Kekuatan kerajaan Daud akan dipulihkan di bawah pemerintahan putranya, Salomo, yang bahkan dianggap oleh bangsa-bangsa kafir sebagai orang yang paling bijaksana di muka bumi, karena relasinya dengan Allah. Baik Daud dan Salomo memenuhi peran sebagai imam, nabi, dan raja, dan juga mungkin gambaran paling gamblang akan Kristus dalam semua kisah dalam Perjanjian Lama.

Patut juga disebutkan bahwa Salomo adalah gambaran Kristus, di samping itu pula peran ratu bagi ibunya, Batsyeba yang dalam hal ini sebagai gambaran Ratu Bunda Maria.

Salomo sendiri juga jatuh pada tiga hawa nafu berlipat yang mewabah pada umat manusia sepanjang ribuan tahun sebagaimana telah dicatat[14] bahwa dia telah mengumpulkan harta yang banyak sekali untuk dirinya sendiri, mempunyai sejumlah besar kuda (kekuatan militer), dan mengambil tujuh ratus istri, melawan peringatan Allah melalui para nabi-Nya.

Dengan demikian, kerajaan Salomo mulai merosot setelah kematiannya, para penggantinya adalah pemimpin yang lemah dan tidak efektif dan akhirnya memisahkan sepuluh suku Israel lainnya, yang bermigrasi ke Utara dan berbaur dengan budaya kafir. Hal ini dikenal dengan istilah Sepuluh Suku Israel yang Hilang. Yang penting untuk diingat di sini adalah Allah berjanji untuk memulihkan kerajaan Israel ketika Mesias datang. Oleh karena itu, St. Paulus dan Para Rasul mewartakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi di utara. Karena suku-suku di sebelah utara Israel sudah kawin dan mengawini orang bukan Yahudi dan juga sudah menyebar, salah satu cara untuk mengembalikan mereka adalah menginjili mereka yang bukan orang Yahudi. Dua suku Israel yang tersisa akhirnya ditaklukan dan diperbudak oleh bangsa Asyur dan Babilonia.

Perjanjian Para Nabi

John Bergsma menyebut zaman para nabi besar sebagai “perjanjian baru” yang dijanjikan kepada Israel ketika Mesias datang. Untuk menghindari kebingungan istilah ini, maka saya menggunakan istilah “Perjanjian Para Nabi.” Pada zaman ini ada suatu rentang waktu selama beberapa ratus tahun ketika bangsa Israel tersebar, diperbudak, dan berharap akan kedatangan Mesias yang dijanjikan sebagaimana yang dinubuatkan dalam Yesaya 11:1, yang berbunyi, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.” [15] Di sinilah, Allah berjanji kepada umat-Nya bahwa Dia akan mengirimkan seorang lain dari garis keturunan Daud, dan demikian bangsa Israel akan menjadi bangsa yang besar lagi.

Setelah itu, Allah mengirimkan nabi Yeremia, yang bernubuat demikian: “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir … Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan … Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.” [16] Dengan menyinggung tentang Perjanjian Daud dalam berbagai peristiwa, Allah menyiratkan bahwa inilah “perjanjian baru” dalam beberapa cara untuk pemulihan Perjanjian Daud. Karena Yesus adalah Putra Allah sejati dan “Putra Daud,” maka pemulihan ini benar adanya, meskipun dalam arti spiritual. Melalui kesalahan penafsiran tentang nubuat ini, banyak bangsa Israel merasa tertipu ke dalam pengharapan akan seorang pemimpin besar dan duniawi seperti Daud untuk menjadi Mesias, yang akan memimpin mereka dari perbudakan. Hati mereka menjadi keras karena kemungkinan bahwa Allah memaksudkan nubuat ini dalam arti spiritual bukan dalam arti material.

Ada juga banyak nubuat dalam Yehezkiel tentang kedatangan perjanjian baru: “Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka dan Aku akan meniadakan binatang buas dari tanah itu, sehingga mereka dapat diam di padang gurun dengan aman tenteram dan dapat tidur di hutan-hutan … Aku akan menurunkan … hujan yang membawa berkat.”[17] Dengan tulisan-tulisan dan peringatan-peringatan dari para nabi besar dan para nabi kecil selama “Perjanjian Para Nabi” inilah bangsa Israel memelihara pengharapan di tengah kesulitan dan perlakuan kejam kepada mereka. Karena ada nubuat lainnya yang diuraikan dalam kitab Daniel[18] mengenai jumlah hari yang akan berlalu sebelum kedatangan Mesias, pada saat kedatangan Yesus, setiap orang Yahudi di Israel bersemangat menunggu kejayaan dari seorang pemimpin militer yang besar yang akan membebaskan mereka dari orang Romawi dan secara literal memulihkan kerajaan Daud. Seperti yang kita ketahui, apa yang sebenarnya mereka terima adalah sesuatu yang sangat berbeda. Oleh karena itu, mereka menolak dan pada akhirnya yang terjadi adalah Penyaliban Mesias yang mereka nantikan begitu lama.

