Kepemimpinan dalam Gereja Perdana

Oleh Joe Heschmeyer

Semua bukti dari abad pertama dari para penulis Kristen secara eksplisit menunjukkan pada struktur tiga tingkat (satu uskup, dibantu para presbiter/penatua, dan para diakon) di Gereja perdana atau tulisan-tulisan itu terlalu kabur untuk menarik kesimpulan yang bisa diandalkan (biasanya karena penulis tidak langsung menulis tentang kepemimpinan dalam Gereja). Kadang-kadang, buktinya lebih kabur dari yang kita kehendaki. Tapi di lain kesempatan, kita bisa memperoleh gambaran yang baik tentang suatu gereja lokal, dan kita selalu menemukan bahwa gereja itu dipimpin oleh seorang uskup yang dibantu oleh para presbiter dan diakon. Bahkanm sering kita bisa mengetahui nama-nama para uskup, presbiter dan diakon pada zaman gereja perdana. Umat Katolik bisa menerima semua bukti ini, sementara umat Protestan menolak semua bukti-bukti Katolik yang jelas ini dan sebaliknya mengandalkan argumen dari sikap bungkam.

David J. Stagaman mencatat bahwa “pada awal abad ketiga, Hippolitus bisa menerima begitu saja bahwa monoepiskopasi (satu sukup dalam satu wilayah gerejawi) ada di mana-mana dalam Gereja,” yang dapat dijelaskan hanya dengan satu dari dua cara: karena monoepiskopasi itulah yang didirikan oleh para rasul, atau karena setiap gereja di bumi mengubah struktur yang sudah ditetapkan para rasul dengan sesuatu yang lain. Dan saat ini, ada ratusan gereja. Seorang teolog sejarah bernama Margaret Miles menunjukkan bahwa “di Afrika Utara, salah satu tempat dari sedikit tempat yang punya bukti, daftar ratusan uskup abad ketiga masih ada; setiap kota kecil punya seorang uskup.”

Michael Kruger yang membuat pernyataan bahwa “gereja abad pertama sebagian besar dipimpin oleh pluralitas penatua/presbiter,” terpaksa berpendapat bahwa “pada masa tertentu di abad kedua, gereja-gereja mulai dipimpin oleh seorang uskup tunggal (sebagai lawan dari pluralitas penatua).” Dengan kata lain, mereka yang mendukung pandangan Protestan harus menceritakan kisah perubahan kepemimpinan. Bagaimana dan kenapa semua gereja ini meninggalkan struktur apostolik gereja (termasuk gereja-gereja yang secara pribadi didirikan oleh para rasul)? Dan di sini, orang Protestan menghadapi beberapa masalah. Ada satu hal, tidak ada bukti nyata kalau perubahan ini terjadi. Anda akan berpikir bahwa gereja yang menggulingkan institusi para rasul yang akan membuat adanya gerakan-gerakan, namun kita tidak melihat petunjuk kalau umat Kristen perdana berpikir sedang terjadi perubahan kepemimpinan. Kenyataannya, orang Protestan menyangkal bahwa gereja mereka sudah mengubah struktur, dan dengan bangga menunjukkan fakta kalau mereka mempertahankan apa yang mereka terima dari para rasul (berbeda dengan bidat-bidat awal, yang tidak membuat klaim semacam itu).

Teori-teori Protestan tentang Gereja perdana memerlukan tiga praduga:

  1. Umat Kristen perdana merasa bebas untuk mengubah struktur gereja yang diwariskan oleh para rasul;
  2. Ada berbagai jenis kepemimpinan gereja dalam Gereja perdana; dan
  3. Untuk alasan pragmatis, setiap gereja lokal pada akhirnya memutuskan kepemimpinan tiga tingkat yang dipimpin oleh seorang uskup (istilah teknisnya adalah monoepiskopasi).

Tapi ketika kita membiarkan umat Kristen perdana berbicara tentang mereka sendiri, kita bisa menemukan bahwa mereka tidak merasa bebas untuk mengubah struktur Gereja, atau mengadopsi struktur yang menurut mereka paling baik. Sekitar tahun 96, St. Klemens dari Roma menulis kepada gereja di Korintus (surat yang biasanya disebut 1 Klemens, meskipun inilah satu-satunya surat yang otentik darinya). Surat itu dimulai dengan cara demikian:

Gereja Allah yang singgah di Roma, kepada gereja Allah yang singgah di Korintus, kepada mereka yang dipanggil dan dikuduskan oleh kehendak Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus: Kasih karunia dan damai sejahtera yang berlimpah bagimu, dari Allah yang Mahakuasa melalui Yesus Kristus.

Saudara-saudara yang kukasihi, oleh karena berbagai peristiwa bencana yang datang tiba-tiba dan berkelanjutan terjadi pada diri kami sendiri, kami merasa agak terlambat dalam memberikan perhatian kami tentang permasalahan kamu, sehubungan yang kalian minta nasihat kepada kami; dan terutama terhadap hasutan yang memalukan dan menjijikan itu, yang sangat menjijikan bagi umat pilihan Allah, hasutan itu sudah disulut oleh segelintir orang-orang gegabah dan terlalu percaya diri sehingga membuat kegaduhan, maka nama kamu yang terhormat dan termahsyur yang sudah dinistakan layak untuk dikasihi semua orang.

Tulisan ini memberi tahu kita tiga hal penting. Pertama, Klemens menulis atas nama gereja Roma. Kedua, gereja Korintus sudah menulis surat kepada Roma (yaitu kepada Klemens) untuk menyelesaikan perselisihan internal, yang memberi kita indikasi otoritas yang sudah dimiliki gereja Roma dan uskupnya saat itu. Dan ketiga, masalah yang dihadapi gereja Korintus adalah “hasutan” yang disebut “memalukan dan menjijikan” oleh Klemens dan “sangat menjijikan bagi umat pilihan Allah.”

 

Artikel ini kutipan dari buku “The Early Church Was the Catholic Church” (Catholic Answers)

 

Sumber: “The Big Picture of Early Church Governance”

Posted on 4 April 2022, in Apologetika and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: