Blog Archives

Santo Agustinus Pak Chong-won

Santo Agustinus Pak Chong-won (Sumber: cbck.or.kr)

Agustinus Pak Chong-won (1793-1840) adalah suami dari martir Barbara Ko. Dia lahir di Seoul. Dia memiliki kepribadian yang hangat, baik dan sarjana yang hebat. Dia juga seorang yang cakap. Read the rest of this entry

Santo Paulus Ho Hyob

Santo Paulus Ho Hyob (Sumber: cbck.or.kr)

Paulus Ho Hyob (1796-1840) seorang yang sedikit diketahui di antara 103 Santo-santa Martir. Satu-satunya yang kami ketahui tentang dia, bahwa dia berusia 45 tahun ketika menjadi martir. Dia seorang prajurit yang ditugaskan di suatu kamp pelatihan, dan seorang Katolik yang luar biasa. Read the rest of this entry

Santo Andreas Chong Hwa-gyong

Santo Andreas Chong Hwa-gyong (Sumber: cbck.or.kr)

Andreas Chong Hwa-gyong (1807-1840) adalah seorang yang sangat bodoh sehingga dia mudah ditipu dengan mudah. Akibatnya, seorang uskup dan banyak orang Katolik ditangkap. Si pengkhianat, Kim Yo-sang berkata kepada dia bahwa orang-orang pemerintahan ingin menjadi Katolik dan akan menyambut para misionaris dari Perancis. Andreas dengan bodohnya mempercayai mereka dan memimpin sekelompok penculik menuju Uskup Imbert, yang mereka tangkap. Read the rest of this entry

Santo Stefanus Min Kuk-ka

Santo Stefanus Min Kuk-ka (Sumber: cbck.or.kr)

Stefanus Min Kuk-ka (1788-1840) adalah seorang keturunan dari keluarga bangsawan. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan hangat. Dia lahir dari keluarga non-Katolik, dan ibunya meninggal ketika dia masih sangat muda. Dia dibaptis bersama dengan ayah dan saudaranya, dan mereka menjalankan agamanya dengan setia. Dia menikah dengan seorang wanita Katolik, namun istrinya meninggal tak lama setelah pernikahan mereka. Dia tidak ingin menikah lagi, namun teman-temannya membujuk dia supaya dia mengambil seorang istri Katolik lainnya. Istri keduanya juga meninggal setelah enam atau tujuh tahun kemudian, dan setelah itu tak lama kemudian putri dari istri keduanya juga meninggal. Read the rest of this entry

Santa Agatha Yi

Santa Agatha Yi (Sumber: cbck.or.kr)

Agatha Yi (1824-1840) dipenjarakan bersama dengan ayahnya yaitu Agustinus Yi Kwang-hon, dan juga ibunya yaitu Barbara Kwon Hui, pada tanggal 8 April 1839, ketika dia berusia 17 tahun. Read the rest of this entry

Santa Teresia Kim

Santa Teresia Kim (Sumber: cbck.or.kr)

Teresia Kim (1797-1840) lahir di Myonch’on, di Provinsi Ch’ngch’ong, dari keluarga martir. Dia adalah bibi dari St. Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea dan juga dia adalah sepupu dari ayah St. Andreas Kim yaitu St. Ignasius Kim Che-jun. Baik kakeknya yaitu Pius Kim Chin-hu dan ayahnya yaitu Andreas Kim Han-hyon, menjadi saksi bagi Yesus Kristus dengan mati bagi iman mereka setelah hidup di penjara untuk waktu yang lama dan disiksa dengan kejam. Ibu Teresia tak lama kemudian meninggal. Read the rest of this entry

Santa Magdalena Yi Yong-dog

Magdalena Yi Yong-dog (Sumber: cbck.or.kr)

Magdalena Yi Yong-dog (1811-1839) adalah kakak dari Maria Yi In-dog. Magdalena lahir pada tahun 1811 dari keluarga bangsawan, namun keluarganya sangat miskin. Read the rest of this entry

Santa Barbara Ko Sun-i

Barbara Ko Sun-i (Sumber: cbck.or.kr)

Barbara Ko Sun-i adalah istri dari martir Agustinus Pak Chong-won dan putri dari Ko Kwang-song yang menjadi martir pada tahun 1801. Dia lahir di Seoul pada tahun 1794. Dia seorang wanita yang memiliki integritas dan juga cerdas. Read the rest of this entry

Santa Elisabeth Chong Chong-hye

Elisabeth Chong Chong-hye (Sumber: cbck.or.kr)

Elisabeth Chong Chong-hye (1796-1839) adalah putri dari martir Agustinus Chong dan Cecilia Yu So-sa dan adik perempuan dari Paulus Chong Ha-sang. Pada tahun 1801, ketika Elisabeth berusia 5 tahun, ayahnya [Agustinus] menjadi martir karena imannya. Pada waktu itu, Elisabeth juga ditangkap bersama dengan ibunya [Cecilia] dan kedua saudaranya. Pemerintah menyita kekayaan mereka dan melepaskan janda muda itu beserta anak-anaknya. Mereka pergi untuk tinggal dengan seorang kerabatnya yang pagan. Kerabatnya itu tidak memperlakukan mereka dengan baik, dan Elisabeth menderita kedinginan dan kelaparan. Elisabeth mencari nafkah dengan menjahit dan menenun, penghasilannya cukup untuk menopang hidup ibunya dan kakaknya [Paulus]. Kemudian Paulus membantu Uskup Imbert dan para misionaris untuk berkomunikasi dengan Peking. Para kerabatnya, yang pada awalnya tidak menyukai Elisabeth, merasa kagum kepadanya dan mulai menyukainya. Hatinya sangat murni dan tidak pernah mengarahkan pandangan kepada seorang pria. Read the rest of this entry

Santa Benedikta Hyon Kyong-nyon

Benedicta Hyon Kyong-nyon (Sumber: cbck.or.kr)

Benedikta Hyon Kyong-nyon (1793-1839) adalah putri dari Hyon Kye-hum yang menjadi martir pada tahun 1801, dia juga menantu perempuan dari Choe Chang-hyon yang menjadi martir pada tahun 1801, dan kakak perempuan dari Karolus Hyon Song-mun yang menjadi martir pada tahun 1846.

Pada tahun 1811, Benedikta menikah dengan seorang putra dari Choe Chang-hyon seorang martir yang jaya, namun suaminya meninggal tiga tahun kemudian. Karena dia tidak mempunyai anak, dia kembali kepada ibunya dan mencari nafkah dengan menjahit, dia bersyukur kepada Allah atas kehidupannya yang damai.

Santa Benedikta Hyon Kyong-nyon (Sumber: cbck.or.kr)

Orang-orang di sekitarnya mengagumi dia karena kesalehan dan kedamaian hidupnya, dedikasi dalam doa, melakukan olah batin, dan membaca tulisan-tulisan rohani. Benedikta mendapatkan sejumlah uang dari menjahit, namun dia memberikan uangnya itu. Dia juga berusaha keras demi pengudusan orang lain, mengajar katekumen yang buta huruf, menguatkan umat Katolik yang suam-suam kuku, menghibur orang yang sedih, merawat orang yang sakit, dan membaptis anak-anak pagan yang dalam bahaya maut. Selama kunjungan para misionaris, dia mengumpulkan umat Katolik di rumahnya dan mempersiapkan mereka untuk menerima sakramen.

Pada tahap awal penganiayaan, Benedikta yang adalah seorang katekis berada dalam persembunyian, namun dia ditangkap pada bulan Juni atau Juli. Ketika para pejabat pemerintahan mengetahui bahwa Benedikta adalah saudari dari Karolus Hyon Song-mun yang berperan penting untuk para misionaris, para pejabat pemerintahan itu menyiksa dia dengan lebih berat lagi dalam rangka untuk menemukan saudaranya yang dalam persembunyian. Dia dinterogasi sebanyak delapan kali. Polisi menyiksa dia dengan sangat kejam untuk mendapatkan informasi tantang para misionaris, karena mereka ingin mendapatkan penghargaan yang telah ditetapkan dengan menangkap para misionaris. Namun usaha mereka yang serakah menjadi sia-sia karena kehendak yang kuat dari Benedikta. Setelah dia dipindahkan ke pengadilan yang lebih tinggi, dia dipukuli dengan sangat kejam sehingga untuk menggerakan kakinya saja sangat sulit. Luka-luka di tubuhnya begitu dalam sehingga darah dan nanah keluar tanpa henti. Dia juga menderita kolera di penjara.

Kemudian Benedikta mengirimkan surat untuk saudaranya yaitu Karolus. Sayangnya sekarang surat itu sudah tidak ada, namun banyak umat Katolik yang membacanya merasa sangat terkesan. Beberapa jam sebelum dia dieksekusi, dia tidur lelap. Dia merasa bahagia karena dibawa ke luar Pintu Gerbang Kecil Barat untuk dipenggal bersama dengan enam orang umat Katolik lainnya pada tanggal 29 Desember 1839. Benedikta menjadi martir pada usia 46 tahun.

Sumber: cbck.or.kr