Perjanjian Ekaristis

Dengan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus di Kalvari, pada akhirnya Allah mengantarkan Perjanjian Baru yang Ia telah janjikan pada zaman dahulu kepada Israel melalui Yehezkiel. Setiap perjanjian yang didirikan sampai dengan titik ini hanyalah baying-bayang dari Perjanjian Baru dan Abadi ini, di mana umat manusia dipulihkan dalam hubungannya dengan Allah, dan oleh karena rahmat ilahi, manusia dimasukkan ke dalam keluarga Allah dan diberikan berkat dan hak istimewa dalam kerajaan-Nya. Gereja di Surga adalah tanah terjanji yang sejati, Yerusalem surgawi, yang mana Eden, bahtera dan kerajaan Daud hanyalah gambarannya. Bait suci yang baru dan sejati di mana Allah memulihkan umat-Nya bagi diri-Nya sendiri ialah Tubuh Kristus. Jadi, kita bisa lihat bahwa bait suci Eden, bahtera Nuh, bahkan bait suci Salomo adalah gambaran awal dari bait suci sejati yaitu Tubuh Mistik Kristus. Hal ini berkat jasa pengorbanan Kristus yang tanpa batas yang mana Tubuh-Nya adalah bait suci dan korban. Pengorbanan ini, yang berlangsung terus sepanjang masa melalui Misa, memastikan bahwa tidak ada dosa yang bagaimana besarnya akan merusak Perjanjian yang Allah tetapkan dengan darah-Nya sendiri. Jika sebagai individu, kita menderita kemalangan karena memutuskan hubungan kita sendiri dengan Allah, kita dapat bertobat dengan hanya mengaku dosa kita kepada seorang imam perjanjian baru, melalui mereka Allah memanifestasikan kehadiran-Nya di dunia, sehingga, dengan Darah Kristus yang paling berharga, kita dibersihkan dari dosa-dosa kita dan membawa kita kembali ke dalam hubungan perjanjian dengan Allah.

Kesimpulan

Kisah dalam Alkitab begitu menarik ketika kita melihat dalam konteks sejarah umat manusia dari Taman sampai ke Salib dan sampai pada akhir zaman. Ketika dijelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, pada dasarnya kisah tentang Allah itu menjangkau umat manusia berulang kali dalam persiapan sampai hari ketika Dia akan merendahkan diri dan mengambil rupa kita sendiri untuk menebus kita dari nasib yang telah kita tentukan sendiri sebelumnya. Lebih penting lagi, inilah kisah kasih Allah kepada ciptaan-Nya. Suatu kisah yang belum berakhir. Bahkan sampai saat ini, kita menunggu nubuatan untuk bergabungnya Surga dan Bumi pada akhir zaman, sebagaimana yang dicatat dalam bab-bab terakhir kitab Wahyu.[19] Pada saat inilah waktu pemulihan hubungan manusia dengan Allah akan terwujud sepenuhnya, sebagaimana jiwa-jiwa orang benar akan dipersatukan dengan tubuhnya dan diperkenankan memasuki Yerusalem Baru, yang juga digambarkan sebagai sebuah kota dan taman. Allah benar-benar puitis. Ketika kisah manusia dimulai di sebuah taman, maka kisah itu juga berakhir dalam sebuah taman.

 

Catatan Kaki:

[1] John Bergsma, Bible Basics for Catholics: A New Picture of Salvation History. Notre Dame: Ave Maria Press, 2012. 4.

[2 Alkitab Indonesia Katolik – Terjemahan Baru. Kejadian 2:1-24. ekaristi.org

[3] Ibid.

[4] John Bergsma, Bible Basics for Catholics: A New Picture of Salvation History. Notre Dame: Ave Maria Press, 2012. 25.

[5] Alkitab Indonesia Katolik – Terjemahan Baru. Kejadian 3:20. ekaristi.org

[6] Ibid, Kejadian 3:6

[7] Ibid, Kejadian 3:5

[8] Ibid, Kejadian 9:8-13

[9] John Bergsma, Bible Basics for Catholics: A New Picture of Salvation History. Notre Dame: Ave Maria Press, 2012. 46.

[10] Alkitab Indonesia Katolik – Terjemahan Baru. Kejadian 15:17. ekaristi.org

[11] Alkitab Indonesia Katolik – Terjemahan Baru. Kejadian 22. ekaristi.org

[12] John Bergsma, Bible Basics for Catholics: A New Picture of Salvation History. Notre Dame: Ave Maria Press, 2012. 86.

[13] Ibid, 93

[14] Alkitab Indonesia Katolik – Terjemahan Baru. 1 Raja-raja 11. ekaristi.org

[15] Ibid, Yesaya 11:1

[16] Ibid, Yeremia 31:31-34

[17] Ibid, Yehezkiel 34:25-26

[18] Ibid, Daniel 9:24-27

[19] Ibid, Wahyu 21-22

Sumber: 7 Covenants: The Story of the Bible”

Advertisements

Posted on January 11, 2019, in Kitab Suci and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: