Advertisements

Beato Simon Kim Gang-i

Beato Simon Kim Gang-­i (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Simon Kim Gang-­i (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: 1765
  • Tempat Lahir: Seosan, Chungcheong-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Pemimpin awam dari keluarga kelas menengah
  • Usia: 50 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 5 Desember 1815
  • Tempat Kemartiran: Wonju, Gangwon-do
  • Cara Kemartiran: Meninggal dalam tahanan

Simon Kim Gang-i juga disebut dengan nama ‘Yeosaeng’, dia lahir di Seosan, Chungcheong-do di keluarga kelas menengah dia kemudian menjadi seorang Katolik ketika dewasa. Dia memiliki sikap yang mulia dan berani, serta dia menjadi kaya. Ketika dia menjadi seorang Katolik, dia meninggalkan kampung halamannya, menyerahkan kekayaan dan hamba-hambanya, dan kemudian dia pergi ke Gosan, Jeolla-do untuk tinggal bersama keluarga dari adik laki-lakinya, Tadeus Kim Chang-gwi.

Ketika Pastor Yakobus Zhou Wen-mo melakukan kunjungan pastoralnya ke Gosan pada musim panas tahun 1795, Simon Kim mengunjungi dia berkali-kali untuk menerima Sakramen dan belajar Katekismus. Selama Penganiayaan Shinyu pada tahun 1801, dia dicari oleh polisi, sehingga dia harus bersembunyi dengan cara bepergian dari satu tempat ke tempat lain selama satu tahun.

Sementara itu, istrinya ditangkap oleh polisi dan dipenjarakan selama satu tahun. Dia dibebaskan setelah membayar sejumlah uang dalam jumlah yang besar kepada polisi. Ketika penganiayaan selesai, Simon Kim menjadi seorang pedagang keliling dan mengabdikan diri untuk mewartakan Injil. Ketika dia menyadari bahwa kehidupan sebagai pedagang keliling tidak membantu kehidupan imannya, dia meninggalkannya dan pergi ke Meorusan di Jinbo, Gyeongsang-do (sekarang, Posan-dong, Seokpo-myeon, Yeongyang-gun, Gyeongbuk) dan dia membentuk sebuah desa Kristen disana. Setelah itu, dia melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya dia menetap di Uljin, Gangwon-do.

Simon Kim ditangkap ketika Penganiayaan Eulhae yang terjadi pada tahun 1815 di Gyeongsang-do, bersama adiknya Tadeus dan keponakannya Andreas Kim Sa-geon, setelah mereka dilaporkan secara rahasia oleh mantan hambanya. Mereka dipenjarakan di Andong. Simon Kim  dengan berani pergi menuju kepala petugas dan meminta dia untuk mengembalikan harta dia yang sudah disita. Anehnya, kepala petugas mengabulkan permintaannya tanpa alasan. Sehingga, Simon Kim dapat membuang hartanya dan menyediakan makanan untuk umat beriman di penjara yang menderita kelaparan.

Simon Kim menjadi sasaran interogasi yang kejam, ketika dia berada di penjara Andong, namun dia tetap teguh dalam imannya. Kemudian pada bulan Mei, dia dipindahkan ke Wonju, Gangwon-do bersama adiknya. Disana pula dia harus menjalani interogasi dan siksaan yang kejam. Adik laki-lakinya menjadi lemah dan menyangkal agamanya. Namun demikian, Simon Kim tidak menyerah dibawah hukuman apapun.

Iman yang kuat dan daya tahan yang dinyatakan oleh Simon Kim, menggerakan hati semua orang. Kemudian gubernur menyadari bahwa tidak mungkin untuk membuat dia menyerah, dia memvonis dia hukuman mati dan melaporkannya kepada istana untuk mendapatkan persetujuan dari raja untuk melakukan eksekusi. Berikut ini adalah laporannya:

“Kim Gang-i menyebarkan agama ini dengan rahasaia dan menyebarluaskan buku-buku Katolik. Dia belajar doktrin Katolik untuk beberapa tahun dan sangat terlibat dengan agama ini. Jadi, saya menyarankan Anda untuk memperbolehkan saya untuk melakukan eksekusi sesuai dengan hukum.”

Tak lama kemudian, raja menerima vonis hukuman mati dan memberikan izin untuk melaksanakannya. Pada saat itu, bagaimanapun juga Simon Kim sudah sangat kelelahan dan sangat menderita dari luka-luka siksaan. Selain itu, dia tidak dapat menggerakan satu jari pun karena disentri yang ia derita selama di penjara. Akibatnya, dia meninggal di penjara sebelum perintah raja sampai kepada gubernur. Pada saat itu tanggal 5 Desember 1815 (5 November pada penanggalan Lunar). Pada saat itu usia Simon Kim lebih dari 50 tahun.

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on March 23, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: