Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Tradisi Yudaisme dalam Misa
oleh Luka Lancaster

Aaron with lampstand (Sumber: jesusway4you.com)
Percaya atau tidak, Misa Katolik mempunyai banyak kesamaan dengan ibadah Yahudi kuno di Bait Suci.
Bangsa Yahudi kuno menyembah Allah di dalam kemah berbahan kain (“Tabernakel”) dan sebuah bait suci berbahan batu yang kokoh antara sekitar tahun 1400 SM hingga 70 M. Di dalamnya terdapat banyak perabotan aneh, seperti altar/mezbah, altar kemenyan/dupa, lampu, dan bejana air.
Dari perspektif Katolik, perabotan ini sangat cocok untuk Misa Katolik. Oleh karena itu, melihat perabotan ini dapat membantu memahami Misa dengan lebih mendalam. Namun, dari perspektif non-Katolik, perabotan ini terlihat seperti barang-barang bertahayul yang tak masuk akal. Bagi non-Katolik, dengan memahami latar belakang perabotan ini juga dapat menambah wawasan.
Pelataran luar
Di dalam pelataran luar Tabernakel dan Bait Suci terdapat dua buah perabotan suci: altar tembaga dan bejana tembaga.
Altar perunggu (Keluaran 27:1-8). Di dalam pelataran luar, terdapat altar persembahan atau altar kurban. Altar ini serupa dengan altar Katolik. Altar korban Yahudi berbentuk kotak dengan empat tanduk di ujung atasnya. Altar ini terbuat dari kayu akasia dan dilapisi perunggu. Di dalam altar terdapat api yang dinyalakan oleh Allah (Imamat 9:24). Sama seperti Allah telah menampakkan diri-Nya seperti api yang menghanguskan di Sinai, demikian pula api di altar melambangkan kehadiran-Nya di Sinai yang baru (Keluaran 24:17).
Di atas altar terdapat sebuah kisi-kisi tembaga, dan para imam akan mempersembahkan hewan-hewan mati kepada Allah dengan membakarnya di atas kisi-kisi tersebut. Tugas imam untuk “mengusahakan dan menjaga ” Tabernakel (Bilangan 3:7-8, 8:26, 18:5-6) dilaksanakan melalui persembahan-persembahan tersebut. Dua kata tersebut (mengusahakan dan menjaga) diperintahkan kepada Adam di Taman Eden (Kejadian 2:15), menunjukkan bahwa Tabernakel adalah Taman Eden yang baru.
Bejana tembaga (Keluaran 30:17-21). Di samping altar terdapat sebuah wadah air atau baskom yang disebut bejana tembaga. Bejana ini mirip dengan tempat air suci dalam tradisi Katolik. Imam-imam Harun akan membersihkan tangan dan kakinya di bejana ini sebagai bagian dari upacara pembersihan, karena mereka akan berinteraksi dengan kehadiran Allah yang tak terlihat di tempat kepunyaan Allah. Kehadiran Allah itu mematikan, dan cara untuk terhindar dari kematian adalah dengan membasuh diri mereka dengan air (Keluaran 30:20-21).
Karena seluruh area Tabernakel adalah milik Allah, maka air di dalam bejana itu disebut “air suci” (Bilangan 5:17). Allah adalah Mahakudus, yang berarti bahwa segala milik dan harta-Nya juga kudus, sehingga dengan sendirinya air itu pun kudus.
Tempat kudus
Tempat kudus Tabernakel dan Bait Suci memiliki tiga perabot kudus: kandil emas (menorah), meja sajian dari emas, dan altar emas untuk pembakaran dupa.
Kandil emas (Keluaran 25:31-40). Ada sebuah lampu minyak yang terbuat dari emas murni untuk menerangi tempat suci. Seperti lilin-lilin di samping altar dalam Misa Katolik. Menorah memiliki enam cabang berbentuk pohon, masing-masing cabang memiliki kelopak berbentuk zaitun di bagian atasnya lampu dinyalakan. Lampu ini mengingatkan Israel akan pohon kehidupan, sekaligus menggambarkan Tabernakel sebagai Taman Eden yang baru.
Setiap hari, seorang imam akan mengganti minyak dari menorah itu. Cahaya menorah itu melambangkan wajah Allah, seperti yang tercantum dalam doa imam Harun dalam Bilangan 6:25: “TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.” Enam lampu itu dapat dipindahkan, dan diarahkan ke sebuah meja yang di atasnya terdapat roti tak beragi.
Meja sajian dari emas (Keluaran 25:23-30). Di sebelah menorah emas terdapat meja emas yang di atasnya terdapat roti dan anggur. Seharusnya hubungan dengan Katolik di sini jelas, karena setiap Misa selalu menggunakan roti dan anggur. Meja Yahudi terbuat dari kayu akasia yang dilapisi emas. Di atas meja terdapat piring untuk meletakkan roti, piala dan kendi untuk anggur, serta pinggan dan piring untuk dupa.
Ada dua belas roti tak beragi, dengan setiap roti beratnya sekitar lima pon (± 2 kg), artinya ada enam puluh pon (± 27 kg) roti di atas meja. Roti tersebut melambangkan dua belas suku Israel. Imam akan mengganti roti setiap hari Sabat dan memakannya di tempat suci. Cahaya lampu dari menorah diarahkan ke meja ini, sehingga cahaya itu akan menyinari roti-roti, menandakan cahaya Allah yang menyinari Israel (Bilangan 6:25). Roti tersebut disebut “roti hadirat (bread of Presence) atau roti sajian (showbread)” (Keluaran 25:30) dan ditetapkan sebagai “perjanjian kekal” (Imamat 24:9).
Altar dupa emas (Kel. 30:1-10). Di sebelah lampu menorah dan meja terdapat altar dupa emas. Katolik juga menggunakan dupa dalam Misa. Altar dupa Yahudi terletak tepat di depan Ruang Mahakudus.
Imam Harun akan mempersembahkan dupa di altar ini satu kali sehari. Ketika masuk untuk melakukan hal ini, ia mengenakan baju efod yang pada dadanya dihiasi dengan dua belas batu. Hal ini menunjukkan bahwa ia mewakili kedua belas suku Israel. Alasan ia mempersembahkan dupa adalah karena asap yang dihasilkannya. Hal ini mengingatkan akan bagaimana Allah menampakkan diri kepada Musa di bawah kabut awan berasap di Gunung Sinai (Keluaran 24:15-18).
Penggunaan dupa di dalam Tabernakel menghadirkan kembali kemuliaan penampakan Allah (teofani) kepada Musa di Gunung Sinai bagi semua generasi. Dupa juga mengaburkan penglihatan sang imam sehingga ia tidak melihat Allah yang maha kudus, dan hal itu juga melambangkan kenaikan umat manusia ke gunung kudus Allah di surga.
Ruang Mahakudus
Ruang Mahakudus adalah tempat di mana Allah bersemayam di dalam awan (Imamat 16:2), dan hanya imam besar (Harun) yang boleh masuk ke dalamnya. Di dalam tempat yang paling kudus ini hanya terdapat satu perabot saja, dan perabot itu adalah yang paling penting di antara semuanya.
Tabut Perjanjian (Keluaran 25:10-22). Di dalam Ruang Mahakudus terdapat sebuah peti emas dengan dua patung malaikat yang dipasang di bagian atasnya. Tutup atau bagian atas datar dari tabut itu disebut tutup pendamaian. Tabut itu terbuat dari kayu akasia dan dilapisi emas.
Di dalam tabut itu terdapat dua loh batu yang dibawa Musa dari Gunung Sinai (Sepuluh Perintah Allah), tongkat Imam Besar Harun yang berbunga, dan sebuah tempayan emas berisi manna yang turun dari surga (Ibrani 9:4).
Tabut ini dianggap sebagai tempat yang paling kudus, bukan hanya Tabernakel, tetapi seluruh dunia. Sebab sebagaimana Allah berbicara dari puncak Gunung Sinai dalam bentuk awan, demikian pula tempat yang paling kudus itu ditutupi oleh awan Allah. Allah berfirman, “Di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau [Musa]; dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub di atas Tabut Hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel” (Keluaran 25:22 TB2). Perabotan ini dapat disamakan dengan tabernakel Katolik yang menyimpan Ekaristi di setiap gereja Katolik.
Tabernakel sangat penting bagi bangsa Israel. Tabernakel menjadi tempat kediaman Allah sebagai Taman Eden dan Gunung Sinai yang baru. Umat Katolik tidak sekadar mengada-ada ketika mereka memiliki perabotan yang sama dengan umat Yahudi.
Pelajari lebih lanjut tentang hal-hal ini dalam buku karya cendekiawan Protestan L. Michael Morales, Who Shall Ascend the Mountain of the Lord? A Biblical Theology of the Book of Leviticus.
Sumber: “The Jewish Mass”
Posted on 29 November 2025, in Ekaristi and tagged Ekaristi, Misa Kudus, Perjanjian Lama, Yahudi. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0