Santo Fransiskus Choe Kyong-hwan

Fransiscus Choe Kyong-hwan (Sumber: cbck.or.kr)

Fransiskus Choe Kyong-hwan (1805-1839) berasal dari suku Kyongju Choe, ia lahir pada tahun 1805 dari keluarga kaya raya di Taraekkol, Honjugun, Provinsi Ch’ungch’ong. Kakeknya yaitu Choe Han-il adalah anggota keluarga yang pertama dibaptis pada tahun 1787, setelah menerima bimbingan dari seseorang ternama yaitu, Yi Chon-ch’ang.

Setelah masa yang begitu lama tanpa ada seorang imam, banyak orang-orang Katolik yang hanya tinggal nama saja. Mereka rutin melakukan perbuatan takhayul dan penyembahan berhala, sehingga banyak sekali halangan untuk menaati Sepuluh Perintah Allah dan menjalankan iman mereka. Fransiskus tidak dapat mentolerir keadaan seperti ini, sehingga suatu hari ia pergi dari rumah dan menetap di sebuah desa di Gunung Suri di dekat Kwach’on di Provinsi Kyonggi.

Di tempat yang baru ia temukan ini, Fransiskus bisa melakukan ajaran iman. Ia menebang pepohonan di lereng bukit, kemudian menanam tembakau dan juga membantu membangunkan rumah bagi orang-orang Katolik yang baru saja datang di tempat itu. Dengan segenap hati dan jiwa mereka mematuhi Sepuluh Perintah Allah dan pada malam hari mereka mempelajari ajaran iman, merenungkannya juga berdoa.

Pada awalnya, hanya ada tiga atau empat keluarga yang tinggal di desa itu, namun perlahan-lahan desa itu bertumbuh sampai lebih dari dua puluh keluarga. Pada malam hari, Fransiskus akan mengumpulkan mereka semua di rumahnya dan mengajarkan ajaran iman kepada mereka. Penjelasannya tentang ajaran Gereja begitu tekun, ringkas, dan meyakinkan. Kemampuannya berbicara dikenal luas sehingga umat Katolik berdatangan dari tempat yang jauh untuk mendengarkannya.

Ia bukan orang yang terdidik dengan baik tapi dengan tekun merenungkan dan mempelajari buku-buku rohani, membangkitkan kasih kepada Allah yang bernyala-nyala di dalam hatinya, ia juga memiliki pengetahuan yang luar biasa akan kebenaran Gereja. Di mana pun ia bekerja, baik di rumahnya, di ladang ataupun sedang melakukan perjalanan, hatinya selalu bersekutu dengan Allah. Tidak pernah ada hal-hal lain selain yang berkaitan dengan kasih kepada Allah dan devosi.

Pada tahun 1839, ia dipilih sebagai seorang katekis. Penganiayaan pada tahun 1839 mulai terjadi dan di sekitar wilayah Hanyang, ada banyak umat Katolik ditangkap dan harus mengalami kelaparan dan penderitaan. Fransiskus mengumpulkan uang dan berkeliling menggunakan uang itu untuk membantu umat Katolik yang dipenjarakan dan juga orang miskin yang bukan umat beriman. Ia juga membantu untuk memakamkan jenazah para martir.

Setelah kembali ke rumahnya, ia membimbing keluarganya supaya mempersiapkan diri demi kemartiran. Ia mengumpulkan semua benda-benda rohani dan menguburkannya di dalam tanah, kecuali buku-buku katekese. Ia berkata, “Kita menyembunyikan benda-benda rohani supaya tidak dinajiskan, tapi buku-buku ini tidak diberkati. Seorang prajurit yang akan pergi berperang membutuhkan panduan perang. Pada saat ini, kita harus mempelajari semua buku ini dengan lebih sungguh-sungguh.”

Pada tahun 1836, ketika Fransiskus Choe Kyong-hwan berusia tiga puluh satu tahun, Pastor Maubant, seorang misionaris dari Serikat Misi Paris (Paris Foreign Missions Society / Société des Missions étrangères de Paris disingkat menjadi M.E.P.) tiba di Korea. Karena tahu akan kesulitan bagi seorang imam asing untuk masuk dan tinggal di Korea, Pastor Maubant memutuskan untuk mengirim orang muda Korea ke luar negeri untuk belajar imamat.

Putra tertua Fransiskus Choe Kyong-hwan yaitu Choe Yang-up diberitahukan kepada Pastor Maubant bahwa ia sangat cerdas, sehingga Pastor Maubant memutuskan untuk memanggil kedua orang tuanya. Pastor Maubant duduk menghadap suami istri itu dan membicarakan hal itu dengan hati-hati.

“Fransiskus dan Maria, hari ini saya datang untuk membicarakan hal yang sangat penting. Saya mendengar bahwa putra Anda yaitu Thomas, adalah seorang yang sangat cerdas. Saya ingin mengirimkannya ke Makau untuk belajar imamat. Apakah kalian memberikan restu?”

