Sejarah dan Makna Kasula

Oleh Philip Kosloski

Kasula foto oleh Br. Joseph Bailham, OP (Sumber: flickr.com dan aleteia.org)

Kasula Romawi berasal dari gaya busana dari berabad-abad lalu, namun Gereja mempertahankannya selama berabad-abad

Ketika kita mengikuti Misa kita selalu melihat imam yang mengenakan pakaian yang khas yang tidak seperti busana modern apa pun. Biasanya ada semacam hiasan atau simbol pada busana itu, bahkan juga ada beberapa warna yang berbeda.

Apa itu kasula dan mengapa para imam masih mengenakannya?

Sejak zaman kuno, setiap kali seorang imam merayakan kurban Misa, ia akan mengenakan busana seperti poncho besar yang disebut kasula yang menutup pakaiannya yang umum dipakai pada zaman itu. Busana ini dikembangkan dari pakaian umum seorang petani pada zaman Romawi. Seorang petani biasanya mengenakan poncho besar untuk melindunginya dari berbagai faktor. Dan akhirnya busana itu dikaitkan dengan orang Kristen pada abad ke-3.

Ketika tren busana bergeser, kasula tidak lagi menjadi pakaian biasa, namun masih dikenakan oleh para imam. Menjelang abad ke-8, kasula masih tetap dipertahankan untuk para klerus dan mulai dihias dengan sedemikian rupa sehingga mencerminkan fungsi sakralnya.

Pada mulanya kasula bentuknya besar dan rumit, dan ketika mengenakannya perlu bantuan pelayan liturgi lain untuk membereskan lipatan-lipatannya supaya memudahkan gerakan imam. Seiring waktu berlalu, kasula itu dibentuk dalam berbagai potongan, dan bentuk yang paling berbeda adalah kasula biola (fiddleback) pada beberapa abad terakhir.

Simbolisme kasula bisa ditemukan dalam ekspresi doa tradisional yang didoakan seorang imam sebelum mengenakannya.

Domine, qui dixisti: Iugum meum suave est, et onus meum leve: fac, ut istud portare sic valeam, quod consequar tuam gratiam. Amen.

“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: ‘kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.’’Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”

Kasula dipandang sebagai “kuk Kristus” dan mengingatkan bahwa imam itu adalah “Alter Christus (Kristus yang lain)” dalam kurban Misa dan oleh karena itu perlu “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efesus 4:24).

Selain itu, kasula melambangkan “jubah yang tak berjahit” yang dikenakan Kristus ketika penyaliban-Nya. Maka hal ini menekankan hubungan antara imam, Misa dan kurban Yesus di kayu salib. Ada ornamen umum pada kasula berupa salib besar di bagian belakang dan bagian depan busana ini untuk memperkuat simbolisme ini. Warna busana ini dikoordinasikan dengan warna simbolis dari masa liturgis atau hari raya.

Oleh karena alasan-alasan ini, Gereja mempertahankan busana kuno ini, mengingatkan imam (dan umat) bahwa Misa bukanlah acara biasa, namun Misa itu sakral dan tidak ada yang seperti Misa di muka bumi ini.

Sumber: “Why do priests wear a chasuble at Mass? And what’s a chasuble?”

Posted on 4 July 2020, in Ekaristi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: