Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Lagu Liturgis yang Harus Dihindari
oleh Trent Horn

Ilustrasi (Sumber: catholic.com)
Salah satu hambatan dalam liturgi modern adalah lagu-lagu penyembahan yang tidak mencerminkan keindahan dan kebenaran iman.
[Catatan: Artikel ini membahas lagu liturgi di Amerika Serikat, namun bisa menjadi bahan yang bisa kita pelajari dan menjadi panduan untuk memilih lagu liturgi di Indonesia]
Salah satu hambatan dalam liturgi modern adalah lagu-lagu penyembahan yang tidak mencerminkan keindahan dan kebenaran iman. Dalam kasus terburuk, lagu-lagu ini merongrong iman melalui syair-syair yang meragukan bahkan menyesatkan. Bahkan para uskup di Amerika Serikat mempunyai satu dokumen tentang hal ini yang berjudul “Catholic Hymnody at the Service of the Church: An Aid for Evaluating Hymn Lyrics (Kidung Pujian Katolik dalam Ibadat Gereja: Alat Bantu untuk Mengevaluasi Syair Lagu Pujian).”
All Are Welcome (Semua Orang Disambut)
Satu lagu pujian yang menjadi studi kasus yang sangat baik dalam mengimplementasikan pesan dokumen ini adalah “All Are Welcome” karya Marty Haugen, yang pernah dilarang di beberapa keuskupan.
Setiap kali Anda mengatakan “All Are Welcome” adalah sebuah lagu pujian yang buruk, Anda akan dituduh sebagai orang yang tidak ramah. Lagu ini terdengar seolah-olah kita sedang berusaha merekrut orang-orang ke dalam kelompok kita untuk meningkatkan keanggotaan, bukannya mengajak orang untuk bertobat dan menerima kurban kudus Ekaristi. Berikut ini adalah sepenggal syairnya:
Let us build a house (Marilah kita mendirikan sebuah rumah)
Where love can dwell (Tempat kasih bersemayam)
And all can safely live (Dan semua orang tinggal dengan aman)
A place where (Suatu tempat di mana)
Saints and children tell (Para kudus dan anak-anak berbicara)
How hearts learn to forgive (Bagaimana hati belajar mengampuni)
Built of hopes and dreams and visions (Didirikan dari harapan, impian, dan visi)
Rock of faith and vault of grace (Batu karang iman dan kubah rahmat)
Here the love of Christ shall end divisions (Di sinilah kasih Kristus mengakhiri perpecahan)
Nyanyian rohani tersebut terus mengulang-ulang kalimat “let us build a house,” yang terdengar seolah-olah kita yang berdosa mendirikan Gereja dan bukannya Gereja yang membentuk kita. Komite doktrin USCCB setuju dengan hal ini dan menyebut lagu pujian ini tidak dapat diterima berdasarkan alasan eklesiologis.
Lagu ini juga terdengar seolah-olah Allah telah wafat di kayu salib dan sekarang terserah kepada kita untuk mengembangkan Gereja, jadi kita harus memastikan bahwa setiap orang merasa “disambut.” Bagi sebagian orang yang menyukai lagu ini, itu berarti tidak mengajarkan apa pun mengenai hal-hal seperti seksualitas yang dapat mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang harus mereka tolak, karena dengan demikian mereka akan merasa tidak diterima.
Lagu-lagu Pujian yang Buruk dan Ekaristi
Tetapi lagu pujian itu menjadi semakin buruk ketika lagu itu menggambarkan Ekaristi, sumber dan puncak iman kita:
Let us build a house where love is found (Marilah kita membangun satu rumah tempat kasih berada)
In water, wine and wheat (Dalam air, anggur dan gandum)
A banquet hall on holy ground (Ruang perjamuan di atas tanah suci)
Where peace and justice meet (Di mana kedamaian dan keadilan berjumpa)
USCCB mengatakan, “Seseorang yang sering menyanyikan lagu ini pasti akan mengalami kesulitan untuk menganggap bahwa Ekaristi dapat dipahami sebagai kurban dan memang dilakukan sebagai penyembahan kurban atau dilakukan dalam arti sebagai ‘kurban.’”
Sebaliknya, lagu tersebut sama seperti banyak lagu pujian yang buruk, memperlakukan Ekaristi sebagai sebuah perjamuan bersama yang bertujuan untuk mengumpulkan kita di satu tempat, yang dari sana kita akan keluar dan melakukan pekerjaan-pekerjaan keadilan sosial atau semacamnya.
Sesungguhnya, alasan yang paling umum mengapa sebuah lagu pujian secara teologis buruk adalah karena lagu pujian tersebut mempromosikan sebuah pandangan yang keliru tentang Ekaristi. Komite doktrinal USCCB memberikan tiga prinsip untuk menjaga agar lagu-lagu pujian tidak mengarah pada kesesatan dalam memahami Ekaristi:
- Bahasa yang menyiratkan bahwa unsur-unsurnya masih berupa roti dan anggur setelah dikonsekrasi harus dihindari.
- Bahasa yang menyiratkan bahwa roti dan anggur, tetaplah roti dan anggur, hanyalah simbol dari realitas atau pribadi yang lain harus dihindari.