“Terima kasih, Pastor. Hal ini bukan kehendak kami, tetapi panggilan Allah. Kami tidak mengira bahwa berkat dan kebahagiaan ini datang ke rumah kami. Sekali lagi, saya berterima kasih.” Begitulah pasangan ini memberikan restunya.

Santo Fransiskus Choe Kyong-­hwan (Sumber: cbck.or.kr)

Pada saat itu, karena pengaruh Konfusianisme tidak mudah bagi orang Korea untuk mengirimkan anak-anak laki-lakinya untuk tinggal di tempat yang jauh walaupun jika tinggal bersama dengan kakak atau adik laki-lakinya. Kendati demikian, pasangan itu menyadari bahwa mengirimkan putra mereka ke tempat yang jauh merupakan kehendak Allah.

Pada malam hari tanggal 31 Juli 1839, polisi dari Hanyang mendatangi desa di Gunung Suri, polisi itu mengepung rumah Fransiskus sambil berteriak, menghina dan mendobrak pintu gerbang. Namun demikian, Fransiskus menerima mereka seperti menyambut tamu.

“Selamat datang di rumah kami. Mengapa begitu lama? Kami sudah menantikan Anda sejak lama. Kami semua sudah siap dengan kedatangan Anda. Masuk dan beristirahatlah sampai fajar. Dan pagi-pagi benar, mari kita pergi bersama-sama.”

Ia menyuguhi mereka dengan arak beras. Polisi kagum melihat sikap seperti itu, dan mereka saling bertanya, “Orang-orang ini adalah orang beriman sejati. Tidak ada bahaya bahwa mereka akan melarikan diri, jadi mari kita beristirahat sebelum berangkat.”

Ketika para polisi beristirahat, Fransiskus berkeliling di desa dan berkata kepada warga desa, “Penganiaayan ini terjadi di seluruh negeri dan sepertinya pemerintah berniat untuk membasmi total Gereja. Pada fajar nanti, mari kita pergi bersama polisi, jadilah saksi bagi iman kita dan mencapai kemartiran.”

Umat Katolik setuju akan permohonan itu. Kepada anak-anaknya sendiri ia berkata, “Bahkan jika kamu diam di sini, kamu tidak bisa lari dari kematian. Daripada kelaparan sampai mati di rumah, akan lebih baik jika mati di penjara di Hanyang. Mati ketika memberi kesaksian di penjara adalah kemartiran sejati.”

Ketika fajar, ia bangun dan menyediakan sarapan bagi polisi. Kepada seorang polisi yang lusuh, ia memberikan pakaian yang bersih. Warga desa dikumpulkan dan ditanyai apakah mereka adalah umat Katolik. Siapapun yang murtad diperbolehkan untuk pergi.

Pagi-pagi benar, Fransiskus dan sekitar 40 orang lainnya, termasuk anak-anak, dikumpulkan dan dibawa ke Seoul. Seseorang memperkirakan jumlah mereka semua ada 100 orang. Fransiskus berjalan di depan, kemudian diikuti oleh kaum pria, kemudian wanita dan anak-anak. Polisi mengikuti mereka dari belakang. Fransiskus berkata kepada umat Katolik yang kelelahan bahwa ada malaikat sedang mengukur langkah mereka dengan penggaris emas dan menguatkan mereka dengan memikirkan Yesus di salib. Pada saat itu adalah puncak musim panas dan suhu panas membuat mereka kesulitan berjalan, terutama bagi wanita dan anak-anak. Di antara orang-orang yang menonton prosesi yang aneh ini terdapat orang-orang yang menghujat dan ada juga yang mengasihani mereka.

Saat mereka tiba si Pintu Gerbang Besar Selatan, orang-orang berteriak kepada mereka, “Kalian orang-orang jahat. Matilah jika kalian mau, namun mengapa kalian membuat anak-anak yang tidak bersalah ini mati bersama kalian?” Sebelum mereka tiba di penjara, hari sudah petang.

Pada hari berikutnya, interogasi dilakukan. Komisaris polisi berkata,“Jika kamu ingin mempercayai imanmu, lakukanlah sendiri, jangan menipu orang-orang itu.”

Dengan peringatan ini, Fransiskus menjawab, “Siapapun yang tidak percaya kepada Gereja Katolik akan pergi ke neraka.” Mendorong mereka untuk percaya kepada Gereja Katolik adalah karena kasih, untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dari neraka. Hakim yang marah memerintahkan supaya Fransiskus disiksa sampai ia mau menarik kembali perkataannya dan murtad. Namun, dengan berani ia menanggung siksaan walaupun seluruh tubuhnya sudah berdarah dan penuh dengan luka.

Fransiskus mengalami pendarahan berat sampai tulangnya telihat, namun ia tetap teguh. Selanjutnya, umat Katolik lainnya dipanggil dan ditanyai. Namun, mereka tidak dapat menahan siksaan yang kejam dan akhirnya mereka semua menyangkal agama mereka kecuali tiga orang yaitu Fransiskus, istrinya dan kerabatnya yaitu Emerentia Yi. Katekis Fransiskus Choe merasa sedih karena melihat teman-teman Katoliknya pergi, dan komunitas Gunung Suri berkurang hanya menjadi tiga orang.

Ketika para hakim mengetahui bahwa salah seorang putranya yaitu Thomas Choe Yang-up telah pergi ke Makau untuk belajar teologi, mereka semakin menekannya supaya mau menyangkal Allah. Mereka memukulinya dengan sangat kejam sehingga tulang kaki dan tangannya terlepas. Fransiskus berkata kepada mereka: “Kalian dapat membuat saya tidak makan, namun kalian tidak akan pernah membuat saya untuk menyangkal Allah.” Kemudian ia melanjutkan, “Berani sekali Anda meminta saya untuk mengkhianati Gereja.  Perselingkuhan di antara orang-orang biasa dianggap sebagai sesuatu yang salah. Apalagi melakukan pengkhianatan kepada Allah!”

Berdasarkan keterangan para saksi, selama dua bulan Fransiskus berada di penjara dan tidak ada hari tanpa disiksa dengan berat sampai seluruh tubuhnya menjadi satu luka yang besar.

Dikatakan bahwa ia dicambuk 340 kali dan dipukuli dengan gada pada tulang keringnya sebanyak 110 kali. Walapun semuanya itu, ia tidak pernah berhenti berdoa dan mewartakan Injil kepada orang di sekitarnya. Suatu hari, untuk memperparah penderitaannya, kepala polisi mengikat seorang perampok yang bengis bersamanya. Perampok itu mencemoohnya dan menendang luka-lukanya. Namun, Fransiskus menanggung semuanya tanpa sepatah kata pun, bahkan sampai perampok itu merasa terbujuk dan menyatakan, “Jika ada orang yang percaya Gereja Katolik, mereka harus percaya seperti dirinya.”

Jika kesabaran dan keberaniannya bukan berasal dari kedalaman imannya kepada Allah, maka dia tidak akan dapat bertahan dari siksaan berat dan kesulitan. Di tengah rasa sakit, kapan pun dia diminta untuk menjelaskan ajaran tentang Allah, maka Fransiskus dengan penuh sukacita dan dengan senang hati mengajarkan ajaran iman kepada mereka yang berada di penjara bersama dengannya. Suatu hari, seorang sipir penjara membawa mitra dan jubah Uskup Imbert kepada Fransiskus, kemudian Fransiskus membungkuk dengan hormat, dan ia berkata bahwa ia sedang membungkuk kepada salib.

Pada tanggal 11 September, Fransiskus dibawa keluar untuk diadili lagi dan ia dipukuli dengan gada sebanyak 50 kali, itulah yang menjadi siksaan terakhirnya.

Kembali ke penjara, ia tahu bahwa dirinya sedang sekarat, ia berkata kepada teman-teman Katoliknya, “Saya berharap untuk memberikan kesaksian iman dengan mati karena pedang. Namun, saya mati di penjara adalah kehendak Allah.”

Beberapa jam kemudian pada tanggal 12 September 1839, ia menghembuskan napas terakhirnya. Pada saat itu, ia berusia 35 tahun. Walaupun kematiannya tidak sedramatis dengan cara dipenggal, semangatnya masih bersinar sebagai tanda heroik iman yang sejati bagi semua umat beriman.

Istrinya, tidak mampu untuk mengatasi cinta keibuannya kepada anak-anaknya yang masih kecil, dan dia setuju untuk murtad, namun kemudian dia segera menyesali keputusannya dan menarik kembali pernyataannya. Setelah penderitaannya yang begitu berat, dia dipenggal di Tangkogae pada tanggal 29 Desember 1839 pada usia 39 tahun. Fransiskus dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Putra tertua Fransiskus Choe Kyong-hwan yaitu Thomas Choe Yang-up (1821-1861) ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai pada tahun 1849 dan kemudian ia kembali ke Korea. Ia bekerja di Korea selama dua belas tahun dengan mengunjungi desa-desa terpencil di mana tidak ada imam asing yang dapat menjelajahi tempat itu. Ia juga mengumpulkan banyak informasi tentang para martir, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin dan mengirimkannya ke Roma. Buku “Sejarah Gereja di Korea” karangan Claude-Charles Dallet, berutang banyak kepada pekerjaan yang telah dilakukan oleh Pastor Thomas Choe Yang-up pada masa itu. Terlepas dari sejarah Gereja di Korea, Pastor Choe juga menulis banyak hal tentang kebudayaan, adat istiadat, geografi, sastra dan kesenian Korea, untuk memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas lagi yaitu orang Barat.

Ia juga membuat buku-buku tentang ajaran Katolik untuk digunakan oleh umat beriman Korea. Kata-kata dari salah satu puisinya menggambarkan apa yang berada dalam pikirannya: “Oh ya, teman-temanku, mari kita mencari rumah sejati kita.”

 

Sumber: cbck.or.kr

Posted on 4 April 2016, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: