Category Archives: Orang Kudus
Santo Petrus Hong Pyong-ju
Petrus Hong Pyong-ju (1798-1840) dan Paulus Hong Yong-ju adalah kakak beradik. Mereka cucu dari Hong Nang-min yang menjadi martir pada tahun 1801 dan juga keponakan dari Protasius Hong yang menjadi martir pada tahun 1839. Mereka adalah keturunan dari keluarga terpandang dan tinggal di Sosan. Mereka mewarisi imannya dari orang tuanya yang memperbolehkan mereka untuk menjunjung tinggi agama Katolik serta berkontribusi besar untuk Gereja Katolik di Korea. Read the rest of this entry
Santo Agustinus Pak Chong-won
Agustinus Pak Chong-won (1793-1840) adalah suami dari martir Barbara Ko. Dia lahir di Seoul. Dia memiliki kepribadian yang hangat, baik dan sarjana yang hebat. Dia juga seorang yang cakap. Read the rest of this entry
Santo Paulus Ho Hyob
Paulus Ho Hyob (1796-1840) seorang yang sedikit diketahui di antara 103 Santo-santa Martir. Satu-satunya yang kami ketahui tentang dia, bahwa dia berusia 45 tahun ketika menjadi martir. Dia seorang prajurit yang ditugaskan di suatu kamp pelatihan, dan seorang Katolik yang luar biasa. Read the rest of this entry
Santo Andreas Chong Hwa-gyong
Andreas Chong Hwa-gyong (1807-1840) adalah seorang yang sangat bodoh sehingga dia mudah ditipu dengan mudah. Akibatnya, seorang uskup dan banyak orang Katolik ditangkap. Si pengkhianat, Kim Yo-sang berkata kepada dia bahwa orang-orang pemerintahan ingin menjadi Katolik dan akan menyambut para misionaris dari Perancis. Andreas dengan bodohnya mempercayai mereka dan memimpin sekelompok penculik menuju Uskup Imbert, yang mereka tangkap. Read the rest of this entry
Santo Stefanus Min Kuk-ka
Stefanus Min Kuk-ka (1788-1840) adalah seorang keturunan dari keluarga bangsawan. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan hangat. Dia lahir dari keluarga non-Katolik, dan ibunya meninggal ketika dia masih sangat muda. Dia dibaptis bersama dengan ayah dan saudaranya, dan mereka menjalankan agamanya dengan setia. Dia menikah dengan seorang wanita Katolik, namun istrinya meninggal tak lama setelah pernikahan mereka. Dia tidak ingin menikah lagi, namun teman-temannya membujuk dia supaya dia mengambil seorang istri Katolik lainnya. Istri keduanya juga meninggal setelah enam atau tujuh tahun kemudian, dan setelah itu tak lama kemudian putri dari istri keduanya juga meninggal. Read the rest of this entry
Santa Agatha Yi
Agatha Yi (1824-1840) dipenjarakan bersama dengan ayahnya yaitu Agustinus Yi Kwang-hon, dan juga ibunya yaitu Barbara Kwon Hui, pada tanggal 8 April 1839, ketika dia berusia 17 tahun. Read the rest of this entry
Santa Teresia Kim
Teresia Kim (1797-1840) lahir di Myonch’on, di Provinsi Ch’ngch’ong, dari keluarga martir. Dia adalah bibi dari St. Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea dan juga dia adalah sepupu dari ayah St. Andreas Kim yaitu St. Ignasius Kim Che-jun. Baik kakeknya yaitu Pius Kim Chin-hu dan ayahnya yaitu Andreas Kim Han-hyon, menjadi saksi bagi Yesus Kristus dengan mati bagi iman mereka setelah hidup di penjara untuk waktu yang lama dan disiksa dengan kejam. Ibu Teresia tak lama kemudian meninggal. Read the rest of this entry
Santa Magdalena Yi Yong-dog

Magdalena Yi Yong-dog (Sumber: cbck.or.kr)
Magdalena Yi Yong-dog (1811-1839) adalah kakak dari Maria Yi In-dog. Magdalena lahir pada tahun 1811 dari keluarga bangsawan, namun keluarganya sangat miskin. Read the rest of this entry
Santa Barbara Ko Sun-i

Barbara Ko Sun-i (Sumber: cbck.or.kr)
Barbara Ko Sun-i adalah istri dari martir Agustinus Pak Chong-won dan putri dari Ko Kwang-song yang menjadi martir pada tahun 1801. Dia lahir di Seoul pada tahun 1794. Dia seorang wanita yang memiliki integritas dan juga cerdas. Read the rest of this entry
Santa Elisabeth Chong Chong-hye

Elisabeth Chong Chong-hye (Sumber: cbck.or.kr)
Elisabeth Chong Chong-hye (1796-1839) adalah putri dari martir Agustinus Chong dan Cecilia Yu So-sa dan adik perempuan dari Paulus Chong Ha-sang. Pada tahun 1801, ketika Elisabeth berusia 5 tahun, ayahnya [Agustinus] menjadi martir karena imannya. Pada waktu itu, Elisabeth juga ditangkap bersama dengan ibunya [Cecilia] dan kedua saudaranya. Pemerintah menyita kekayaan mereka dan melepaskan janda muda itu beserta anak-anaknya. Mereka pergi untuk tinggal dengan seorang kerabatnya yang pagan. Kerabatnya itu tidak memperlakukan mereka dengan baik, dan Elisabeth menderita kedinginan dan kelaparan. Elisabeth mencari nafkah dengan menjahit dan menenun, penghasilannya cukup untuk menopang hidup ibunya dan kakaknya [Paulus]. Kemudian Paulus membantu Uskup Imbert dan para misionaris untuk berkomunikasi dengan Peking. Para kerabatnya, yang pada awalnya tidak menyukai Elisabeth, merasa kagum kepadanya dan mulai menyukainya. Hatinya sangat murni dan tidak pernah mengarahkan pandangan kepada seorang pria. Read the rest of this entry









Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…