Advertisements

Tahbisan Imamat dalam Perjanjian Baru

Oleh Romo Thomas J. Lane

Tahbisan Diakon (Sumber: stpaulcenter.com)

Dalam Perjanjian Baru penumpangan tangan dikaitkan dengan penyembuhan, Baptisan, dan pencurahan Roh Kudus untuk melakukan tugas pelayanan. Pentingnya penumpangan tangan menjadi salah satu ajaran dasar Gereja perdana, seperti yang ditunjukkan dalam Ibrani 6:2.

Kita bisa melihat beberapa kali dalam Kisah Para Rasul bahwa Roh Kudus dikaruniakan melalui penumpangan tangan, dan dengan sengaja Lukas memberitahu kita dalam Kisah Para Rasul 8:18 bahwa Roh Kudus dicurahkan melalui para rasul dengan menumpangkan tangan. Petrus dan Yohanes mengunjungi Samaria dan menumpangkan tangannya kepada orang-orang Samaria supaya mereka beroleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 8:14-17), karena mereka belum menerima Roh Kudus ketika dibaptis oleh Diakon Filipus. Paulus menerima Roh Kudus ketika Ananias menumpangkan tangannya kepadanya pada pembaptisannya (KIsah Para Rasul 9:17-18). Di Efesus, Paulus bertemu dengan para murid yang sudah dibaptis hanya dengan baptisan Yohanes Pembaptis, ketika dia menumpangkan tangannya kepada mereka, mereka menerima Roh Kudus (Kisah Para Rasul 19:1-6).

Salah satu contoh penumpangan tangan tanpa menyebutkan Roh Kudus secara eksplisit adalah dalam Kisah Para Rasul 14:23, di mana Paulus dan Barnabas menunjuk para penatua (para imam atau dalam bahasa Inggris disebut “priest” yang secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “presbyteros” melalui bahasa Latin “presbyter” –red.) di setiap gereja selama perjalanan tugas pelayanan mereka yang pertama. Bahkan sebelum mereka pergi lebih jauh lagi, hal ini sudah diasumsikan bahwa terjadi penumpangan tangan. Kata yang biasanya diterjemahkan sebagai “menetapkan” dalam 14:23 adalah cheirotonēsantes (χειροτονήσαντες). Kata itu merupakan gabungan kata yang dibentuk dengan menggabungkan cheir + teneō (“tangan” + “merentangkan”), yang berarti merentangkan tangan. Dalam bahasa Yunani sekuler, cheirotoneō pada awalnya bermakna “menetapkan” atau “memilih” (dengan mengangkat satu tangan), seperti dalam pemungutan suara untuk calon pejabat sipil, namun kemudian kata ini bermakna memilih seseorang dengan cara apapun. Agak serupa dalam 2 Korintus 8:19, kata itu muncul di tempat lain dalam Perjanjian Baru, gereja-gereja memilih teman seperjalanan Paulus, kemungkinan adalah Lukas (menganggap kata “kami” dalam Kisah Para Rasul 16:10-17, 20:5-15, 21:1-18, dan 27:1-28:16 menunjukan bahwa kata itu adalah kutipan dari catatan perjalanan Lukas bersama Paulus). Yang kemudian, kata cheirotoneō bermakna religius. Ada makna yang suci dalam Kisah Para Rasul 14:23 ketika Paulus dan Barnabas menetapkan para penatua / imam. Paulus dan Barnabas menumpangkan tangan atas mereka pada permulaan perjalanan misi pertama mereka (Kisah Para Rasul 13:3), dan Paulus menumpangkan tangan atas Timotius (1 Timotius 4:14; 2 Timotius 1:6). Dengan jelas Paulus sadar akan pentingnya (kita mungkin berkata perlunya) penumpangan tangan untuk karunia Roh Kudus pada seseorang yang diutus untuk menjalankan misi. Maka masuk akal untuk berasumsi bahwa dalam Kisah Para Rasul 14:23 juga bermaksud agar kita memahami bahwa sesungguhnya cheirotoneō itu berarti Paulus dan Barnabas merentangkan tangan mereka di atas para penatua yang dipilih atas gereja-gereja baru. Kemudian, cheirotoneō diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi ordinatio, yang menjadi kata bahasa Inggris “ordination.

Penumpangan tangan dalam Ibrani 6:2 tampaknya berbeda dengan Pembaptisan dan penumpangan tangan berikutnya yang kemudian disebut Penguatan. Karunia spiritual yang telah diterima oleh para pembaca Surat Ibrani, termasuk Roh Kudus (Ibrani 6:4), yang mengalir dari dasar dalam bab 6:1-2, yang termasuk di dalamnya penumpangan tangan. Secara tidak langsung, seolah-olah Ibrani 6:1-4 memiliki kaitan bahwa karunia Roh Kudus dalam kehidupan orang beriman dicurahkan dengan penumpangan tangan yang berbeda dengan Pembaptisan.

Dalam surat-surat Pastoral, peran penumpangan tangan perlu digarisbawahi, sebagaimana Paulus mengingatkan Timotius ketika Paulus menumpangkan tangan atas dirinya (2 Timotius 1:6). John Tipei mengamati bahwa peran mediator dalam penumpangan tangan itu diperlukan dan tangan manusia “secara harafiah merupakan saluran kuasa yang dengan karismanya untuk pelayanan dicurahkan dari Allah, Sang Sumber Ilahi, kepada mereka yang dipilih.” Dalam 1 Timotius 4:14, Paulus menasihati Timotius supaya jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padanya, yang telah diberikan kepadanya oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Karunia atau karisma (χάρισμα) tidak ditentukan, namun kata karisma berhubungan dengan karunia rohani yang dianugerahkan oleh Roh Kudus.

Roh Kudus dicurahkan ketika tangan ditumpangkan atas orang yang dipilih. Namun Roh Kudus darang dari Allah, bukan dari seseorang yang menumpangkan tangan, sehingga Roh Kudus tidak bisa dimanipulasi (Kisah Para Rasul 8:18-24). Penumpangan tangan menjadi tanda penerimaan Roh Kudus secara sakramental dan disertai dengan doa. Masing-masing sakramen memiliki tanda-tanda yang berbeda dengan Penerimaan Roh Kudus (contohnya pengucuran air dalam Pembaptisan, pengurapan dengan minyak krisma dalam Penguatan), dan setiap tanda memiliki doanya masing-masing. Dalam teologi Katolik, hal ini disebut “forma” dan “materia,” forma adalah rumusan doa sedangkan materia adalah elemen alam yang digunakan kepada tubuh yang bermakna kuasa Allah diberikan kepada seseorang. Dalam Sakramen Imamat Suci, forma dan materia, adalah penumpangan tangan yang disertai dengan Doa Tahbisan.  Maka hal ini sudah ada dalam surat-surat Pastoral, kita bisa melihat inti dari Sakramen Imamat Suci sudah ada, yaitu penumpangan tangan disertai pengucapan nubuat, yang saya anggap sebagai Doa Konsekrasi (1 Timotius 4:14, 2 Timotius 1:6).

Romo J. Lane adalah imam Keuskupan Cloyne (Irlandia) dan Asisten Profesor Kitab Suci di Mount St. Mary’s Seminary, Emmitsburg, Maryland. Dia penulis buku “The Catholic Priesthood: Biblical Foundations.”

Sumber: “Is Priestly Ordination in the New Testament?”

Advertisements

Posted on 21 August 2019, in Apologetika, Panggilan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: