Mengapa Patung Diselubungi pada Minggu Prapaskah V?

Penyelubungan Salib oleh George Martell (Sumber: flickr.com dan aleteia.org)

Mungkin kita merasa aneh ketika mengikuti Misa pada Minggu Prapaskah V ini, semua patung yang indah di gereja bahkan juga crucifix (salib ber-corpus) ditutup kain ungu. Bukankah kita seharusnya melihat adegan yang menyakitkan di Kalvari ketika mendengar pembacaan Kisah Sengsara pada Minggu Palma?

Dasar Dokumen Gereja

Penyelubungan ini diatur dalam dokumen gereja yang berjudul “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis / Circular Letter Concerning the Preparation and Celebration of the Easter Feasts) yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi (Congregatio de Cultu Divino) pada tanggal 16 Januari 1988, kita lihat artikel 26:

Kebiasaan memberi selubung pada salib-salib dan gambar-gambar dalam gereja dapat dipertahankan bila diperintahkan demikian oleh Konferensi Waligereja. Salib-salib tetap terselubung sampai akhir liturgi Jumat Agung, tetapi gambar-gambar sampai awal perayaan Malam Paskah.

Mengapa Minggu Prapaskah V?

Jika kita memperhatikan kebiasaan ini dalam dokumen Gereja di atas, maka ada satu kata kunci yaitu “kebiasaan … dalam gereja dapat dipertahankan.” Maka ada suatu kebiasaan yang dilanjutkan sampai saat ini. Dari mana?

Penyelubungan ini berasal dari Misa Forma Extraordinaria sebagai tanda dimulainya Pekan Sengsara (Passiontide), yaitu dua pekan terakhir dalam Masa Prapaskah, dalam kelender lama dimulai pada Minggu Sengsara (Passion Sunday). Dalam Misa Forma Extraordinaria segala tema mengenai sengsara ditonjokan begitu kuat. Selain penyelubungan salib ada satu peringatan Bunda Maria Tujuh Kedukaan pada hari Jumat sebelum Minggu Palma, yang dalam doa kolekta disebutkan mengenai nubuat Simeon bahwa ada pedang yang akan menusuk jiwa Maria (Lukas 2:34-35).

Selain itu ada kaitan dengan bacaan Minggu Sengsara pada penanggalan liturgi lama yang diambil dari Injil Yohanes 8:46-59, yang mana perdebatan antara Yesus dan pihak otoritas agama Yahudi yang berakhir dengan ketegangan, kita bisa melihatnya bahwa pihak otoritas Yahudi itu mengambil batu untuk melempari Dia. Dan kuncinya adalah pada ayat terakhir bacaan Injil ini yaitu Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Tulerunt ergo lapides, ut iacerent in eum; Iesus autem abscondit se et exivit de templo.

(Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. [TB])

Maka simbolisme “menghilang” ini ditekankan juga melalui penyelubungan salib.

Apakah patung dan salib pribadi di rumah perlu diselubungi?

Menurut dokumen gereja tersebut yang diatur tentang penyelubungan patung dan gambar suci adalah yang dilakukan di gereja. Namun tidak ada larangan dan keharusan untuk melakukan kebiasaan ini. Maka sederhananya, boleh dilakukan namun tidak harus. Perlu diketahui makna mengenai kebiasaan ini jangan sampai menjadi suatu ritual belaka. Namun jika kebiasaan ini membantu pertumbuhan iman, maka silakan dilakukan. Ada pendapat mengenai hal ini, diantaranya membantu keluarga terutama anak-anak untuk berpartisipasi dalam masa liturgis gereja, dan juga pendapat bahwa membuat masa Sengsara menjadi lebih bermakna bagi anak-anak dengan melakukan persiapan menyambut hari raya Paskah lebih dari sekadar mendekorasi rumah dengan hiasan Paskah sekuler.

Referensi:

  1. KATKIT Katekese Sedikit – Selubung Salib Minggu Prapaskah V
  2. Seri Dokumen Gerejawi No. 71 – Perayaan Paskah dan Persiapannya 

Posted on 10 April 2019, in Ekaristi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.