- Penggunaan bahasa puitis harus sesuai dengan kebiasaan penggunaan dalam Kitab Suci dan Tradisi liturgi. “Roti,” “Roti Hidup,” dll. adalah sinekdoke kitab suci untuk Ekaristi itu sendiri, dan oleh karena itu diperbolehkan.
Sinekdoke adalah kiasan yang menggunakan sebagian untuk merujuk pada keseluruhan. Sebagai contoh, jika seorang perwira militer berkata, “Kami memiliki lima puluh pasang sepatu bot untuk misi,” maksudnya adalah ada lima puluh prajurit untuk misi itu, dan sepatu bot itu mewakili seluruh prajurit. Demikian juga, sebuah nyanyian pujian dalam beberapa kasus dapat menggunakan kata “roti” untuk merujuk pada seluruh realitas Ekaristi, yang hanya memiliki penampakan roti. Namun, seperti yang dikatakan oleh USCCB,
“anggur” tidak digunakan dengan cara yang sama, dan menyebut unsur yang dikonsekrasikan sebagai “anggur” memberi kesan bahwa itu masih anggur. Akibatnya, hal ini berdampak pada cara kata “roti” dipahami, sehingga penggunaan kata “roti” yang benar dipahami secara berbeda, bukan sebagai sinekdoke untuk Ekaristi secara keseluruhan, tetapi sebagai referensi untuk unsur yang tetap berupa roti. Kitab Suci berbicara tentang “cawan/piala,” bukan tentang “anggur” (lihat 1 Korintus 10.16-17).
Beberapa lagu pujian yang melakukan kesalahan ini termasuk “God Is Here!” yang mengatakan, “Here as bread and wine are taken, Christ sustains us as from past (Disini, saat roti dan anggur diambil, Kristus menghidupi kita seperti dahulu kala),” dan “Three Days” yang mengatakan, “The dead do not rise, yet he walks among us, and with our own eyes, we’ve seen him at this table, we’ve shared his bread and wine (Orang mati tidak bangkit, namun ia berjalan di antara kita, dan dengan mata kita sendiri, kita telah melihatnya di meja ini, kita telah berbagi roti dan anggur-Nya).”
Lagu All Are Welcome (Semua Orang Disambut) adalah Lagu tentang Kita
Ciri umum lainnya dalam sebagian besar lagu-lagu ini adalah bahwa semuanya tentang kita. Kita bernyanyi tentang betapa baiknya diri kita, bagaimana Allah memakai kita, atau apa yang kita ingin Allah lakukan untuk kita, bukan semata-mata menyanyikan pujian kepada Allah yang Mahakuasa. “All Are Welcome” memberikan penekanan pada kita yang hadir di gereja. Hal ini sangat menonjol dalam nyanyian pujian Haugen yang terkenal lainnya, “Gather Us In”:
We are the young, our lives are a mystery (Kami adalah orang muda, hidup kami adalah misteri)
We are the old who yearn for your face (Kami adalah orang tua yang merindukan wajah-Mu)
We have been sung throughout all of history (Kami sudah dinyanyikan di sepanjang sejarah)
Called to be light to the whole human race (Dipanggil untuk menjadi terang bagi seluruh umat manusia)
Saya mengisi waktu sepanjang minggu dengan mendengar tentang orang muda dan orang tua dan semua orang dalam kehidupan ini yang menganggap diri mereka begitu penting. Apakah terlalu berlebihan jika saya meminta selama satu jam dalam seminggu, saya hanya bernyanyi tentang keagungan Allah, yang hampir tidak pernah dibicarakan oleh masyarakat kita?
Banyak nyanyian rohani yang buruk pada dasarnya adalah risalah humanis yang dibungkus dengan bahasa rohani. Pesan mereka adalah bahwa Allah seharusnya membantu kita untuk bersikap baik terhadap satu sama lain dan tidak membuat marah siapa pun, terutama lewat pembicaraan tentang agama.
Seni yang Buruk Melukai Iman
Dalam episode sebelumnya di kanal saya (The Counsel of Trent) tentang mengapa kaum liberal menyukai seni yang buruk, saya mengatakan bahwa itu karena seni yang buruk membuat kita mengagungkan sifat-sifat manusiawi, seperti meruntuhkan ekspektasi, sedangkan seni yang benar-benar indah mengangkat kita ke arah yang ilahi. Hal yang sama juga berlaku untuk musik yang dangkal dan jelek: musik membuat kita fokus pada diri kita sendiri alih-alih mengangkat kita kepada yang ilahi. Itulah mengapa Konsili Vatikan II mengatakan, “Gereja memandang nyayian Gregorian sebagai nyayian khas bagi Liturgi Romawi. Maka dari itu – bila tiada pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting – nyayian Gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara Liturgi” (Sacrosanctum Concilium 116).
Ironisnya, nyanyian-nyanyian penyembahan yang berfokus pada pemuliaan Allah dan menunjukkan ciri-ciri objektif dari musik yang indah akan menarik bagi semua orang dan membuat mereka tahu bahwa kita sebagai manusia terinspirasi untuk mengejar yang benar, yang baik, dan yang indah, bahwa “semua orang diterima” di dalam ruang sakral ini.
Posted on 15 September 2026, in Ekaristi and tagged Liturgi, Misa Kudus, Partisipasi Aktif. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0