Blog Archives

Santa Kolumba Kim Hyo-im

Columba Kim Hyo-im (Sumber: cbck.or.kr)

Kolumba Kim Hyo-im (1814-1839) lahir pada tahun 1814 dan adiknya yaitu Agnes Kim Hyo-ju (1816-1839) lahir dua tahun kemudian dari keluarga pagan di Bamseom, yang berarti pulau kastanya, di tepian sungai Han. Pada awalnya keluarga mereka bukan Katolik, namun ibu mereka mulai ada ketertarikan terhadap iman dan berangsur-angsur semakin dekat dengan iman, tapi ayah mereka bukan seorang beriman. Bahkan, ayah mereka bahkan tidak mau mendengar kata Gereja disebutkan di dalam rumahnya dan dengan ia melarangnya dengan ketat. Read the rest of this entry

Santa Perpetua Hong Kum-ju

Perpetua Hong Kum-ju (Sumber: cbck.or.kr)

Perpetua Hong Kum-ju (1804-1839) lahir di luar kota Seoul. Dia seorang wanita yang berkarakter kuat, cerdas, baik dalam cara berbuat maupun caranya berbicara. Dia dibesarkan di rumah neneknya. Dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun, namun entah bagaimana dia dapat menjalankan agamanya. Suaminya meninggal muda, dan dia meninggalkan rumah suaminya itu bersama dengan anak laki-lakinya dan tinggal di Minari-kol. Tak lama kemudian, anak laki-lakinya itu juga meninggal. Pemilik rumah yang dia tinggali yaitu Filipus Choe, mengajarkan ajaran iman dari awal, dan Perpetua berdoa dengan sungguh-sungguh sehingga dia sering menangis dalam doanya. Orang-orang mengagumi perbuatan amal kasihnya dan dikatakan bahwa dia membantu orang lain layaknya seorang pembantu. Read the rest of this entry

Santa Magdalena Pak Pong-son

Magdalena Pak Pong-son (Sumber: cbck.or.kr)

Magdalena Pak Pong-son (1796-1839) lahir di keluarga pagan, dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun dan memiliki dua orang anak perempuan. Ketika suaminya meninggal, dia pulang ke rumahnya di Seoul. Pada tahun 1834, ibu tirinya yaitu Cecilia Kim menunggunya dan membujuk Magdalena supaya menjadi seorang Katolik. Magdalena tinggal di rumah saudara laki-laki ibu tirinya, di luar Pintu Gerbang Selatan di Seoul. Dua belas orang miskin tinggal bersama mereka dan Magdalena sangat baik dan bermurah hati kepada mereka, intinya dia lupa akan dirinya sendiri. Seorang saksi mata berkata tentang dirinya, bahwa semua orang yang melihat dia akan mengagumi dedikasinya untuk mengasihi Allah dan mencintai sesama. Magdalena menunggu penangkapan dirinya di rumah itu dengan tenang. Read the rest of this entry

Santo Ignasius Kim Che-jun

Ignatius Kim Che-jun (Sumber: cbck.or.kr)

Ignasius Kim Che-jun (1796-1839) adalah cucu dari Pius Kim Chin-hu yang menjadi martir pada tahun 1814, ia juga ayah dari Romo Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea, yang menjadi martir pada tahun 1846. Selama hidupnya, Ignasius menjalani kehidupan Katolik yang sangat saleh. Ketika putranya terpilih oleh para misionaris untuk dikirim ke Makau untuk belajar dalam rangka menempuh imamat, Ignasius menyadari akan bahaya yang akan dihadapi seluruh keluarganya dengan mengirimkan salah seorang anggota keluarganya ke luar negeri. Itulah tindakan berani yang dilakukan oleh Ignasius. Read the rest of this entry

Santo Karolus Cho Shin-chol

Carolus Cho Shin-chol (Sumber: cbck.or.kr)

Karolus Cho Shin-chol (1795-1839) lahir di Hoeyang, Gangwon-do, dan keluarganya penganut pagan. Ia kehilangan ibunya ketika masih berusia lima tahun, dan ayahnya menghambur-hamburkan semua kekayaan keluarga. Selama beberapa tahun, pada suatu waktu Karolus dengan kondisinya yang miskin, ia pergi ke sebuah kuil Buddha untuk menyambung hidup. Suatu hari, ia diminta untuk bekerja sebagai seorang hamba bagi para utusan yang akan melakukan perjalanan ke Peking. Karolus menerima tawaran itu. Pada saat itu, ia berusia 23 tahun. Ia orang yang jujur, tidak egois, dan berani, sehingga ia dihormati oleh kawan-kawannya dan juga dikenal sebagai hamba yang paling baik dalam melakukan pekerjaannya. Dengan sejumlah uang yang ia dapatkan dari perjalanan ke Peking, iia membantu ayahnya dan saudara-saudaranya. Read the rest of this entry

Santa Agatha Chon Kyong-hyob

Agatha Chon Kyong-hyob (Sumber: cbck.or.kr)

Agatha Chon Kyong-hyob (1790-1839) lahir di Seoul dari pasangan pagan. Ketika dia masih muda, ayahnya meninggal dan setelah itu dia hidup dengan kondisi yang sangat miskin. Seorang wanita istana yang bernama An Hyong-gwang membantu Agatha dan dia tinggal bersama wanita itu. Beberapa tahun kemudian, kakak laki-laki Agatha berusaha supaya Agatha menikah, namun wanita istana itu tidak memperbolehkannya pergi. Agatha juga terdaftar sebagai wanita istana. Dia menjadi Katolik karena pengaruh dari Lusia Pak, salah seorang wanita istana lainnya. Setelah Lusia pergi dari istana supaya bisa lebih bebas menjalani kehidupan beriman, Agatha juga berpura-pura sakit dan meninggalkan istana karena dia berpikir bahwa kehidupan yang mewah di istana dapat menghambat kehidupan rohaninya. Sejak saat itu, Agatha tinggal bersama Lusia, membaktikan dirinya dalam doa, membaca renungan dan kebajikan. Orang-orang mengagumi dia, dan dia mempertobatkan banyak dari mereka ke agama Katolik. Dia tidak mengeluh bahkan dalam kondisi yang sangat miskin dan kesehatannya buruk. Dia hanya menunggu untuk ditangkap. Read the rest of this entry

Santa Yuliet Kim

Iulietta Kim (Sumber: cbck.or.kr)

Yuliet Kim (1784-1839) lahir di wilayah pedesaan. Kedua orang tuanya sangat dipuji oleh Uskup Ferreol sebagai pasangan yang luar biasa. Kemudian, seluruh keluarganya pindah ke Seoul. Kedua orang tuanya ingin supaya dia menikah, namun Yuliet ingin hidup sebagai seorang perawan dan menolak untuk menikah. Untuk membuktikan bahwa keteguhannya, dia memotong rambutnya. Akhirnya, kedua orang tuanya berkata bahwa mereka akan memberikan keputusan ketika rambutnya tumbuh. Read the rest of this entry

Santo Sebastianus Nam I-gwan

Sebastianus Nam I-gwan (Sumber: cbck.or.kr)

Sebastianus Nam I-gwan (1780-1839) lahir dari keluarga bangsawan. Kedua orang tuanya menjadi Katolik pada akhir abad ke 18. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Ayahnya ditangkap pada tahun 1801 dan meninggal di pengasingan. Pada saat itu, Sebastianus berusia sekitar 20 tahun. Ketika ia berada di pengasingan di Danseong, Provinsi Gyeongsang, ia menikah. Ia belum dibaptis, dan ia hanya mengucapkan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Karena ia tidak mempunyai anak, ia mengambil seorang selir, tanpa mengetahui bahwa perbuatan itu salah. Pada usia 40 tahun, ia sakit parah, ia dibaptis dan menyuruh selirnya pergi. Beberapa tahun kemudian, ia dibebaskan dari pengasingan dan pergi menuju Uiju bersama dengan Paulus Chong Ha-sang dan teman-temannya, mereka berusaha untuk membawa seorang imam dari Tiongkok yaitu Pastor Yu. Kemudian Sebastianus menjadi asisten Pastor Yu dan memperbolehkan pastor itu tinggal di rumahnya. Read the rest of this entry

Santa Magdalena Ho Kye-im

Magdalena Ho Kye-im (Sumber: cbck.or.kr)

Magdalena Ho Kye-im (1773-1839) tinggal di Pongchon bersama dengan keluarganya. Dia menikah dengan Yi, seorang yang bukan umat beriman. Magdalena tidak dapat mengubah keyakinan suaminya, namun dia membesarkan anak-anaknya secara Katolik. Di antara putri-putrinya, Magdalena Yi menjadi martir pada tanggal 20 Juli 1839 dan juga Barbara Yi yang menjadi martir pada tanggal 3 September 1839. Read the rest of this entry

Santo Agustinus Yu Chin-gil

Augustinus Yu Chin-gil (Sumber: cbck.or.kr)

Santo Agustinus Yu Chin-gil (1791-1839) berasal dari keluarga pejabat pemerintahan. Di antara para martir dari Korea, ia adalah satu dari tiga orang yang memegang jabatan pemerintahan dan juga adalah ayah dari seorang martir yang berusia 13 tahun yaitu Santo Petrus Yu Tae-ch’ol yang juga menjadi martir termuda dalam 103 Martir dari Korea. Read the rest of this entry