Hari Pentakosta, Ada Apa?

oleh Jimmy Akin

Burning Torch in the Night . at black background (Sumber: catholic.com)

Berbahasa lidah? Mendengar bahasa lidah? Apa sebenarnya “bahasa lidah” itu?

Pada hari Pentakosta, Lukas menceritakan,

Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, tempat mereka duduk. Tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan (Kisah Para Rasul 2:2-4 TB2).

Ini adalah salah satu dari beberapa referensi tentang berbahasa lidah dalam Alkitab. Hal ini disebutkan beberapa kali dalam Kisah Para Rasul, dan pembahasan utamanya di luar Kisah Para Rasul terdapat dalam 1 Korintus 12-14.

Pada abad kesembilan belas, istilah glossolalia digunakan untuk merujuk pada fenomena berbicara dalam bahasa-bahasa (bahasa Yunani, glóssa = “lidah” dan lalia = “ucapan”). Namun, pada abad kedua puluh, istilah ini menjadi perdebatan mengenai sifat dari bahasa-bahasa yang dimaksud.

Dalam gerakan Pentakosta dan Karismatik, kadang-kadang diyakini bahwa “glossolalia” bukanlah bahasa manusia yang sesungguhnya, melainkan “bahasa doa pribadi” yang dimampukan oleh Allah untuk diucapkan oleh seseorang.

Akibatnya, sebagian orang mulai menyebut kemampuan berbicara dalam bahasa asing secara ajaib sebagai xenosglosia (bahasa Yunani, xenos = “orang asing, pendatang” dan glóssa = “lidah”).

Apa yang sebenarnya terjadi pada hari Pentakosta?

Jelaslah bahwa peristiwa-peristiwa yang disaksikan para murid itu disebabkan oleh Roh Kudus, karena mereka mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain “seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.”

Suara angin yang dahsyat dan bergemuruh menandakan kedatangan Roh Kudus, dan “lidah-lidah api” (yakni, kobaran api individu) yang hinggap di atas setiap orang menandakan pemberian kuasa untuk berbicara dalam bahasa lidah. (Sungguh suatu kebetulan yang indah bahwa kobaran api maupun bahasa dapat disebut sebagai “lidah.”)

Lalu, bagaimana dengan bahasa-bahasa yang mulai mereka ucapkan? Bahasa apa saja?

Arti umum dari frasa “lidah-lidah lain” adalah bahasa asing—yakni, bahasa-bahasa selain bahasa Aram yang sudah dikenal para murid sejak lahir.

Hal ini ditegaskan oleh naskah yang selanjutnya berbunyi, “Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berbicara dalam bahasa mereka sendiri” (Kisah Para Rasul 2:5-6 TB2).

Artinya, para murid itu tidak berbicara dalam bahasa doa pribadi, melainkan dalam bahasa-bahasa duniawi yang ada atau dalam bahasa-bahasa asing yang sudah dikenal oleh masyarakat Yahudi.

Namun, beberapa orang berpendapat justru sesuatu yang berbeda terjadi dalam peristiwa itu. Dengan berfokus pada pernyataan bahwa “masing-masing mendengar orang-orang percaya itu [para rasul]” berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri, ada yang berpendapat bahwa hal ini sebenarnya merupakan “mukjizat pendengaran” bukan sebagai mukjizat berbicara.

Dengan kata lain, para murid tetap berbicara dalam bahasa Aram, bahasa asli mereka, tetapi orang-orang yang mendengarkan mereka mendengarnya dalam bahasa asli mereka masing-masing.

Gagasan ini memang kreatif, tetapi penafsirannya kurang tepat. Kata “mendengar” konsisten dengan gagasan bahwa para murid secara ajaib berbicara dalam bahasa asing, sekaligus dengan gagasan bahwa orang banyak secara ajaib mendengar bahasa asing.

Lagipula, jika salah seorang murid secara ajaib berbicara dalam bahasa Latin, maka salah seorang pengunjung dari Roma (2:10-11) tentu saja akan mendengarnya berbicara dalam bahasa Latin. Dengan demikian, kata “mendengar” tidak membuktikan bahwa satu tafsiran lebih benar daripada yang lain.

Oleh karena itu, kita perlu mundur selangkah dan melihat bagaimana naskah ini memaknai mukjizat tersebut, dan di sinilah kita mendapatkan jawabannya. Lukas secara tegas menyatakan bahwa para murid “mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain.”

Lukas memandang mukjizat itu terjadi pada pihak para murid—bukan pada pihak orang banyak. Mukjizat terjadi begitu para murid mulai berbicara; ia tidak menggambarkannya sebagai sesuatu yang dimulai ketika orang lain mulai mendengar apa yang dikatakan para murid.

Fakta bahwa perikop ini dan beberapa perikop lain dalam Perjanjian Baru menyebut mukjizat tersebut sebagai “berbicara dalam bahasa-bahasa” alih-alih “mendengar dalam bahasa-bahasa” secara kuat menunjukkan bahwa mukjizat tersebut adalah mukjizat berbicara.

Hal ini juga disebutkan dalam 1 Korintus 12. Paulus membedakan antara karunia berbicara dalam bahasa lidah dan karunia menafsirkan bahasa lidah (12:10, 30), dan dalam 1 Korintus 14:5-19, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa berbicara dalam bahasa lidah tidak dapat dipahami begitu saja. Hal itu membutuhkan seseorang yang mampu menafsirkan bahasa lidah tersebut, sehingga hal ini bukanlah mukjizat pendengaran.

(Ada yang berpendapat bahwa “berbicara dalam bahasa lidah” yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul berbeda dengan yang disebutkan dalam 1 Korintus, tetapi hal ini tidak tepat secara eksegetis. Jika memang demikian, maka Lukas dan Paulus—yang merupakan rekan sekerja—tidak akan menggunakan istilah yang sama untuk dua fenomena yang berbeda.)

Dengan demikian, kita memiliki bukti yang sangat kuat bahwa pada hari Pentakosta, para murid secara ajaib diberi kemampuan (melalui “lidah-lidah api” itu) untuk berbicara dalam bahasa-bahasa dunia nyata yang sebenarnya tidak mereka kuasai.

Hal ini tidak berarti bahwa Roh Kudus tidak dapat memberikan karunia-karunia karismatik lain yang berkaitan. Pada tahun 2016, Kongregasi (sekarang Dikasteri) untuk Ajaran Iman menerbitkan sebuah dokumen berjudul Iuvenescit Ecclesia yang menyatakan bahwa, meskipun ada beberapa daftar karunia karismatik dalam Perjanjian Baru, “tidak ada satu pun dari daftar ini yang dinyatakan sebagai daftar yang lengkap” (6) dan bahwa “tidak pernah ada kekurangan berbagai karisma yang berbeda yang muncul dalam perjalanan sejarah Gereja” (9), termasuk karisma-karisma yang menginspirasi gerakan-gerakan baru.

Oleh karena itu, saya tidak mempermasalahkan gagasan bahwa karunia-karunia karismatik baru diberikan pada zaman-zaman baru. Jika Allah ingin melakukan mujizat pendengaran atau memberikan bahasa doa pribadi dalam sejarah Gereja pada masa-masa selanjutnya, itu terserah kepada-Nya.

Hanya saja, hal itu bukanlah yang digambarkan Lukas terjadi pada hari Pentakosta.

 

Sumber: “What Happened on Pentecost?”

Posted on 30 May 2026, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.