Author Archives: Terang Iman
Santa Maria Yi In-dog
Maria Yi In-dog (1818-1840) adalah adik dari martir Magdalena Yi Yong-dog (lihat Surat Berita CBCK No. 71, musim panas 2010). Maria orang yang sangat tenang, jujur dan rendah hati sehingga orang-orang dapat mengenali keberadaannya. Dia ditangkap bersama kakaknya, Magdalena, dan keduanya menunjukkan iman dan keberanian yang mendalam, bukan hanya di dalam penjara namun juga di hadapan para interogator. Read the rest of this entry
Santa Agatha Yi Kyong-i
Agatha Yi Kyong-i (1814-1840) lahir di sebuah keluarga Katolik, namun dia menikah dengan seorang kasim. Setelah dia memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Uskup Imbert, beliau menyuruh supaya dia berpisah dengan suaminya. Setelah perpisahan dengan suaminya, Agatha Yi pergi untuk tinggal bersama Agatha Kwon Chin-i, karena ibunya terlalu miskin untuk menghidupinya. Read the rest of this entry
Santa Magdalena Son So-byog
Magdalena Son So-byog (1802-1840) adalah istri dari martir Petrus Choe Chang-hub. Dia lahir di Seoul. Karena ayahnya diasingkan demi imannya dan ibunya meninggal muda, Magdalena tinggal dengan neneknya. Situasi keluarga yang miskin membuat dirinya pemalu dan menjauhkan diri dari umat Katolik lainnya, sehingga dia terlambat dalam mempelajari agama Katolik. Read the rest of this entry
Santo Petrus Hong Pyong-ju
Petrus Hong Pyong-ju (1798-1840) dan Paulus Hong Yong-ju adalah kakak beradik. Mereka cucu dari Hong Nang-min yang menjadi martir pada tahun 1801 dan juga keponakan dari Protasius Hong yang menjadi martir pada tahun 1839. Mereka adalah keturunan dari keluarga terpandang dan tinggal di Sosan. Mereka mewarisi imannya dari orang tuanya yang memperbolehkan mereka untuk menjunjung tinggi agama Katolik serta berkontribusi besar untuk Gereja Katolik di Korea. Read the rest of this entry
Santo Agustinus Pak Chong-won
Agustinus Pak Chong-won (1793-1840) adalah suami dari martir Barbara Ko. Dia lahir di Seoul. Dia memiliki kepribadian yang hangat, baik dan sarjana yang hebat. Dia juga seorang yang cakap. Read the rest of this entry
Santo Paulus Ho Hyob
Paulus Ho Hyob (1796-1840) seorang yang sedikit diketahui di antara 103 Santo-santa Martir. Satu-satunya yang kami ketahui tentang dia, bahwa dia berusia 45 tahun ketika menjadi martir. Dia seorang prajurit yang ditugaskan di suatu kamp pelatihan, dan seorang Katolik yang luar biasa. Read the rest of this entry
Santo Andreas Chong Hwa-gyong
Andreas Chong Hwa-gyong (1807-1840) adalah seorang yang sangat bodoh sehingga dia mudah ditipu dengan mudah. Akibatnya, seorang uskup dan banyak orang Katolik ditangkap. Si pengkhianat, Kim Yo-sang berkata kepada dia bahwa orang-orang pemerintahan ingin menjadi Katolik dan akan menyambut para misionaris dari Perancis. Andreas dengan bodohnya mempercayai mereka dan memimpin sekelompok penculik menuju Uskup Imbert, yang mereka tangkap. Read the rest of this entry
Santo Stefanus Min Kuk-ka
Stefanus Min Kuk-ka (1788-1840) adalah seorang keturunan dari keluarga bangsawan. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan hangat. Dia lahir dari keluarga non-Katolik, dan ibunya meninggal ketika dia masih sangat muda. Dia dibaptis bersama dengan ayah dan saudaranya, dan mereka menjalankan agamanya dengan setia. Dia menikah dengan seorang wanita Katolik, namun istrinya meninggal tak lama setelah pernikahan mereka. Dia tidak ingin menikah lagi, namun teman-temannya membujuk dia supaya dia mengambil seorang istri Katolik lainnya. Istri keduanya juga meninggal setelah enam atau tujuh tahun kemudian, dan setelah itu tak lama kemudian putri dari istri keduanya juga meninggal. Read the rest of this entry
Santa Agatha Yi
Agatha Yi (1824-1840) dipenjarakan bersama dengan ayahnya yaitu Agustinus Yi Kwang-hon, dan juga ibunya yaitu Barbara Kwon Hui, pada tanggal 8 April 1839, ketika dia berusia 17 tahun. Read the rest of this entry
Santa Teresia Kim
Teresia Kim (1797-1840) lahir di Myonch’on, di Provinsi Ch’ngch’ong, dari keluarga martir. Dia adalah bibi dari St. Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea dan juga dia adalah sepupu dari ayah St. Andreas Kim yaitu St. Ignasius Kim Che-jun. Baik kakeknya yaitu Pius Kim Chin-hu dan ayahnya yaitu Andreas Kim Han-hyon, menjadi saksi bagi Yesus Kristus dengan mati bagi iman mereka setelah hidup di penjara untuk waktu yang lama dan disiksa dengan kejam. Ibu Teresia tak lama kemudian meninggal. Read the rest of this entry












Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…