Ajaran Gereja tentang Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi

Oleh Leon K. Suprenant Jr. dan Philip C.L. Gray

Adoración de la Sagrada Forma por Carlos II (Museo del Prado) (Sumber: stpaulcenter.com)

Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa dalam Sakramen Mahakudus Ekaristi, tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan keilahian dari Tuhan kita Yesus Kristus, yakni keseluruhan Kristus benar-benar hadir secara substansial. Ajaran ini berakar pada Kitab Suci, diajarkan para Bapa dan Doktor Gereja, dan ditegaskan kembali oleh para paus dan konsili ekumenis sepanjang sejarah Gereja. Ajaran ini dirangkum dalam Katekismus Gereja Katolik paragraf 1379-1381.

Seperti yang Yesus sendiri katakan dalam Yohanes 6:

Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia (Yohanes 6:48-51).

Pada zaman ini, banyak orang yang menerima otoritas Alkitab namun mempertanyakan apakah Yesus berbicara secara harfiah dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan Ekaristi, secara khusus pada Yohanes 6. Teks bahasa Yunani sendiri membuktikan pemahaman konstan Gereja. Dalam Yohanes 6:49, Yesus memulai pengajaran-Nya dengan terlebih dahulu merujuk pada makan manna. Ia menggunakan kata ἔφαγον (efagon) yang artinya “makan” atau “menyantap” (dalam bentuk lampau –red.). Kata kerja ini bisa digunakan secara harfiah maupun kiasan. Ia kemudian menyebut diri-Nya sebagai manna yang baru, roti hidup yang turun dari surga, barangsiapa makan roti ini akan hidup selama-lamanya. Dalam konteks ini, Ia menggunakan kata yang sama karena hubungan kiasan dengan manna.

Setelah ayat 52, ketika orang-orang Yahudi membantah ajaran-Nya, Yesus menggunakan bahasa yang lebih tegas untuk memperjelas ajaran-Nya dan menjawab keresahan mereka. Ia menggunakan dua cara. Yang pertama, Ia membuang hubungan kiasan dengan manna. Ia tidak lagi berbicara tentang “makan,” namun “makan daging dan minum darah.” Ia mengakhiri penjelasan-Nya dengan menyatakan, “Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati.” (Yohanes 6:58). Yang kedua, kemudian dalam perkataan-Nya, Yesus mulai menggunakan kata τρώγων (trogon) yang bermakna “menggerogoti” atau “mengunyah.” Kata τρώγων itu jarang digunakan secara kiasan, dan dalam konteks yang digunakan oleh Kristus secara jelas harus dipahami secara harfiah. Banyak murid yang meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Mereka baru saja menyaksikan mukjizat penggandaan roti (Yohanes 6:1-14) dan mungkin juga mendengar tentang peristiwa Yesus berjalan di atas air (Yohanes 6:16-21), namun sekarang mereka meninggalkan Yesus karena pengajaran ini (Yohanes 6:66). Reaksi mereka sama sekali tidak masuk akal jika Yesus hanya berbicara secara kiasan atau simbolis.

Bahkan yang lebih jelas lagi adalah kenyataan bahwa dalam rentang waktu seribu tahun pertama Kekristenan, ajaran Gereja tentang Kehadiran Nyata hampir secara bulat terjadi diterima oleh umat beriman Kristiani. Tak seorang pun mengajarkan bahwa kehadiran Kristus itu sekadar simbol sampai seseorang yang bernama Ratramus (meninggal tahun 868) dan seorang lagi yang lebih terkenal yang bernama Berengarius dari Tours (meninggal tahun 1088). Gereja dengan tegas menolak kedua ajaran mereka. Sebaliknya, banyak para Bapa Gereja mula-mula yang menegaskan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Sebut saja, kita punya tulisan dari St. Ignatius dari Antiokhia (wafat tahun 110), yang kesaksiannya sangat penting karena ia adalah murid dari St. Yohanes, penulis Injil yang keempat. Jika ada kebingungan mengenai tafsiran yang tepat dari Yohanes 6, tentu saja St. Ignatius yang akan memberikan klarifikasi mengenai masalah ini. Namun, ia tidak pernah menulis bahwa pada perikop itu Yesus berbicara secara kiasan. Malahan ia menulis, “Aku menginginkan Roti Allah, yang merupakan Daging Yesus Kristus.” Di tempat lain ia menulis bahwa:

“mereka yang memegang pendapat heterodoks (ajaran menyimpang/heresi –red.) mengenai anugerah Yesus Kristus yang telah datang kepada kita … tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah Darah Juruselamat kita, Yesus Kristus, Daging yang telah menderita demi dosa-dosa kita dan oleh kemurahan Bapa, dibangkitkan kembali.”

