Bapa Kami – Memahami Kebapaan Allah

Oleh Dr. Scott Hahn

God The Father (Sumber: stpaulcenter.com)

Jika kita ingin menjadi seorang Kristen, kita tidak punya pilihan selain berdoa, “Bapa Kami.” Ketika para murid mula-mula memohon Yesus untuk mengajarkan mereka berdoa, Yesus mengajar mereka mengucapkan kata-kata itu. Berdoa sebagai seorang Kristen berarti berdoa, “Bapa Kami.”

Namun, pada mula-mula pelayanan saya, saya mempelajari bahwa kata ‘Bapa’ menjadi batu sandungan bagi sebagian orang. Perceraian merupakan hal yang lumrah, seperti halnya kelahiran anak di luar perkawinan. Saya tinggal di sebuah negara yang digambarkan sebagai Amerika tanpa bapa/ayah. Jadi semakin banyak orang yang memahami kalau seorang ayah itu bukan seorang yang memberi, guru, atau pelindung. Ayah hanya berarti hal yang tidak ada sekaligus menyakitkan, atau juga sebagai kehadiran akan suatu yang kasar.

Selain itu, anak-anak yang dibesarkan oleh seorang ayah yang baik juga terlalu menyadari akan kelemahan, permasalahan, dan dosa-dosa ayahnya itu. Niat terbaik dari para ayah yang paling bijak sekalipun seringkali tidak sesuai dalam tindakan yang dilakukannya. Itulah apa yang tidak kita berikan kepada anak-anak kita sebagai ayah duniawi! Namun kita tidak selalu mempunyai apa yang mereka inginkan atau butuhkan, dan ketika kita mempunyainya, kita tidak tahu bagaimana memberikan kepada anak-anak kita tanpa memanjakannya.

Itulah sebabnya Tradisi memberi tahu kita bahwa kita harus memahaminya dengan melampaui pengalaman duniawi dan ingatan kebapaan kita di dunia ketika kita mendoakan “Bapa Kami.” Karena meskipun Allah adalah Sang Pemberi, Sang Pemurah, dan Sang Pelindung, Allah bukan sekadar ayah duniawi seperti para bapa bangsa, atau pun sosok kebapaan lainnya. Katekismus menyatakan demikian: “Allah Bapa kita berada di atas gagasan-gagasan dunia tercipta ini. Siapa yang di bidang ini memindahkan gagasannya sendiri kepada Allah, ia menciptakan untuk dirinya berhala-berhala, yang akan ia sembah atau tolak. Berdoa kepada Bapa berarti masuk ke dalam misteri-Nya sebagaimana ada-Nya dan seperti Putera menyatakan-Nya kepada kita (KGK 2779).

Bagaimana Yesus yang adalah Allah Putra menyatakan Bapa kepada kita? Sebagai “Bapa kami yang di surga” (Matius 6:9). Dengan menambahkan frase preposisi “di surga,” Yesus menekankan perbedaan dalam hal kebapaan Allah. Bapa, pribadi kepada siapa kita berdoa bukanlah bapa duniawi. Bapa “yang melampaui” kita, Ialah yang Pribadi yang kita nyatakan dalam syahadat sebagai “Bapa Yang Mahakuasa,” Ia yang kuat kuasa dalam segala hal. Meskipun kita lemah terbatas rentan terhadap kesalahan, namun tidak ada yang mustahil bagi Allah (Lukas 1:37).

Maka kekuatan Allah yang membedakan kebapaan-Nya dari kebapaan yang sudah kita ketahui atau yang pernah kita bayangkan. “Kebapaan-Nya dan kekuasaan-Nya saling menerangkan” (KGK 270). Tidak seperti bapa duniawi, Allah selalu memiliki niat yang paling baik bagi anak-anak-Nya, dan Ia selalu mampu melakukannya. Yesus ingin kita mengetahui hal ini sehingga kita bisa selalu mendekati Bapa surgawi kita dengan keyakinan dan kepercayaan: “Apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” (Matius 21:22).

Katekismus mengajarkan bahwa “Ia menunjukkan kekuasaan-Nya sebagai Bapa dengan memelihara kita” (KGK 270). Melalui doa yang seumur hidup kita ucapkan itu, kita mengenal Allah sebagai Bapa karena kita mengalami pemeliharaan-Nya kepada kita. Kita melihat bagi diri kita sendiri bahwa Allah itu Mahakuasa, dan Ia tidak akan menolak segala yang baik bagi kita.

Kadang-kadang kebapaan duniawi mencerminkan karakteristik ini, seperti halnya jabatan-jabatan yang mengambil peran kebapaan dalam masyarakat, contohnya imamat dan contoh lainnya adalah pemerintah. Namun para bapa duniawi bisa menyempurnakan kebapaan mereka hanya dengan memurnikan diri mereka sendiri dari motif duniawi, seperti keserakahan isi hati, dan hasrat untuk mengendalikan diri. Para bapa duniawi bisa menjadi para bapa sejati hanya dengan menyesuaikan diri mereka dengan gambar Bapa Surgawi, dan gambar itu adalah putra-Nya yang sulung, Yesus Kristus.

Dalam memerintah, dalam pola asuh anak, atau dalam imamat, kita berlatih untuk memerankan peran kebapaan dengan lebih sempurna ketika kita “bertumbuh” dalam Keluarga Allah: “Kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Roma 8:16-17). Proses ini adalah koreksi ilahi terhadap gagasan patriarki dan hierarki yang sudah terdistorsi di dunia ini.

Seorang penulis Kristen kuno yang bernama Dionisius dari Areopagus menggambarkan bahwa hierarki sebagai sesuatu yang berasal dari surga, di mana cahaya ilahi diteruskan para malaikat dan orang-orang kudus seolah-oleh semuanya transparan. Kemudian, karunia Allah diteruskan secara murni dari satu orang ke orang berikutnya. Mereka yang paling dekat dengan Allah yang juga lebih tinggi hierarkinya, akan melayani yang lebih rendah hierarkinya. Pada setiap tahap, mereka memberi seperti Allah yang memberikan, dan tidak menyimpan apa pun untuk diri mereka sendiri.

Di sini kita bisa memerhatikan bagaimana hal-hal rohani berbeda dengan hal-hal materi. Jika saya mempunyai kepemilikan tunggal atas suatu barang, misalnya mantel olahraga atau dasi, maka orang lain tidak bisa memiliki atau menggunakannya pada saat yang bersamaan. Namun, ada hal-hal yang lebih tinggi derajatnya yaitu hal-hal spiritual, seperti iman, harapan, kasih, liturgi, jasa para kudus. Hal-hal itu bisa digunakan dan dimiliki seutuhnya oleh semua orang. Begitulah cara kerja hierarki dengan di dalamnya ada para malaikat dan para kudus di surga.

Supaya cara penggunaan bersama ini bisa terjadi “di bumi seperti di dalam surga” maka memerlukan kesempurnaan kebapaan duniawi, yang hanya bisa terjadi jika kita sungguh-sungguh berdoa, “Bapa Kami yang ada di surga.” Allah adalah Bapa sumber segala sesuatu, “yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” (Efesus 3:15). Ialah teladan kekal yang harus menjadi tolok ukur semua bapa duniawi.

Selama berabad-abad, para skeptis bertanya-tanya apakah berdoa kepada “Bapa kami yang ada di surga” itu konsisten dengan keyakinan kita bahwa “Allah ada di mana-mana” dan Ia diam di antara kita (Yohanes 14:16, 23).

Tentu saja, Allah ada di mana-mana, di atas bumi seperti di dalam surga. Ia selalu hadir bersama kita, dan Ia tinggal dalam kita ketika diri kita berada dalam keadaan rahmat, bebas dari dosa berat. Namun Yesus mengajar kita untuk berdoa “Bapa kami yang ada di surga” karena Ia ingin mengangkat pandangan kita dari tempat pengasingan kita di bumi ke rumah sejati kita yakni surga. St. Yohanes Krisostomus mengatakan hal ini dengan baik: Yesus mengajarkan kita berdoa dengan cara demikian bukan untuk “membatasi Allah di surga,” namun untuk mengangkat kita dari bumi dan menempatkan kita “di tempat yang tinggi dan di tempat tinggal di atas sana.”

Allah menciptakan kita bagi diri-Nya sendiri, Ia menciptakan kita untuk surga. Surga bukan dipisahkan oleh ruang angkasa yang jauhnya jutaan tahun cahaya, namun oleh dosa kita. Namun Allah sendiri  menciptakan tempat pengasingan bagi kita, dan tempat itu adalah tempat yang baik. Dengan demikian, mudah bagi kita untuk merasa nyaman dalam kehidupan duniawi kita dan lupa akan takdir kita yang kekal. Mari kita pikirkan ketika bangsa Israel mengembara di padang gurun, setelah mengalami masa sulit selama bertahun-tahun, mereka teringat kembali (nostalgia) ketika masa perbudakan di Mesir, setidaknya di Mesir perut mereka kenyang.

Kita juga bisa berpikir demikian. Ketika masalah duniawi menghampiri kita, janji-janji surga seolah-olah tidak nyata dan begitu jauh. Ketika kita memperbaiki pandangan kita mendekati cakrawala, iri hati yang timbul dalam pikiran, dendam, dan hasrat serakah, semuanya itu tampak masuk akal bagi kita. Maka jika kita mengikuti logika itu yang memikat, mungkin kita bisa merai hal-hal yang kita inginkan saat ini.

Obat untuk masalah ini, tentu saja dengan mengarahkan pandangan kita ke atas atau ke surga yang adalah rumah yang dijanjikan bagi kita. Dengan kemurahan dan kuasa Allah, juga dengan kebapaan-Nya, Allah menjanjikan kita hal-hal yang besar. Sekarang kita hidup dalam keadaan rahmat, namun kemudian, ketika kita bersama “Bapa kami yang ada di surga,” kita akan hidup dalam keadaan yang mulia. Sekarang kita adalah bait-Nya, namun nanti Allah akan menjadi Bait kita (Wahyu 21:22). Sekarang, Ia tinggal di dalam kita, namun kemudian kita akan tinggal di dalam-Nya.

Meskipun kita belum pulang ke rumah kita itu, Allah Bapa beserta kita, dan Ia berkuasa untuk membimbing kita untuk melalui padang pasir dan menyebrangi Sungai Yordan. Meskipun kita masih punya perjalanan panjang di hadapan kita, Ia selalu berada di tengah-tengah kita.

 

Dr. Scott Hahn adalah Pendiri dan Presiden dari St. Paul Center. Dia seorang penulis lebih dari empat puluh judul buku. Bukunya yang berjudul “Understanding “Our Father”: Biblical Reflections on the Lord’s Prayer” adalah salah satu dari karya-karyanya yang paling populer, yang selangkah demi selangkah menjelaskan doa yang memilki kuasa namun sering kita doakan begitu saja.

 

Sumber: “Our Father: Understanding the Fatherhood of God”

Posted on 27 July 2020, in Doa, Kenali Imanmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: