Blog Archives
Santo Petrus Yu Tae-chol

Petrus Yu Tae-chol (Sumber: cbck.or.kr)
Petrus Yu Tae-chol (1826-1839) masih berusia 13 tahun ketika menjadi martir. Ayahnya, Agustinus Yu Chin-gil menjadi martir, namun ibunya tidak menjadi seorang Katolik, dan berusaha keras untuk menghalangi putranya itu dalam menjalankan imannya dan memaksanya untuk mempersembahkan kurban kepada para leluhur. Ibunya dan saudarinya berkata kepada Petrus, mengapa dia tidak patuh kepada ibunya. Petrus dengan lembut menjawab bahwa tidak pantas mematuhi ibunya tetapi tidak patuh kepada Raja Surgawi dan Bapa segala ciptaan. Dalam hal lain, Petrus mematuhi ibunya dengan setia dan berusaha untuk tidak menyinggung keluarganya, kecuali dalam hal iman. Read the rest of this entry
Santa Magdalena Cho

Magdalena Cho (Sumber: cbck.or.kr)
Katarina Yi (1782-1839) dan Magdalena Cho (1806-1839) adalah ibu dan anak perempuannya. Mereka ditangkap bersama-sama, ditempatkan di penjara yang sama dan mereka mati bagi Yesus Kristus di saat yang hampir bersamaan. Walaupun di dunia ini mereka berdua mengalami hidup yang sangat miskin selama beberapa tahun, namun Allah memberikan mereka kekayaan surgawi yang kekal. Read the rest of this entry
Santa Katarina Yi

Catharina Yi (Sumber: cbck.or.kr)
Katarina Yi (1782-1839) dan Magdalena Cho (1806-1839) adalah ibu dan anak perempuannya. Mereka ditangkap bersama-sama, ditempatkan di penjara yang sama dan mereka mati bagi Yesus Kristus di saat yang hampir bersamaan. Walaupun di dunia ini mereka berdua mengalami hidup yang sangat miskin selama beberapa tahun, namun Allah memberikan mereka kekayaan surgawi yang kekal. Read the rest of this entry
Santa Lusia Kim (Kopch’u)

Lucia Kim (Kopch’u) (Sumber: cbck.or.kr)
Perasaan yang umum dari jiwa seorang martir adalah iman dan keberanian. Begitu mengejutkan untuk menemukan perasaan yang berlimpah itu pada diri seorang wanita bernama Lusia Kim (1769-1839). Rahmat Allah dan imannya yang dalam dan juga kerendahan hati digabungkan bersama untuk membentuk seorang wanita sederhana dan martir yang heroik. Lusia biasanya dipanggil dengan nama “Si Bungkuk Lusia.” Sepertinya dia telah menjadi seorang Katolik sejak dia masih muda. Dia menikah dengan seorang pria pagan, namun karena suaminya tidak menginginkannya berelasi dengan umat Katolik lainnya dan juga untuk memenuhi kewajiban agamanya, dia meninggalkan suaminya dan tinggal di beberapa rumah umat Katolik yang berbeda. Umat Katolik dengan senang hati menerima Lusia. Dia membantu mereka dalam pekerjaan rumah dan menjaga anak-anak juga orang sakit, hal ini dilakukannya untuk membalas kebaikan mereka. Read the rest of this entry
Santa Kolumba Kim Hyo-im

Columba Kim Hyo-im (Sumber: cbck.or.kr)
Kolumba Kim Hyo-im (1814-1839) lahir pada tahun 1814 dan adiknya yaitu Agnes Kim Hyo-ju (1816-1839) lahir dua tahun kemudian dari keluarga pagan di Bamseom, yang berarti pulau kastanya, di tepian sungai Han. Pada awalnya keluarga mereka bukan Katolik, namun ibu mereka mulai ada ketertarikan terhadap iman dan berangsur-angsur semakin dekat dengan iman, tapi ayah mereka bukan seorang beriman. Bahkan, ayah mereka bahkan tidak mau mendengar kata Gereja disebutkan di dalam rumahnya dan dengan ia melarangnya dengan ketat. Read the rest of this entry
Santa Perpetua Hong Kum-ju

Perpetua Hong Kum-ju (Sumber: cbck.or.kr)
Perpetua Hong Kum-ju (1804-1839) lahir di luar kota Seoul. Dia seorang wanita yang berkarakter kuat, cerdas, baik dalam cara berbuat maupun caranya berbicara. Dia dibesarkan di rumah neneknya. Dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun, namun entah bagaimana dia dapat menjalankan agamanya. Suaminya meninggal muda, dan dia meninggalkan rumah suaminya itu bersama dengan anak laki-lakinya dan tinggal di Minari-kol. Tak lama kemudian, anak laki-lakinya itu juga meninggal. Pemilik rumah yang dia tinggali yaitu Filipus Choe, mengajarkan ajaran iman dari awal, dan Perpetua berdoa dengan sungguh-sungguh sehingga dia sering menangis dalam doanya. Orang-orang mengagumi perbuatan amal kasihnya dan dikatakan bahwa dia membantu orang lain layaknya seorang pembantu. Read the rest of this entry
Santa Magdalena Pak Pong-son

Magdalena Pak Pong-son (Sumber: cbck.or.kr)
Magdalena Pak Pong-son (1796-1839) lahir di keluarga pagan, dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun dan memiliki dua orang anak perempuan. Ketika suaminya meninggal, dia pulang ke rumahnya di Seoul. Pada tahun 1834, ibu tirinya yaitu Cecilia Kim menunggunya dan membujuk Magdalena supaya menjadi seorang Katolik. Magdalena tinggal di rumah saudara laki-laki ibu tirinya, di luar Pintu Gerbang Selatan di Seoul. Dua belas orang miskin tinggal bersama mereka dan Magdalena sangat baik dan bermurah hati kepada mereka, intinya dia lupa akan dirinya sendiri. Seorang saksi mata berkata tentang dirinya, bahwa semua orang yang melihat dia akan mengagumi dedikasinya untuk mengasihi Allah dan mencintai sesama. Magdalena menunggu penangkapan dirinya di rumah itu dengan tenang. Read the rest of this entry
Santo Ignasius Kim Che-jun

Ignatius Kim Che-jun (Sumber: cbck.or.kr)
Ignasius Kim Che-jun (1796-1839) adalah cucu dari Pius Kim Chin-hu yang menjadi martir pada tahun 1814, ia juga ayah dari Romo Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea, yang menjadi martir pada tahun 1846. Selama hidupnya, Ignasius menjalani kehidupan Katolik yang sangat saleh. Ketika putranya terpilih oleh para misionaris untuk dikirim ke Makau untuk belajar dalam rangka menempuh imamat, Ignasius menyadari akan bahaya yang akan dihadapi seluruh keluarganya dengan mengirimkan salah seorang anggota keluarganya ke luar negeri. Itulah tindakan berani yang dilakukan oleh Ignasius. Read the rest of this entry
Santo Karolus Cho Shin-chol

Carolus Cho Shin-chol (Sumber: cbck.or.kr)
Karolus Cho Shin-chol (1795-1839) lahir di Hoeyang, Gangwon-do, dan keluarganya penganut pagan. Ia kehilangan ibunya ketika masih berusia lima tahun, dan ayahnya menghambur-hamburkan semua kekayaan keluarga. Selama beberapa tahun, pada suatu waktu Karolus dengan kondisinya yang miskin, ia pergi ke sebuah kuil Buddha untuk menyambung hidup. Suatu hari, ia diminta untuk bekerja sebagai seorang hamba bagi para utusan yang akan melakukan perjalanan ke Peking. Karolus menerima tawaran itu. Pada saat itu, ia berusia 23 tahun. Ia orang yang jujur, tidak egois, dan berani, sehingga ia dihormati oleh kawan-kawannya dan juga dikenal sebagai hamba yang paling baik dalam melakukan pekerjaannya. Dengan sejumlah uang yang ia dapatkan dari perjalanan ke Peking, iia membantu ayahnya dan saudara-saudaranya. Read the rest of this entry
Santa Agatha Chon Kyong-hyob

Agatha Chon Kyong-hyob (Sumber: cbck.or.kr)
Agatha Chon Kyong-hyob (1790-1839) lahir di Seoul dari pasangan pagan. Ketika dia masih muda, ayahnya meninggal dan setelah itu dia hidup dengan kondisi yang sangat miskin. Seorang wanita istana yang bernama An Hyong-gwang membantu Agatha dan dia tinggal bersama wanita itu. Beberapa tahun kemudian, kakak laki-laki Agatha berusaha supaya Agatha menikah, namun wanita istana itu tidak memperbolehkannya pergi. Agatha juga terdaftar sebagai wanita istana. Dia menjadi Katolik karena pengaruh dari Lusia Pak, salah seorang wanita istana lainnya. Setelah Lusia pergi dari istana supaya bisa lebih bebas menjalani kehidupan beriman, Agatha juga berpura-pura sakit dan meninggalkan istana karena dia berpikir bahwa kehidupan yang mewah di istana dapat menghambat kehidupan rohaninya. Sejak saat itu, Agatha tinggal bersama Lusia, membaktikan dirinya dalam doa, membaca renungan dan kebajikan. Orang-orang mengagumi dia, dan dia mempertobatkan banyak dari mereka ke agama Katolik. Dia tidak mengeluh bahkan dalam kondisi yang sangat miskin dan kesehatannya buruk. Dia hanya menunggu untuk ditangkap. Read the rest of this entry


Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…