Pengajaran ini sudah berulang kali diulang oleh para Bapa, Doktor dan orang kudus Gereja selama berabad-abad. Pada abad ke-16, ketika ajaran Gereja yang tetap itu dipertanyakan oleh para reformator Protestan, Konsili Trente dengan sungguh-sungguh menegaskan kembali Kehadiran Nyata Tuhan Kita dalam Ekaristi:

“Karena Kristus Penebus kita mengatakan bahwa apa yang Ia persembahkan dalam rupa roti adalah benar-benar tubuh-Nya, maka di dalam Gereja Allah selalu dipegang teguh keyakinan ini, dan konsili suci ini menjelaskannya kembali: oleh konsekrasi roti dan anggur terjadilah perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi tubuh Kristus, Tuhan kita, dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi darah-Nya. Perubahan ini oleh Gereja Katolik dinamakan secara tepat dan dalam arti yang sesungguhnya perubahan hakiki [transsubstansiasi]” (KGK 1376)

Ketika kata-kata konsekrasi diucapkan oleh imam (lih. Mat 26: 26-29; Markus 14: 22-25; Lukas 22: 17-19; 1 Kor 11: 23-25), Kristus menepati sabda-Nya: Melalui tindakan Roh Kudus, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Di antara hal lainnya, dalam Ekaristilah kita diberi makanan dan dikuatkan dalam perziarahan Kristen kita, dan mengalami jaminan Kristus bahwa Ia akan selalu beserta kita (lih. Matius 28:20).

Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan bahwa zaman ini sedang terjadi “krisis iman” (Redemptoris Missio 2), dan terjadi penurunan kepercayaan dan penghormatan akan Kehadiran Nyata mungkin merupakan contohnya. Namun kita tahu bahwa kemampuan untuk menerima “ajaran keras” (lih. Yohanes 6:60) yang hanya bisa dimungkinkan melalui karunia iman. Seperti yang diajarkan oleh St. Bonaventura: “Tidak ada masalah mengenai kehadiran Kristus dalam sakramen dalam suatu lambang; masalah terbesarnya adalah kenyataan bahwa Ia sungguh hadir dalam sakramen, sama seperti Ia sungguh hadir di surga. Dan karenanya, mempercayai kebenaran ini patut dipuji secara istimewa” (Terjemahan dari yesaya.indocell.net).

Ketika mendiskusikan iman kita dengan umat Kristen non-Katolik, kita harus membangun kasih kita bersama kepada Kristus. Kesediaan mereka untuk mengikuti Kristus sebagai Tuhan adalah jalan penting untuk menerima ajaran Kristus tentang Ekaristi (lih. Yohanes 6:67-69). Jika Yesus itu sungguh-sungguh hadir dalam Ekaristi, maka Ia sungguh-sungguh hadir pula untuk semua. Iman dalam Kristus yang kita hayati bersama akan menuntun kita kepada kasih yang sama dalam Sakramen Mahakudus. Maka, marilah berdoa kepada Tuhan Ekaristi kita, untuk menambah iman kita sendiri dan iman semua orang, maka kita bisa bersatu sebagai saudara-saudari dalam Tuhan, dan kita bisa bersama-sama ikut ambil bagian dalam satu perjamuan surgawi.

 

Leon K. Suprenant Jr. dan Philip C.L. Gray keduanya penulis buku “Faith Facts” suatu buku serial yang terdiri dari dua buku yang menjawab pertanyaan umum tentang iman Katolik.

 

Sumber: Church Teaching on the Real Presence

Posted on 11 June 2020, in Ekaristi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: