Misteri Natal dalam Perspektif Yahudi

Oleh Joe Heschmeyer

Joseph’s Dream karya Rembrandt & workshop (Sumber: wikimedia.org)

Dua perikop penting dalam masa Natal adalah Lukas 1-26-38 dan Matius 1:18-25, masing-masing perikop itu menelusuri kabar malaikat tentang misteri Inkarnasi kepada Perawan Maria dan Yusuf. Kita mendengarkan kedua perikop Injil itu pada pekan Natal, dan tidak cukup sampai di sana. Kita begitu familiar dengan perikop tersebut, terkadang kita juga sangat salah memahaminya. Akibatnya, kita hampir tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kedua perikop tersebut.

Contohnya, apakah Maria dan Yusuf sudah menikah pada saat pemberitaan Kabar Sukacita? Mengapa Matius menyebut Yusuf sebagai “suami” Maria (Matius 1:19), sedangkan terjemahan umum Lukas mengenai perkataan Maria kepada Malaikat, “Aku belum bersuami” (Lukas 1:34)? Apa arti Yusuf “mengambil istrinya” dan “tidak bersetubuh dengan dia (knew her not) sampai ia melahirkan anaknya laki-laki” (Matius 1:24-25)? Dan akhirnya mengapa Yusuf bermaksud untuk menceraikan Maria, dan juga mengapa malaikat menanggapi Yusuf dengan berkata supaya tidak takut?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita perlu mempelajari membaca Kitab Suci melalui kaca mata Yahudi.

Perkawinan Yahudi memiliki dua tahapan yang berbeda, yaitu kiddushin dan nisuin. Setelah tahap pertama, seorang wanita adalah istri yang sah dari pria tersebut. Hubungan yang diciptakan oleh kiddushin hanya bisa diakhiri oleh kematian atau perceraian. Pada zaman ini, dua tahapan itu biasanya terjadi dalam satu upacara saja. Seorang pria di abad pertama memiliki waktu yang singkat (lebih dari setahun) setelah perkawinan dan mempersiapkan rumah bagi istri barunya itu. Dengan membawa istrinya ke dalam rumahnya dan memulai kehidupan perkawinan bersama (nisuin), maka proses perkawinan itu dikatakan sudah lengkap. Jadi ketika kita mendengar Yesus bersabda, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yohanes 14:2-3),” kita harus memahaminya apa adanya yaitu sebagai gambaran perkawinan. Yesus berkata kepada Gereja bahwa Gereja sudah menjadi mempelai wanita-Nya, dan hidup itu singkat bagaikan rentang waktu kiddushin dan nisuin, upacara perkawinan dan pulang bersama dalam satu rumah.

Dalam masa Natal kita sering mendengar kisah Yusuf dan Maria ini, dan istilah Maria “bertunangan” dengan Yusuf (Matius 1:18 dan Lukas 1:27) adalah terjemahan yang kurang tepat. Mereka tidak “bertunangan” dalam arti pertunangan di budaya Barat. Mereka sudah menikah secara resmi, dan sudah memiliki kebebasan dalam melakukan hubungan seksual. Itulah mengapa Yusuf bermaksud untuk menceraikannya diam-diam, karena tidak ingin mencemarkan nama Maria di muka umum (Matius 1:19). Nama Maria tidak tercemar, karena setiap orang akan berasumsi bahwa putra Maria adalah putra Yusuf (Lukas 3:23), dan sangat bisa diterima jika seseorang hamil oleh suaminya dalam masa kiddushin dan nisuin. Hal ini bukan serta merta masalah pencemaran nama. Jika Yesus dikandung di luar nikah, Ia tidak akan bisa masuk Bait Allah (Ulangan 23:2 cukup jelas menyatakan bahwa “seorang anak haram janganlah masuk jemaah Tuhan”).

Dan hal pertama yang kita perhatikan bahwa Maria dan Yusuf menikah dengan resmi, dan mereka diperkenankan untuk melakukan hubungan seksual. Yang kedua adalah untuk beberapa alasan, mereka tidak melakukan hubungan seksual. Kita bisa melihatnya dalam tanggapan Maria maupun Yusuf. Kitab Suci mencatat Maria yang bertanya kepada Gabriel, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34). Tapi bukan itu yang Maria tanyakan (sebagaimana yang baru saja kita bahas sebelumnya, Maria sudah memiliki suami). Yang sebenarnya ditanyakan Maria adalah, “Bagaimana hal itu bisa terjadi karena aku tidak bersetubuh (know not) dengan seorang pria?” Atau dalam kata lain, Maria tidak membicarakan bahwa dirinya tidak memiliki suami. Maria mengatakan bahwa dia tidak melakukan hubungan seks dengan suaminya itu. Tanggapan Maria itu merupakan tanggapan yang asing, namun tanggapan itu sesuai dengan tanggapan Yusuf sendiri. Ingat, Yusuf tahu kedua hal itu, yang pertama bahwa semua orang akan menganggap anak Maria adalah anaknya, karena mereka sudah menikah, dan yang kedua, bahwa anak itu bukan anaknya. Satu-satunya alasan yang tidak bisa dia anggap adalah dia adalah ayah dari seorang anak yang tidak dia miliki (kebalikan dari asumsi publik) hasil hubungan seksual dengan istrinya.

Tulisan Kristen mula-mula menyatakan bahwa Maria sudah mengambil semacam kaul keperawanan abadi di Bait Allah. Untuk benar atau tidaknya, kita tidak tahu banyak tentang hal ini. Namun Maria dan Yusuf diperkenankan untuk melakukan hubungan seks, namun mereka tidak melakukannya, bahkan tidak melakukannya sampai malaikat Gabriel menampakan diri. Bahkan, hal mengenai hubungan seksual, mereka tidak melakukannya sesudah tahap nisuin sekalipun, ketika mereka hidup bersama. Di sinilah segala sesuatunya menjadi sangat aneh: Matius memberi tahu kita bahwa Yusuf “mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia (knew her not) sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus” (Matius 1:24-25). Di telinga kita, “mengambil sebagai istrinya” mungkin terdengan seksual. Namun bukan begitu. Ini adalah referensi tentang nisuin, Yusuf membawa Maria ke rumahnya, dan proses perkawinan mereka dikatakan lengkap. Namun “tidak bersetubuh (knew her not)” bermakna seksual (bdk. Kejadian 4:1 dalam Alkitab RSC:CE). Maka kita mungkin bertanya-tanya, mengapa Yusuf dan Maria masih tidak melakukan hubungan seks? Tidak ada bukti bahwa malaikat menyuruh supaya mereka berdua untuk tetap hidup selibat, meskipun mereka hidup di bawah satu atap.

Orang-orang Protestan biasanya mengabaikan semua hal ini, karena mereka terpaku kepada datu kata: mengapa Matius mengatakan bahwa Yusuf “tidak bersetubuh dengan dia “sampai ia melahirkan anaknya laki-laki” (Matius 1:24-25)? Bukankan hal ini menyiratkan bahwa mereka berhubungan seks setelah kelahiran Kristus? Namun penafsiran seperti itu sangat meleset dari pandangan Matius. Apakah Matius memberi tahu kita bahwa Maria dan Yusuf berhubungan seks setelah kelahiran Kristus? Tidak, ada sesuatu yang sedang terjadi di sini. Seperti yang ditunjukkan oleh St. Hieronimus, Kitab Suci penuh dengan pernyataan-pernyaaan seperti “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu” (Yesaya 46:4) dan “Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya” (1 Korintus 15:25). Hal itu tidak berarti bahwa Allah berhenti menjadi Allah ketika Anda sudah tua, ataupun Kristus tidak akan meraja sampai kemenangan terakhir-Nya. Penulis yang diilhami hanya menggunakan kata “sampai” untuk menandari periode waktu yang penting. Dan Matius pun melakukan hal yang sama. Matius menunjukkan bahwa setelah nisuin pun, Maria dan Yusuf meneruskan untuk tidak melakukan hubungan seks. Mengapa itu penting? Karena nubuat Mesias dalam Yesaya 7:14 mengatakan bahwa seorang perawan akan “mengandung dan melahirkan” seorang anak. Jika Maria dan Yusuf melakukan hubungan seks selama masa kehamilannya, maka tidak dapat dikatakan sebagai kelahiran dari seorang perawan.

Maka hal itu menyisakan satu keeping puzzle terakhir. Matius memberi tahu kita bahwa “Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Matius 1:18-19). Mengapa Yusuf bermaksud untuk menceraikan Maria? Asumsi umum adalah Yusuf menganggap bahwa Maria sudah berselingkuh, maka dari itu Yusuf ingin bercerai, namun karena Yusuf seorang yang baik dan tidak ingin melihat Maria dirajam sampai mati, maka Yusuf akan diam mengenai hal itu. Penafsiran ini tidak begitu kuat. St. Hieronimus mencatat bahwa, jika kasusnya demikian, kita dengan kasar menyebut Yusuf “hanya” berusaha menutupi dosa, karena “Hukum Taurat memberlakukan bahwa tidak hanya pelaku kejahatannya saja, namun siapapun yang mengetahui rahasia kejahatan apapun akan dianggap bersalah.” Lebih jauh lagi, tafsiran ini membuat Yusuf bergegas menghakimi tanpa menanyakan bagaimana Maria bisa hamil. Hal semacam itu menjadi penilaian tergesa-gesa yang mungkin Anda dan saya percayai, namun tidak satu pun dari hal ini sesuai dengan apa yang sebenarnya kita ketahui tentang Maria ataupun Yusuf.

Maka, marilah kita melihat kenyataan ini dengan cara pandang yang baru. Kita baru saja menyaksikan hal itu, tidak seperti cara pandang masyarakat umumnya, Yusuf sadar bahwa Maria tetap perawan. Kitab Suci tidak memberi tahu kita alasannya, namun hal itu cukup jelas dalam tanggapan Yusuf dan Maria. Sebagai orang Yahudi yang saleh dan bijaksana, Yusuf juga akan mengetahui tentang nubuat Yesaya bahwa seorang perawan akan mengandung dan melahirkan Mesias. Yusuf juga menikah dengan Maria, dan dia pun mengenal Maria secara pribadi. Matius juga berkata bahwa Maria “ternyata mengandung dari Roh Kudus,” yang secara harfiah berarti tidak ada alasan bagi Maria untuk menyembunyikan fakta pemberitaan Kabar Gembira (Anunsiasi) dari suaminya. Yusuf tidak harus menjadi seorang ilmuwan hebat atau sarjana Kitab Suci untuk menyatukan kepingan-kepingan ini, dan menyadari bahwa Gabriel berkata kepada Maria bahwa akan menjadi seorang perawan pembawa Mesias. Hal itu luar biasa, karena Yesaya berkata bahwa Mesias akan disebut Imanuel (“Allah beserta kita”) dan juga “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 7:14, 9:6). Sebagai seorang Yahudi, Yusuf akan sangat mengenal tentang Tabut Perjanjian, begitu kudusnya sehingga Uza dibunuh karena keteledorannya untuk menyentuh Tabut itu (2 Samuel 6:7). Bayangkan jika mempelai perempuan baru Anda adalah Tabut Perjanjian, seorang wanita yang dipanggil untuk mengandung Allah yang Perkasa dalam rahimnya. Tidak ada dalam nubuat Yesaya yang menyebutkan sang bunda perawan memiliki seorang suami di dekatnya, dan menjadi hal yang menakutkan bagi siapapun yang berada di bawah satu atap dengan Tabut yang baru bagi setiap orang Yahudi yang saleh. Bahkan seorang pria yang memutuskan untuk tetap suci bersama dengan wanita itu. Itulah mengapa banyak orang Kristen mula-mula memahami tulisan itu. Contohnya, Origenes berkata bahwa Yusuf “berusaha untuk menyingkirkan Maria, karena Yusuf melihat Maria dalam sakramen yang agung, untuk mendekatinya saja dia tidak layak.”

Hal ini juga menjelaskan tentang pesan yang “mencurigakan” dari malaikat kepada Yusuf. Matius memberi tahu kita bahwa ketika orang banyak melihat Yesus menyembuhkan orang lumpuh, mereka “takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia (Matius 9:8-9). Ketakutan yang mereka alami adalah semacam kekaguman, ditambah dengan kesadaran bahwa orang itu merasa tidak layak berada di hadapan kemuliaan semacam itu. Itulah sebabnya baik malaikat maupun Kristus yang dalam keadaan mulia sering kali perlu memperkenalkan diri dengan mengatakan “Jangan takut!” (Matius 28:5, 10; Lukas 1:13, 30; Yohanes 6:20; Kisah Para Rasul 18:9, 27:24). St. Petrus memberikan contoh mengenai rasa takut yang saleh ini setelah penangkapan ikan yang ajaib, ketika dia tersungkur di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (Lukas 5:8). Yesus menjawabnya demikian, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia” (Lukas 5:10). Yesus mengakui bahwa Petrus itu tidak layak, namun dia dipilih oleh Allah untuk misi yang khusus. Kedengaran sangat mengerikan ketika kabar malaikat kepada Yusuf, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Perhatikan kabar itu, malaikat tidak berkata, “Jangan takut padaku, aku malaikat.” Sebaliknya, malaikat berkata kepada Yusuf supaya jangan takut untuk mengambil istrinya itu ke dalam rumahnya. Dari semua yang tampak, sepertinya Yusuf mempunyai ketakutan yang kudus kepada istrinya.

Gambaran Yusuf ini lebih berpandangan Yahudi, dan dapat menjelaskan mengapa Matius memandang rencana untuk bercerai sebagai bukti Yusuf sebagai “orang yang tulus hati” (Matius 1:19). Yusuf tidak tergesa-gesa menghakimi istrinya atau berusaha menutupi dosa baginya, Yusuf mengenali bahwa dalam Maria adalah perawan yang dinubuatkan itu, yang membawa Mesias yang dinanti-nantikan. Jadi ketika masa Natal, mari kita mendengarkan naskah Kitab Suci dengan cara pandang ini, bukan dengan cara pandang modern kita.

Sumber: “Through Jewish Eyes: A New Way to Understand the Advent and Christmas Scriptures”

Posted on 5 January 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: