Advertisements

Beata Teresia Kwon Cheon-rye

Beata Teresia Kwon Cheon-rye (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beata Teresia Kwon Cheon-rye (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: 1783
  • Tempat Lahir: Yanggeun, Gyeonggi-do
  • Gender: Wanita
  • Posisi/Status: Pasangan perawan dari keluarga kelas bangsawan
  • Usia: 36 tahun
  • Tanggal Kemartiran: Setelah 10 Agustus 1819
  • Tempat Kemartiran: Seoul
  • Cara Kemartiran: Dipenggal

Teresia Kwon adalah putri dari Fransiskus Xaverius Kwon Il-sin, salah satu Bapak Pendiri Gereja Katolik di Korea yang penting. Dia adalah adik perempuan dari Sebastianus Kwon Sang-mun yang menjadi martir pada tahun 1801 ketika Penganiayaan Shinyu. Teresia Kwon lahir di Yanggeun pada tahun 1784. Ibunya meninggal ketika dia masih berusia enam tahun, dan ayahnya meningga ketika Penganiayaan Sinhae pada tahun 1791.

Bahkan sebagai seorang anak-anak, Teresia Kwon unggul dalam kebajikan dan iman. Ketika dia tumbuh dewasa, dia mencoba untuk membangun kasih persaudaraan dan damai diantara saudaranya dengan penuh kelembutan dan amal kasih. Seluruh keluarganya harus menanggung kesulitan dan hidup serba kekurangan karena Penganiayaan Shinyu yang terjadi ketika dia berusia 18 tahun.

Tanpa seorangpun yang dapat dia andalkan di dunia ini, Teresia Kwon memutuskan untuk pergi ke Seoul bersama keponakannya dan hidup sebagai perawan bagi Tuhan. Kemudian kerabatnya datang menemui dia dan mencoba membujuk dia dengan berkata, ‘Hidup sebagai seorang wanita yang tidak menikah dalam masyarakat Korea adalah hal yang sangat sulit.’ Akhirnya, dia menerima permohonan mereka dan dia menyerah dari gagasan hidup sebagai seorang perawan, dan kemudian dia menikah dengan Petrus Jo Suk pada usia 20 tahun. Pada saat itu, Petrus Jo Suk tidak menjalankan agamanya.

Pada malam pertama pernikahan mereka, Teresia Kwon menulis sepucuk surat kepada suaminya, memohon kepadanya untuk hidup sebagai pasangan selibat bagi Tuhan. Petrus Jo yang sangat tersentuh oleh surat itu, dia kemudian menerima permohonannya. Dalam waktu yang singkat, iman Petrus Jo kembali lagi dan dia berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda. Sejak saat itu, Teresia Kwon dan suaminya hidup sebagai kakak beradik. Dari hari ke hari, iman mereka tumbuh semakin dalam sebagaimana mereka mengabdikan diri mereka dalam doa dan meditasi. Mewartakan Injil dan pengorbanan menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Walaupun mereka miskin, mereka dengan murah hati membantu orang-orang yang membutuhkan, dan menjaga kaul kemurnian mereka selama lima belas tahun. Kapanpun suaminya tergoda untuk membatalkan janjinya, Teresia Kwon mendorong dia dengan lembut supaya dia tetap setia.

Teresia Kwon dan suaminya membantu Santo Paulus Jeong Ha-sang dengan setiap cara apapun yang dapat mereka lakukan, kapanpun dia pergi ke Beijing untuk mengudang imam. Barbara Ko, seorang janda, tinggal bersama mereka dan juga membantu mereka. Setelah Santo Paulus Joeng pergi ke Beijing, polisi mencari Petrus Jo dan menemukan dia sebagai seorang Katolik, dan kemudian menangkap dia. Mereka menyerbu rumah Teresia Kwon dan mengambil Petrus Jo. Teresia Kwon mengakui bahwa dia seorang Katolik dan dia dibawa ke penjara bersama suaminya dan Barbara Ko. Pada saat itu sekitar bulan Maret 1817.

Ketika interogasi dimulai, hakim menggoda dan mengancam Teresia Kwon dan suaminya supaya mereka menyangkal agama mereka dan memberitahukan umat beriman lainnya. Mereka menolak dan menanggung siksaan berat. Ketika hakim mencoba membujuk Teresia Kwon untuk mengkhianati Tuhan, dia menjawab sebagai berikut:

“Tuhan kami adalah Bapa bagi semua manusia dan Penguasa seluruh ciptaan. Bagaimana saya dapat menyangkal-Nya? Ketika seseorang mengkhianati orang tua mereka, mereka tidak dapat diampuni. Sehingga, bagaimana saya dapat mengkhianati Tuhan yang adalah Bapa semuanya?”

Hakim kembali melakukan interogasi dan siksaan, namun menyadari bahwa hakim tidak dapat membuat dia menyerah. Dia memerintahkan agar mereka dimasukkan ke dalam penjara. Di penjara, Teresia Kwon berdoa dan menunggu dengan sabar supaya kehendak Tuhan segera selesai. Kapanpun suaminya menjadi lemah, dia mendorong dia dengan berkata, “Mari kita bersyukur kepada Tuhan kita akan rahmat kemartiran.”

Teresia Kwon, suaminya, dan Barbara Ko tinggal di penjara selama lebih dari dua tahun. Iman mereka kepada Tuhan tetap teguh dan tak berubah, dan mereka bertekad untuk mati bagi Yesus Kristus. Teresia Kwon, Petrus Jo, dan Barbara Ko dipenggal setelah tanggal 10 Agustus 1819 (20 Juni pada penanggalan Lunar) dan meninggal sebagai martir. Teresia Kwon saat itu berusia 35 tahun.

Satu bulan setelah kemartiran mereka, umat beriman mengambil jenazah mereka dan menempatkan rambut Teresia Kwon yang teruntun ke dalam keranjang, mereka menyimpannya di rumah Santo Sebastianus Nam I-gwan. Banyak orang yang bersaksi tentang kebajikan dia dengan berkata, ‘kapanpun kami membuka keranjang itu, kami mencium aroma yang harum.’

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on April 4, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: