Advertisements

Beato Yakobus Kim Hwa-chun

Beato Yakobus Kim Hwa-­chun (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Yakobus Kim Hwa-­chun (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: Tidak diketahui
  • Tempat Lahir: Cheongyang, Chungcheong-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Umat awam
  • Usia: Tidak diketahui
  • Tanggal Kemartiran: 19 Desember 1816
  • Tempat Kemartiran: Daegu, Gyeongsang-do
  • Cara Kemartiran: Dipenggal

Yakobus Kim Hwa-chun lahir di Sudani, Cheongyang, Chungcheong-do (sekarang, Sinwang-ri, Sayang-myeon, Cheongyang-gun, Chungnam), dia tinggal di Cheongra-dong, Boryeong (sekarang, Cheongra-ri, Cheongra-myeon, Boryeong-gun, Chungnam). Petrus Kim Dae-gwon yang menjadi martir di Jeonju pada tahun 1839 adalah kakaknya.

Yakobus Kim memiliki sifat yang sederhana dan sabar. Dia dan kakaknya mempelajarai Katekismus dari ayahnya sejak usia muda. Ketika dia tumbuh dewasa, dia melayani Tuhan dan mengabdikan dirinya untuk keselamatan jiwa-jiwa dengan cara yang luar biasa. Dia dengan setia mempelajari ajaran Gereja, berdoa, dan membaca Alkitab. Dia adalah seorang teladan bagi umat beriman lainnya. Dia kemudian pindah ke Cheongsong, Gyeongsang-do, demi mencari kebebasan beragama yang lebih leluasa.

Ketika Penganiayaan Eulhae pada tahun 1815, polisi dari Gyeongju menyisir daerah Cheongsong untuk mencari umat Katolik. Yakobus Kim ditangkap bersama dengan umat Katolik lainnya, dan kemudian mereka dibawa ke Gyeongju. Dia menolak seluruh godaan dari kepala pejabat dengan keteguhan hati, dan mengatasi hukuman berat dengan iman kepada Tuhan yang tak tergoyahkan. Dari Gyeongju dia dipindahkan ke Daegu bersama dengan Petrus Ko Seong-dae dan Barbara Ku Seong-yeol dan kemudian mereka dipenjarakan.

Setelah beberapa bulan di penjara Daegu, Yakobus Kim dibawa menghadap gubernur dan menjalani interogasi dan siksaan berat. Walaupun semua cobaan itu, dia tidak pernah menunjukkan ketakutan, dan dengan kokok menjaga imannya kepada Tuhan. Akhirnya, gubernur menyerah dalam mencoba membuat dia menyangkal agamanya, dan menjatuhi dia hukuman mati. Berikut ini adalah surat hukuman matinya:

“Kim Hwa-chun mempelajari tentang agama Katolik dari ayahnya. Mereka  telah melakukan kejahatan besar dari generasi ke generasi. Karena kebodohan dan ketidaktahuan, mereka mendengar ajaran Katolik dengan telinga mereka dan menghafalnya dengan mulutnya. Mereka sangat percaya akan perkataan jahat itu. Walaupun hukuman dan siksaan yang berulang kali, dia bersumpah untuk mati bagi Tuhan tanpa penyesalan sedikitpun. Kejahatan dan kedengkian dia sangat ekstrim.

Yakobus Kim harus tinggal di dalam penjara untuk waktu yang lama. Dengan perintah dari raja, dia dipenggal dan meninggal sebagai martir di Daegu bersama dengan sesama umat Katolik lainnya pada tanggal 19 Desember 1816 (1 November pada penanggalan Lunar).

Jenazahnya dimakamkan di dekat tempat eksekusi. Pada tanggal 2 Maret pada tahun berikutnya, beberapa kerabat dan umat beriman memakamkan mereka kembali di tempat yang layak.

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on April 2, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: