Advertisements

Beato Alexius Kim Si-u

Beato Alexius Kim Si­-u (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Alexius Kim Si­-u (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: 1783
  • Tempat Lahir: Cheongyang, Chungcheong-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Bujangan dari keluarga kelas bangsawan
  • Usia: 33 tahun
  • Tanggal Kemartiran: Mei (atau Juni) 1815 (Penanggalan Lunar)
  • Tempat Kemartiran: Daegu, Gyeongsang-do
  • Cara Kemartiran: Meninggal dalam tahanan

Alexius Kim Si-u dipanggil juga dengan nama ‘Si-hoe’ atau ‘Si-u-jae’, dia lahir pada tahun 1782 di sebuah keluarga bangsawan di Cheongyang, Chungcheong-do. Dia seorang yang memiliki sifat yang baik dan lembut, dan juga dia seorang yang pintar. Dia tidak dapat menikah karena bagian tubuh sebelah kanannya  lumpuh. Dia juga seorang yang miskin karena sulit baginya untuk bekerja karena kondisi fisiknya.

Pada awal hidupnya, Alexius Kim menerima iman Katolik yang diwartakan di kampung halammannya saat itu. Menghidupi kehidupan beriman sebagai seorang Katolik, dia mengajarkan ajaran Katolik kepada saudarinya. Kapanpun jika memungkinkan, dia akan menjelaskan doktrin kepada sesama umat Katolik, dan juga dia berusaha untuk memberitakan Injil kepada orang yang bukan umat beriman. Karena dia miskin, kadang-kadang dia harus hidup dari amal dari sesama umat Katolik. Dia sering menulis ulang buku-buku agama dengan tangan kirinya, dan kemudian menyebarkannya kepada umat beriman. Dengan cara ini dia dapat mengumpulkan sedikit uang.

Kemudian Alexius Kim meninggalkan kampung halamannya untuk pindah ke Desa Kristen di Meorusan di Jinbo (sekarang, Posan-dong, Seokbo-myeon, Yeongyang-gun, Gyeongbuk). Suatu hari, ketika masa Penganiayaan Eulhae pada awal tahun 1815, polisi menyerbu desa dan menangkap seluruh umat Katolik, kecuali Alexius Kim. Dia menyerahkan diri dengan sukarela dan mengikuti mereka. Dikatakan bahwa dia meminta agar dia juga ditangkap, dengan menangis, karena dia ingin pergi bersama dengan sesama umat beriman dengan berkata, “Saya juga seorang Katolik. Mengapa Anda tidak menangkap saya? Apakah karena saya seorang cacat?”

Alexius Kim dibawa ke Andong dimana dia diinterogasi dan disiksa berkali-kali, namun dia menahan semuanya itu dengan iman kepada Tuhan yang tak tergoyahkan. Imannya yang taat dan kuat cukup membuat dia mendapatkan pujian dari penjaga penjara. Bahkan ketika tubuhnya dipelintir, dia mencoba untuk mewartakan doktrin utama agama Katolik kepada penganiaya. Begitulah cara Alexius Kim mengakui imannya kepada Tuhan. Dia dipindahkan ke Daegu bersama sesame umat Katolik. Dia diinterogasi lagi dan dia menjelaskan tentang kebenaran agama Katolik. Dia dengan berani berkata kepada gubernur:

“Yesus Kristus kami telah disalibkan dan wafat di Kayu Salib untuk menyelamatkan semua jiwa di dunia ini termasuk Anda. Sehingga Anda juga, Tuan Gubernur, harus berterima kasih kepada-Nya, menyembah dan menghormati Dia, dan menjadi seorang Katolik.”

Gubernur memerintahkan agar dia disiksa dengan lebih kejam dan agar rahangnya dipatahkan sehingga dia tidak dapat lagi membuka mulutnya. Kemudian gubernur menulis surat hukuman mati, dan meminta dia untuk menandtanganinya kemudian memasukkan dia ke penjara sekali lagi. Surat hukuman matinya adalah sebagai berikut:

“Kim Si-u menjadikan dirinya sebagai seorang pengkhotbah agama Katolik. Dia selalu mempelajari dan mewartakan doktrin Katolik kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan menghafalnya juga, bukan hanya Sepuluh Perintah Allah namun juga Tujuh Kemenangan (Metode Kristiani untuk melindungi diri dari tujuh dosa pokok) yang hanya dapat dihafal oleh segelintir orang. Dia juga berdoa Rosario. Hal ini tidak perlu dijelaskan lagi bahwa dia terobsesi dengan agama Katolik. Mengenai buku-buku agama, dia hanya dengan samar-samar mengakui dimana tempat buku-buku itu disembunyikan, namun dia tidak pernah berkata kepada siapa buku-buku itu diberikan.”

Selama di penjara, Alexius Kim tidak makan ataupun mencari makanan untuk dimakan, karena dia tidak dapat membuat tali sepatu jerami seperti yang dilakukan tahanan lain untuk menukarkannya dengan makanan. Dia meninggal karena kelaparan dan siksaan kejam di penjara Daegu. Pada saat itu sekitar bulan Mei atau Juni tahun 1815. Alexius Kim saat itu berusia 33 tahun.

Untuk waktu yang lama orang Katolik Korea mengingat dan membicarakan mengenai kesalehan, bakat, kecakapan dalam berkhotbah, dan keberanian demi nama Tuhan. Beberapa orang Katolik yang mendengar tentang dia memandang dia sebagai sebuah berkat bagi Gereja Katolik di Korea.

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on March 15, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: