Misa adalah Kurban: Makna Re-presentasi Kalvari

oleh Clement Harrold

Holy Sacrifice of the Mass – A painting inside the chapel of St. Benedict’s Monastery in Corte, Carmen, Cebu, Philippines karya Jun Rebayla (Sumber: flickr.com)

Kebanyakan umat Protestan, bahkan sebagian umat Katolik, masih bingung dengan pengertian bahwa Misa Kudus adalah kurban peringatan yang menghadirkan kembali (re-presentasi) kurban tunggal Kristus di kayu salib. Apa sebenarnya makna ajaran ini, dan di mana kita dapat menemukannya dalam Kitab Suci? Kita akan membahas pertanyaan ini dengan merenungkan misteri tersebut dalam tiga tahap yang berbeda.

Tahap Pertama: Perjamuan Malam Terakhir dan Salib Berkaitan

Langkah pertama ini adalah sesuatu yang seharusnya dapat disepakati bersama oleh semua orang Kristen. Dalam Injil Lukas, Yesus mengungkapkan betapa Ia sangat merindukan perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama kamu, sebelum Aku menderita” (Lukas 22:15 TB2). Mengapa perjamuan malam Paskah terakhir ini begitu penting di mata Yesus? Jelas hal itu karena apa yang Ia rencanakan untuk dilakukan pada saat perjamuan itu:

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku.” Demikian juga dilakukan-Nya dengan cawan sesudah makan. Ia berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Lukas 22:19-20 TB2).

Pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus mengambil roti dan anggur, kemudian secara eksplisit merujuk pada salib dengan mengguakan bahasa kurban yang mengisyaratkan bagaimana Tubuh-Nya akan diserahkan dan Darah-Nya ditumpahkan demi para murid-Nya.

Dalam Injil Yohanes, kita juga melihat hubungan antara Perjamuan Malam Terakhir dan salib. Perayaan Paskah dimulai dengan peristiwa Yesus membasuh kaki para murid-Nya—suatu tindakan yang sangat erat kaitannya dengan Ekaristi—serta pengumuman bahwa Kristus mengasihi para pengikut-Nya “sampai pada kesudahannya” (Yohanes 13:1). Frasa Yunani yang digunakan Yohanes di sini adalah eis telos, dan kita akan mendengarkan ungkapan itu lagi ketika Yesus tergantung di salib: “Sudah selesai [tetelestai]” (Yohanes 19:30). Dengan cara ini, Yohanes menggambarkan hubungan sastra yang halus namun tegas antara peristiwa di ruang atas dan misteri salib.

Dan terakhir, terdapat kesaksian St. Paulus, yang menyatakan dalam suratnya kepada jemaat Korintus: “Sebab, anak domba Paskah kita,yaitu Kristus, juga telah disembelih. Karena itu marilah kita berpesta” (1 Korintus 5:7-8 TB2). Jelaslah bahwa bagi Paulus terdapat hubungan yang sangat kuat antara perayaan Ekaristi dan kurban Kristus di Kalvari. Kita akan membahas kembali tema ini di pembahasan selanjutnya.

Tahap 2: Yesus Benar-benar Hadir dalam Ekaristi

Bukan hanya umat Katolik, tetapi juga umat Kristen Ortodoks Timur dan bahkan cukup banyak umat Protestan yang sepakat bahwa Yesus benar-benar dan secara substansial hadir dalam Ekaristi. Pandangan ini dengan suara bulat dipercaya oleh para Bapa Gereja awal, yang menegaskan bahwa ketika Yesus berkata, “Inilah Tubuh-Ku,” Ia sungguh-sungguh bermaksud demikian.

Demikian pula, ketika Yesus menyampaikan pengajaran tentang roti hidup dalam Yohanes 6, kita melihat Dia dengan tegas menyatakan bahwa para pengikut-Nya harus memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya jika mereka ingin mengambil bagian dalam hidup-Nya:

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab, daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yohanes 6:53-56 TB2)

Inti dari hal ini adalah bahwa ketika Yesus mengambil roti dan anggur pada Perjamuan Malam Terakhir, benda-benda sederhana buah tangan manusia ini sungguh-sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Dan karena Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk melakukan hal yang sama sebagai peringatan akan diri-Nya, ajaran Gereja sejak semula mengimani misteri yang sama terjadi pada setiap Misa: melalui kata-kata imam yang bertindak atas nama Kristus, roti dan anggur yang ditempatkan di atas altar menjadi Tubuh dan Darah Juruselamat kita.

St. Paulus membahas hal ini dalam satu bagian penting: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1 Korintus 10:16 TB2). Demikian pula, sudah sejak awal mula di tahun 110 M, kita bisa melihat karya St. Ignatius dari Antiokhia yang menulis kepada umat di Smirna dan mengutuk para bidat yang “tidak mengakui Ekaristi sebagai tubuh Juruselamat kita Yesus Kristus yang telah menderita karena dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan kembali oleh Bapa karena kebaikan-Nya” (bab 7).

Tahap 3: Misa adalah Kurban Peringatan/Kenangan

Hal ini membawa kita pada bagian ketiga dan paling rumit dari renungan kita. Kini kita perlu mengembangkan dua poin sebelumnya untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana Misa adalah kurban peringatan. Pertama-tama, mari kita simak apa yang dikatakan Katekismus mengenai hal ini:

Ekaristi juga satu kurban, karena ia suatu kenangan akan Paska Kristus. Sifat kurban ini sudah nyata dalam kata-kata Tuhan: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu,” dan “cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20). Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, “yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa (Mat 26:28).” (KGK 1365).

Jadi, Ekaristi adalah satu kurban, karena ia meragakan kurban salib (dan karena itu menghadirkannya), Ekaristi adalah kenangan akan kurban itu dan memberikan buah-buahnya (KGK 1366).

Di sini, Katekismus menekankan pentingnya fakta bahwa Yesus dengan sengaja menetapkan Ekaristi dalam konteks perjamuan Paskah Yahudi, dan Perjanjian Baru secara eksplisit menggambarkan kurban Yesus di kayu salib sebagai kurban Paskah yang baru dan lebih agung. Semua ini penting karena jika perayaan Paskah Yahudi merupakan kurban peringatan, maka kita pun mengharapkan perayaan Kristen memiliki makna yang sama.

Perhatikan perintah Allah kepada bangsa Israel pada Paskah yang pertama: “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya” (Keluaran 12:14 TB2). Jika Paskah hanya berakhir dengan wafat Sang Kristus, maka perintah Allah untuk merayakan peringatan itu selamanya akan menjadi perintah yang mustahil. Namun, kita tahu bahwa hal itu tidak mustahil, karena Allah telah memberikan Misa kepada kita, yang merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari Paskah yang pertama.

Di sini kita harus ingat bahwa Paskah Yahudi jauh lebih dari sekadar peringatan atas suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sebagaimana disadari oleh bangsa Yahudi selama berabad-abad, Paskah yang pertama memiliki makna yang abadi sehingga menjadi realitas masa kini bagi semua generasi selanjutnya. Inilah sebabnya mengapa orang-orang Yahudi bukan hanya membaca kitab Keluaran setiap tahun saat Paskah tiba. Sebaliknya, mereka mempersembahkan seekor domba atau kambing baru setiap tahun agar dalam arti tertentu mereka dapat menghadirkan kembali dan menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa Paskah yang pertama. Di setiap waktu dan tempat, seorang bapak Yahudi dapat berkata kepada anaknya bahwa ia merayakan Paskah “karena semua yang TUHAN perbuat kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir” (Keluaran 13:8 TB2). Atau dengan kata-kata Mishnah, “Di setiap keturunan, seseorang wajib menganggap dirinya sendiri yang sedang keluar dari Mesir.”

Meskipun Paskah Yahudi dalam arti tertentu adalah kurban peringatan, Paskah Kristen (atau yang dikenal sebagai Misa) merupakan kurban peringatan dalam arti yang jauh lebih mendalam. Sebagaimana telah kita lihat, hal ini dapat terjadi karena di dalam Misa, Tubuh dan Darah Yesus benar-benar hadir di atas altar. Sementara itu, Perjamuan Paskah yang dirayakan Kristus pada Perjamuan Terakhir mengantisipasi dan menunjuk ke masa yang akan datang pada kurban-Nya di kayu salib, kini perayaan Ekaristi memperingati dan menghadirkan realitas Kristus yang adalah Anak Domba Paskah yang baru dan sempurna. Anak Domba Paskah inilah yang hadir di atas altar, di mana Tubuh dan Darah-Nya dipisahkan secara sakramental dalam rupa roti dan anggur, sama seperti keduanya dipisahkan secara fisik pada saat kematian-Nya yang menyelamatkan. Inilah sebabnya mengapa St. Paulus dapat berkata, “Sebab, setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Korintus 11:26 TB2).

Katekismus memberikan sudut pandang yang membantu tentang makna abadi dari pengorbanan Kristus di kayu salib:

Di dalam liturgi Gereja, Kristus menyatakan dan melaksanakan misteri Paska-Nya. Selama hidup-Nya di dunia Yesus menyatakan dalam ajaran-Nya misteri Paska dan mengantisipasinya dalam tindakan-Nya. Dan setelah saat-Nya tiba (Bdk. Yoh 13:1; 17:1), ia mengalami peristiwa sejarah satu-satunya yang tidak akan hilang: Yesus wafat “satu kali dan untuk selama-lamanya” (Rm 6:10; Ibr 7:27; 9:12), dimakamkan, dibangkitkan dari antara orang mati, dan duduk di sebelah kanan Bapa. Peristiwa yang sungguh terjadi dalam sejarah kita ini, bersifat unik: semua peristiwa yang lain terjadi satu kali, lantas berlalu, terbenam dalam masa lampau. Sebaliknya misteri Paska Kristus tidak dapat tinggal dalam masa lampau, karena oleh kematian-Nya Ia mengalahkan maut. Segala sesuatu yang ada pada Kristus dan segala sesuatu yang Ia lakukan dan derita untuk semua manusia, mengambil bagian dalam keabadian Allah, dengan demikian mengatasi segala zaman dan hadir di dalamnya. Peristiwa salib dan kebangkitan adalah sesuatu yang tetap dan menarik segala sesuatu menuju kehidupan (KGK 1085).

Dari sudut pandang Katolik, kurban Salib dan kurban Ekaristi adalah satu kurban yang sama. Mengapa? Dalam kedua kasus tersebut, Kristuslah yang menjadi kurban dan imam (dalam Misa, Yesus bertindak melalui pelayan imamat-Nya). Dengan demikian, Ekaristi adalah kurban peringatan yang menghadirkan kembali kurban Salib secara sakramental dan tanpa pertumpahan darah, sehingga buah-buahnya dapat dirasakan sepanjang sejarah.

Bagi kebanyakan umat Protestan, pernyataan ini mungkin terasa membingungkan, terutama mengingat Surat kepada Orang Ibrani yang berulang kali menekankan sifat “satu kali untuk selama-lamanya” dari kurban Sang Kristus (lihat Ibrani 9:12, 26; 10:10, 12, 14). Tentu saja, posisi Katolik tidak menyangkal sifat sekali untuk selama-lamanya dari kurban Sang Kristus, sama seperti perayaan Paskah Yahudi tidak menyangkal sifat sekali untuk selamanya dari peristiwa-peristiwa asli Keluaran. Untuk memahami posisi Katolik, kita dapat memikirkan analogi yang bermanfaat dengan matahari: matahari terbit tidak menciptakan matahari baru, melainkan hanya menghadirkan satu-satunya matahari pada waktu dan tempat yang baru. Demikian pula, Misa tidak menciptakan kurban baru—Yesus tidak mati lagi pada setiap Misa, karena Ia telah mengalahkan maut dan tidak dapat mati lagi—melainkan menghadirkan satu-satunya kurban Kristus di tempat ini dan pada saat ini.

Pemahaman ini membantu kita memahami apa yang terjadi dalam Perjanjian Baru. Mengapa Kitab Wahyu menggambarkan Yesus di surga sebagai Anak Domba yang telah disembelih (lihat Wahyu 5:6, 11-14), jika bukan untuk menekankan kebenaran bahwa pengorbanan-Nya di kayu salib adalah suatu realitas yang terus berlanjut? Demikian pula, Surat Ibrani dengan sangat jelas menyatakan bahwa imamat Yesus adalah imamat yang berlanjut selamanya menurut tata cara Melkisedek (lihat Ibrani 5:6, 10; 6:20; 7:17, 21; bandingkan Mazmur 110:4). Tidak hanya itu, tetapi Ia terus menjadi perantara bagi umat-Nya:

Banyak jumlah mereka yang telah menjadi imam, karena akibat maut mereka dicegah untuk tetap menjabat imam. Namun, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu, Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab, Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibrani 7:23–25 TB2; bdk. 9:24).

Teologi Katolik memandang perikop dari Surat Ibrani ini dengan sangat serius. Bahkan saat ini pun, Yesus Sang Anak Domba yang telah disembelih dan menang jaya, berada di surga untuk menjadi perantara bagi kita kepada Bapa. Bahkan saat ini pun, Ia bertindak sebagai Imam Besar yang sempurna dan kekal. Dan itulah sebabnya Misa begitu bermakna. Dalam setiap Misa, Yesus bekerja melalui imam untuk menghadirkan diri-Nya di atas altar sehingga Gereja-Nya dapat mempersembahkan persembahan terbesar yang dapat dibayangkan—persembahan Tubuh dan Darah-Nya sendiri, yang diserahkan bagi dunia—kembali kepada Bapa. Dengan demikian, Misa menjadi kurban pujian yang sempurna yang secara terus-menerus memuliakan Allah dan menghapus dosa dengan terus-menerus menghadirkan karya penyelamatan dari Dia yang telah mengasihi kita sampai akhir.

 

Bacaan lebih lanjut:

 

Clement Harrold meraih gelar master dalam bidang teologi dari Universitas Notre Dame pada tahun 2024, dan gelar sarjana dalam bidang teologi, filsafat, dan studi klasik dari Universitas Fransiskan Steubenville pada tahun 2021. Dia seorang kolumnis untuk The Catholic Herald, dan tulisannya juga dimuat di First Things, Word on Fire, Church Life Journal, Our Sunday Visitor Magazine, Crisis Magazine, dan Washington Examiner.

 

Sumber: “What Does Re-Presentation of Calvary Mean?”

Posted on 16 June 2026, in Ekaristi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.