Yesus dan Murid Yohanes Pembaptis

Oleh Dr. Brant Pitre

Ikon ‘Behold the Lamb of God’ karya Peter Murphy (Sumber: fineartamerica.com)

Dalam Yohanes 1:35-42 berbunyi demikian:

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!”

Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.

Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Ada episode hebat di sini dan banyak yang bisa bicarakan tentang itu. Saya akan menawarkan beberapa pengamatan yang menurut saya menarik dan penting. Pertama kisah ini yang patut disoroti adalah fakta kalau Yohanes Pembaptis mempunyai murid. Ini sangat penting untuk diingat. Kadang-kadang kita berpikir bahwa Yohanes Pembaptis sebagai seorang nabi yang berada di padang gurun, yang mengenakan jubah bulu unta, makanannya belalang dan madu hutan. Kita membayangkannya sebagai seorang tokoh yang suka menyendiri dan tentu saja bukan seseorang yang ingin tinggal bersamanya. Meskipun jelas, banyak orang datang kepadanya untuk dibaptis. Tetapi kenyataannya Yohanes sendiri bukan hanya seorang nabi, ia juga punya sekelompok pengikut. Ia punya sekelompok murid. Kata murid dalam Bahasa Yunani adalah mathētēs, yang berasal dari bentuk kata Yunani manthanō yang artinya belajar. Jadi secara harfiah murid artinya seorang pelajar, atau pembelajar. Maka kedua orang murid ini adalah pengikut Yohanes, mereka adalah anggota rombongan Yohanes, anggota kelompok pria Yahudi. Mungkin sebagian besar pria itu tinggal bersamanya di padang gurun, yang akan mendengarkan ajarannya, mengindahkan perkataannya, dan menerima baptisan pertobatan darinya.

Dalam hal ini, kedua murid itu belum disebutkan namanya. Sebentar lagi kita akan tahu bahwa salah satunya bernama Andreas yang merupakan saudara Simon Petrus, dan seorang murid lain tidak disebutkan namanya. Para ahli berspekulasi mengenai identitas murid yang tidak disebutkan namanya itu, banyak ahli berpikir bahwa orang itu merujuk pada si penulis Injil yaitu St. Yohanes, murid yang dikasihi, yang sering menyebut dirinya sendiri sebagai orang ketiga, dan tidak selalu mengidentifikasikan dirinya dengan eksplisit. Apakah ada cara untuk membuktikannya? Tidak, kita tidak tahu dengan pasti. Salah satu murid tanpa nama, dan seorang lagi yaitu Andreas, tapi dalam kedua kasus itu memberikan fakta bahwa Yohanes Pembaptis punya murid-murid. Jadi dalam konteks itu, ia melakukan pelayanan dan melihat Yesus dan ia memberi tahu para muridnya dengan kata lain, “Lihat …” (dalam Bahasa Yunani adalah ide) “Lihatlah Anak Domba Allah!”

Sebagai umat Katolik, kita sudah terbiasa dengan ucapan itu karena kita mendengarkannya setiap kali Misa dalam ritus komuni, setiap kali presbiter mengangkat Hosti yang sudah dikonsekrasikan, Tubuh dan Darah Kristus, ia berkata “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang dalam perjamuan-Nya,” dan kita menjawab, kemudian kita maju untuk menerima komuni. Maka kita sudah terbiasa dengan simbolisme teologis mengenai Yesus sebagai Anak Domba, yang menyerahkan nyawa-Nya untuk dosa-dosa dunia. Tapi cobalah Anda menempatkan diri dalam posisi Andreas atau para murid lainnya ketika ucapan itu diserukan. Yohanes Pembaptis menunjuk orang itu [Yesus] dan berkata, “Lihat, ada domba,” dan itulah yang ia katakan, satu ucapan aneh yang diucapkan Yohanes Pembaptis. Nah, itu salah satu contoh lain dari Yohanes Pembaptis yang menggunakan kebiasaan orang Yahudi yang suka menggunakan teka-teki dan perumpamaan untuk mengajarkan suatu misteri kepada para muridnya. Ada ada beberapa bab dalam Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis akan berkata, jika kami ingin tahu tentang Mesias, lihatlah mempelai laki-laki, karena yang empunya mempelai perempuan adalah mempelai laki-laki. Nah, itu bukan cara yang mudah untuk merujuk pada Yesus, karena Yesus tidak menikah, Yesus tidak punya seorang istri, maka itulah teka-teki, hal yang sama terjadi juga di sini.

Dalam hal ini Yohanes Pembaptis sedang melakukan alusi terhadap dua gambaran. Gambaran pertama, di Keluaran 12 tentang anak domba Paskah. Melalui korban anak domba Paskah, bangsa Israel dibebaskan dari kematian dan dibebaskan dari perbudakan Firaun di Mesir, dan mereka memulai perjalanan menuju tanah terjanji. Kemudian kurban itu dikaitkan dengan cara tertentu sebagai penebusan dosa. Anak domba Paskah memutuskan ikatan penyembahan berhala dan perbudakan Firaun. Gambaran kedua, yaitu berasal dari Yesaya 53 tentang hamba yang menderita, yang secara harfiah menanggug dosa orang banyak ke atas dirinya sendiri. Dituliskan, Ia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian. Dalam kasus ini saya pikir sebenarnya mungkin ini menjadi rujukan langsung bahwa Yohanes mengenal Yesus sebagai anak domba Paskah yang baru, tetapi juga sebagai hamba yang menderita yang akan menanggung dosa orang banyak, karena baptisan Yohanes difokuskan pada pelayanan pertobatan untuk pengampunan dosa, dan di sini ada seseorang yang adalah Juruselamat yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis dengan ucapan, “tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku (Matius 3:11),” Ia kan menjadi Juruselamat, sang pembebas.

Kembali lagi ke tentang dua orang murid, Andreas dan murid lainnya, mereka mematuhi tuannya dan mereka mulai mengikuti Yesus. Dalam hal ini, Yohanes Penginjil selalu menggunakan berbagai tingkatan makna, jadi ketika mengatakan bahwa mereka mengikuti Yesus, secara harfiah artinya berjalan di belakang Yesus. Yesus berjalan di depan, mereka berjalan di belakang-Nya. Namun, ada tingkatan yang lebih dalam lagi, yaitu saat itu menjadi awal mula bagi mereka memulai pemuridan, tidak lagi mengikuti Yohanes Pembaptis sebagai guru dan tuan, melainkan mengikuti Yesus. Kemudian, dengan maksud menjadi murid, Ia berkata, “Apakah yang kamu cari?” kata Bahasa Yunaninya sangat kuat yaitu ti zēteite, yang secara literal bermakna apa yang kamu cari-cari atau apa yang hendak kamu cari selama ini. Bayangkan dengan rudal pencari panas, rudal itu mencari dan mengikuti panas, rudal itu mengejarnya. Gambaran seperti itu yang Yesus gunakan di sini, maka pertanyaan itu bisa bermakna “apa yang sedang kamu kejar?” Kemudian mereka menjawab dengan berkata, “Rabi …” yang artinya guru dalam bahwa Ibrani, “… di manakah Engkau tinggal?” Perhatikan, bahwa murid-murid itu tidak menjawab pertanyaan Yesus tentang apa yang mereka cari, malahan bertanya di mana Engkau tinggal? Yang secara harfiah berarti di mana rumah-Mu? Di mana Engkau tinggal di malam hari? Maka Yesus menanggapi mereka, mengucapkan kedua kata ini, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Kata itu adalah undangan untuk bergabung dengannya sebagai murid, untuk datang dan melihat di mana Ia tinggal.

Sekarang ada begitu banyak hal dalam Injil Yohanes yang simbolismenya selau bertingkat-tingkat. Tapi dalam kasus ini, yang pertama adalah makna harfiah, apa yang sedang terjadi di sini? Mereka sedang bertemu dengan Yesus. Mereka bertanya kepada-Nya, mulai mengikuti-Nya, Ia berpaling dan memandang mereka dan berkata, “Apa yang kamu cari” karena jelas mereka sedang mencari Yesus. Mereka berkata, “Di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata marilah dan kamu akan melihatnya. Ia mengundang mereka untuk menjadi bagian dalam kelompok-Nya, menjadi murid-Nya, datang dan tinggal bersama-Nya, di mana pun Ia tinggal di malam hari. Itulah makna harfiah. Namun dalam tingkatan yang lebih dalam, apa yang sedang terjadi di sini? Nah, Yesus bukan hanya bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka cari atau mengapa mereka mengikuti-Nya? Ia sedang mencoba untuk membuat mereka berkata, “Apa yang sebenarnya kamu cari?” dan kita akan melihat seluruh bagian Injil selanjutnya adalah Ia yang sedang memainkan pertanyaan itu. Apa yang orang banyak cari, seperti perempuan Samaria dalam Yohanes 4, sebenarnya perempuan itu haus akan apa? Perempuan itu haus akan air kehidupan. Apa yang para murid ini cari? Jelas mereka mencari kebenaran, tetapi mereka juga sedang mencari Mesias, mencari hamba yang menderita seperti yang dikhotbahkan oleh Yohanes Pembaptis, dan sekarang mereka bertemu dengan Yesus, mereka sudah menemukan-Nya.

Tingkat makna yang lebih tinggi yang lebih menarik, yaitu ketika para murid berkata, “Di manakah Engkau tinggal?” kata Yunani yang digunakan adalah menó yang secara harfiah adalah “tinggal (to remain)” yang punya signifikansi teologis di sepanjang Injil Yohanes. Tinggal (to remain) atau tetap (to abide) menjadi tema kunci. Yesus mengatakan hal-hal berikut, barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Atau dalam Yohanes 17, Yesus berkata bahwa Ia mendoakan para murid supaya tinggal di dalam-Nya dan Ia tinggal di dalam mereka. Maka gambaran tentang tinggal berarti tetap dekat dengan Yesus, menjadi intim dengan-Nya sebagai seorang murid, sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Menariknya, dalam Injil Yohanes kita bisa melihat bahwa banyak orang percaya kepada Yesus tetapi tidak mau tinggal bersama-Nya. Dengan kata lain, orang banyak menerima pengajaran namun tidak tinggal bersama-Nya. Orang lain seperti orang Yahudi akan tinggal bersama-Nya, tapi mereka tidak percaya kepada-Nya. Maka Anda harus melakukan keduanya, yaitu percaya kepada Yesus dan tinggal bersama Yesus. Sebagai tambahan, itulah tesis yang bagus dari Romo Bryce Higginbotham yang membuat tesis di bawah bimbinga saya di seminari tempat saya mengajar, di mana ia mempelajari Injil Yohanes. Sungguh wawasan yang luar biasa tentang teologi percaya dan tinggal bersama Kristus. Maka, dalam perikop pembuka Injil Yohanes ini, bersama dengan Yohanes Pembaptis, Yesus, dan para murid-Nya lebih dari sekadar di mana mereka tinggal di malam hari. Tapi ini semua tentang pemuridan. Suatu kenyataan bahwa mereka tidak lagi menjadi murid Yohanes Pembaptis lagi, sekarang mereka menjadi murid Yesus. Supaya menjadi pengikut Yesus, maka Anda bukan hanya percaya saya, tapi “Hai, Ia adalah Anak Domba Allah” Anda harus tinggal bersama-Nya, Anda harus tetap bersama-Nya. Oleh karena itu, Yesus mengundang mereka supaya datang dan melihat, marilah dan lihatlah di mana Aku tinggal, marilah dan lihat di mana Aku menetap, supaya Anda bisa belajar hidup seperti Aku.

 Akhirnya, seperti yang sudah kita lihat, dalam Injil Yohanes Yesus tinggal di pangkuan Bapa, dan di sanalah Ia ingin para murid-Nya juga seperti murid yang dikasihi-Nya, tetap tinggal bersama-Nya.

 

Sumber: “Jesus and The Disciples Of John The Baptist”

Posted on 17 January 2021, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: