Yesus Tidak Pernah Berkata Diri-Nya Tuhan?

Oleh Joe Heschmeyer

Yesus Berjalan di atas Air (Sumber: catholic.com)

Benarkah Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dalam Injil Sinoptik?

Ada mitos populer bahwa Yesus tidak pernah menyatakan diri sebagai Tuhan dan aslinya tidak dianggap ilahi oleh para pengikutnya. Misalnya, dalam bukunya How Jesus Became God, seorang cendekiawan Perjanjian Baru yang ateis, Bart Ehrman, berpendapat bahwa “Pada awalnya Yesus tidak dianggap sebagai Tuhan dalam arti apa pun, dan … pada akhirnya Yesus menjadi ilahi bagi para pengikutnya dalam beberapa hal sebelum akhirnya dianggap setara dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam arti yang absolut.”

Bagian dari argumennya adalah dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas, “Yesus tidak pernah membuat pernyataan-pernyataan ilahi secara eksplisit tentang diri-Nya sendiri” dan pernyataan-pernyataan yang terdengar ilahi tersebut hanya ditemukan dalam Injil terakhir dari keempat Injil, yaitu Injil Yohanes. Dan tentu saja, ketika kita sampai pada Injil Yohanes, jelaslah bahwa para pengikut Yesus menganggapnya ilahi. Yohanes memulai Injilnya dengan menyatakan Yesus sebagai “Firman” dan mengatakan bahwa “Firman itu bersama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1 TB2).

Salah satu masalah dengan pemikiran bahwa kepercayaan akan keilahian Yesus muncul secara bertahap di kalangan umat Kristen adalah St. Paulus, dianggap sebagai orang yang pertama kali menulis, dengan jelas meyakini bahwa Yesus itu ilahi. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus mengutip sebuah pujian yang mengatakan bahwa, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (2:6-7).

Ehrman mengakui adanya masalah, dengan bertanya, “Bukankah seiring berjalannya waktu, kristologi yang ‘rendah’ berkembang menjadi kristologi yang ‘tinggi’? Dan jika demikian, bukankah seharusnya pandangan-pandangan Injil Sinoptik lebih ‘tinggi’ daripada pandangan-pandangan Paulus? Tetapi ternyata tidak!” Solusi yang Ehrman berikan, berdasarkan pembacaan yang salah terhadap Galatia 4:14, yaitu dengan menyatakan argumen yang aneh bahwa sebenarnya, “Paulus memahami Kristus sebagai malaikat yang menjadi manusia.”

Pandangan semacam itu sangat salah memahami latar belakang Perjanjian Lama dari teologi Paulus. Dalam kitab Yesaya, Allah Israel (YHWH) menyatakan, “Berpalinglah kepada-Ku supaya kamu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: Semua akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan semua lidah bersumpah setia demi Aku” (45:22-23 TB2).

Tetapi Paulus mengenakan perkataan ini kepada Yesus, dengan mengatakan, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit, di atas bumi, dan di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Filipi 2:10-11 TB2). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya sebagai malaikat, tetapi sebagai Allah yang esa.

Ada juga masalah mengenai apa yang dinyatakan oleh Yesus tentang diri-Nya sendiri, bahkan dalam Injil Sinoptik. Memang benar bahwa Yesus tidak pemah sekonyong-konyong berkata, “Hai, Aku adalah Pribadi Kedua Tritunggal Mahakudus, sungguh Allah dan sungguh manusia,” dan memang jika itu yang Anda cari, Anda tidak akan menemukannya. Tetapi Dia mengatakan tentang diri-Nya sendiri bahwa “di sini ada yang melebihi Bait Allah” dan kemudian Dia menyebut diri-Nya sendiri “tidak bersalah,” dan kemudian mengatakan bahwa “Anak Manusia adalah Tuan atas hari Sabat” (Matius 12:6-8 TB2; bdk. Markus 2:28; Lukas 6:5).

Untuk melihat betapa pentingnya kata-kata ini, Anda perlu mengetahui latar belakang Perjanjian Lama. Bait Suci di Yerusalem adalah “Bait tersuci di seluruh dunia” (2 Makabe 5:15 TB2), dan Ruang Mahakudus di dalamnya adalah “Tempat Mahakudus” (1 Raja-raja 7:50 TB2). Mengapa? Karena “TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus” (Habakuk 2:20). Maka, Yesus menyatakan diri-Nya lebih besar daripada itu berarti membuat pernyataan yang jelas-jelas merupakan suatu pernyataan ilahi.

Demikian juga, Tuan atas hari Sabat adalah Allah sendiri. Dalam Sepuluh Perintah Allah, Allah menyatakan, “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Tetapi, hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu.” Secara eksplisit, ini adalah hari yang dikhususkan untuk Allah yang esa yang menciptakan segala sesuatu, karena “enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Keluaran 20:8-11 TB2).

Perlu diingat bahwa pada saat itu Israel memiliki kekayaan tradisi para nabi yang berbicara atas nama Tuhan. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara seperti ini, yang menganggap dirinya melebihi Bait Allah atau hari Sabat.

Dalam Injil Yohanes, kita diberitahu bahwa “para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yohanes 5:18 TB2). Tetapi Yohanes hanya menjelaskan secara eksplisit sesuatu yang dapat kita lihat dalam tiga Injil lainnya. Misalnya, dalam Matius 7:21-23, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai Tuhan, sebagai hakim atas seluruh dunia, dan sebagai Putra Bapa yang istimewa:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan! Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, hai Kamu yang melanggar perintah Allah! (Matius 7:21-23 TB2).

Memang benar: Yesus tidak secara eksplisit mengatakan bahwa dengan menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, Ia menjadikan diri-Nya setara dengan Allah. Tetapi sebenarnya Dia tidak perlu mengatakannya. Para pendengar-Nya memahami hal ini, dan pada akhirnya, mereka menangkap-Nya atas tuduhan penghujatan. Sekarang saatnya bagi Yesus untuk berbicara dengan jelas. Dalam pengadilan, imam besar menuntut, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami apakah Engkau Mesias, Anak Allah.” Jawab Yesus, “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Lalu imam besar mengoyakkan pakaiannya dan berkata, “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat itu” (Matius 26:63-65 TB2).

Ini adalah peristiwa penting dalam ketiga Injil Sinoptik (Markus 14:64; Lukas 22:71): bahwa Yesus diserahkan kepada orang Romawi untuk dihukum mati karena Dia dinyatakan bersalah atas “penghujatan” karena menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah. Dan hal ini digambarkan bukan sebagai kesalahpahaman, tetapi karena ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah “menolak maksud Allah terhadap diri mereka” (lihat Lukas 7:30), dengan demikian menggenapi nubuat agung Yesus yang lain, yaitu bahwa “sama seperti kilat memancar daru ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari-Nya. Namun, Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini” (Lukas 17:24-25 TB2).

Yesus dibunuh karena membuat pernyataan tentang diri-Nya sendiri yang dengan jelas menyiratkan bahwa Dia bukan hanya sosok ilahi, tetapi juga Allah yang esa bagi bangsa Israel. Jika Anda melewatkan hal ini, maka Anda melewatkan seluruh inti dari keempat Injil, serta pesan dari St. Paulus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya.

 

Sumber: “‘But Jesus Never Said He Was God’”

Advertisement

Posted on 29 April 2023, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: