Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Inkarnasi Sang Firman Menurut Bapa-bapa Gereja

Palungan Kosong (Sumber: chnetwork.org)
Masa Adven dan puncaknya dalam perayaan agung Natal merupakan pengingat tahunan bagi kita akan realitas yang menjadi landasan iman kita sebagai seorang Kristiani: bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran” (Yohanes 1:14 TB2).
Sejak awal mula Kekristenan, para pemikir terkemuka sepanjang sejarah Gereja sudah merefleksikan tentang inkarnasi; berikut ini adalah beberapa pemikiran mereka tentang misteri yang kita rayakan bersama sebagai satu Gereja di penghujung tahun ini:
“Tuhan mengambil rupa seorang hamba supaya manusia dapat berbalik kepada Allah. Pencipta dan Penduduk surga tinggal di bumi supaya manusia dapat naik dari bumi ke surga. Firman Bapa, oleh-Nya segala waktu diciptakan, menjadi daging dan lahir dalam waktu bagi kita. Dia, tanpa persetujuan-Nya yang ilahi, tidak ada hari yang dapat menyelesaikan jalan-Nya, Ia menghendaki satu hari [yang dikhususkan ] untuk kelahiran-Nya sebagai manusia.”
St. Agustinus dari Hippo (354-430), Khotbah 191
“Kristus telah lahir: muliakanlah Dia. Kristus datang dari surga: marilah kita keluar untuk menyambut-Nya. Kristus turun ke bumi: marilah kita diangkat ke tempat yang tinggi. Biarlah seluruh dunia menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan; biarlah langit bersukacita dan bumi bergembira, demi Dia yang dahulu berada di surga dan kemudian turun ke bumi. Kristus ada di sini dalam rupa manusia: marilah kita bersukacita dengan rasa takut dan sukacita—dengan rasa takut karena dosa-dosa kita; dengan sukacita karena harapan yang Ia bawa kepada kita.”
St. Gregorius dari Nazianzus (329-390), Khotbah 3
“Inilah Allah kita, inilah Kristus, yang sebagai perantara dari kedua-Nya, mengambil rupa manusia agar Ia dapat membawa mereka kepada Bapa. Apa yang dikehendaki Kristus mengenai nasib manusia, begitu pula supaya manusia juga dapat menjadi seperti Kristus.”
St. Siprianus dari Kartago (210-258), Traktat VI
“Firman menjadi daging melalui pemuliaan daging, bukan karena kelemahan Keilahian: yang demikian rupa mengatur kuasa dan kebaikan-Nya sehingga memuliakan kodrat kita dengan menerimanya, dan tidak kehilangan kodrat-Nya sendiri dengan memberikannya … dan bagi setiap orang ketika ia dilahirkan kembali, air baptisan seperti rahim Perawan Maria; sebab Roh Kudus yang sama memenuhi air baptisan, yang juga memenuhi Perawan Maria, supaya dosa yang dihancurkan oleh konsepsi suci itu dapat dihapuskan oleh pembasuhan mistis ini.”
Paus Santo Leo Agung (391-461), Khotbah 24
“Kemuliaan bagi Sang Sabda yang menjadi Tubuh, dan bagi Firman Yang Mahatinggi yang menjadi Daging! Dengarkanlah Dia, hai telinga, dan lihatlah Dia, hai mata, dan rasakanlah Dia, hai tangan, dan makanlah Dia, hai mulut! Hai anggota tubuh dan indra, pujilah Dia yang datang dan menghidupkan seluruh tubuh! Maria melahirkan Bayi yang sunyi, sementara di dalam-Nya tersembunyi semua bahasa! Yusuf mengasuh-Nya, dan di dalam Dia tersembunyi kodrat yang lebih tua dari zaman purbakala! Yang Mahatinggi menjadi seperti anak kecil, dan di dalam-Nya tersembunyi harta kebijaksanaan yang cukup untuk semua … Laut ketika melahirkan-Nya menjadi tenang dan damai, dan bagaimana pangkuan Yusuf dapat melahirkan-Nya? Rahim alam maut mengandung-Nya dan pecah terbuka, dan bagaimana rahim Maria dapat mengandung-Nya? Batu yang menutupi kubur dipecahkan-Nya dengan kuasa-Nya, dan bagaimana lengan Maria dapat menggendong-Nya? Engkau datang ke keadaan yang rendah, supaya Engkau dapat membangkitkan semua ke hidup! Kemuliaan bagi-Mu dari semua yang dibangkitkan oleh-Mu! Siapakah yang mampu berbicara tentang Putra dari Dia yang Tersembunyi yang turun dan mengenakan Tubuh di dalam rahim?”
St. Efrem Orang Suriah (306-373), Tentang Kelahiran, Kidung 3
“Apa yang harus kukatakan! Dan bagaimana aku harus menggambarkan Kelahiran ini kepadamu? Sebab keajaiban ini membuatku takjub. Yang Lanjut Usia telah menjadi bayi. Dia yang duduk di atas Takhta yang mulia surgawi, kini berbaring di palungan. Dan Dia yang tak dapat disentuh, yang sederhana, tanpa kerumitan, dan tak berwujud, kini berbaring di bawah kuasa tangan manusia… Untuk itu, Ia mengambil tubuhku, agar aku dapat menerima Firman-Nya; dengan mengambil dagingku, Ia memberikan Roh-Nya kepadaku; dan dengan demikian, Ia memberikan dan aku menerima, Ia mempersiapkan bagiku harta kekayaan Kehidupan. Ia mengambil dagingku untuk menguduskanku; Ia memberikan Roh-Nya kepadaku agar Ia dapat menyelamatkanku.”
St. Yohanes Krisostomus (347-407), Homili tentang Kelahiran
Posted on 19 December 2025, in Bapa Gereja, Kenali Imanmu and tagged Inkarnasi, Natal, St. Agustinus, St. Efrem Orang Suriah, St. Gregorius dari Nazianzus, St. Leo I Agung, St. Siprianus dari Kartago, St. Yohanes Krisostomus. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0