Author Archives: Terang Iman

Santa Magdalena Han Yong-i

Magdalena Han Yong-i (Sumber: cbck.or.kr)

Magdalena Han Yong-i (1783-1839) adalah ibu dari Agatha Kwon Chin-i. Ketika Magdalena masih muda, dia menikah dengan Kwon Chin, seorang pejabat pemerintahan terpelajar yang berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Kwon menjadi seorang Katolik ketika sudah berusia paruh baya, dan dia juga yang membuat Magdalena, istrinya itu menjadi seorang Katolik. Dia dibaptis di akhir hidupnya dan memohon Magdalena supaya menjadi seorang Katolik selamanya. Setelah itu, kendati Magdalena hidup sangat miskin, dia sangat saleh. Walaupun sangat miskin, dia tidak pernah mengeluh, tetapi selalu bersyukur kepada Allah atas kehidupannya yang miskin. Read the rest of this entry

Santa Barbara Cho Chung-i

Barbara Cho Chung-i (Sumber: cbck.or.kr)

Barbara Cho Chung-i (1781-1839) adalah istri dari Sebastianus Nam I-gwan. Dia lahir pada tahun 1781 di keluarga bangsawan ternama. Dia menikah dengan Sebastianus Nam ketika dia berusia 16 tahun dan melahirkan seorang putra, namun putranya meninggal tak lama setelah dilahirkan. Read the rest of this entry

Santo Petrus Choe Chang-hub

Petrus Choe Chang-hub (Sumber: cbck.or.kr)

Petrus Choe Chang-hub (1786-1840) adalah adik dari Yohanes Choe yang menjadi martir pada tahun 1801, dan juga suami dari Magdalena Son yang dipenggal pada tahun 1840. Read the rest of this entry

Santa Cecilia Yu So-sa

Caecilia Yu So-sa (Sumber: cbck.or.kr)

Cecilia Yu So-sa (1761-1839) adalah istri kedua dari Agustinus Chong Yak-jong yang ternama dan menjadi martir pada tahun 1801, dia juga ibu dari Paulus Chong Ha-sang dan Elisabeth Chong Chong-hye. Cecilia menjadi seorang Katolik melalui bujukan dari suaminya dan kemudian dia menunjukkan keberanian dan iman. Ketika suaminya ditangkap, dia juga ditangkap bersama dengan ketiga anaknya. Kemudian dia dibebaskan dengan anak-anaknya, namun semua harta bendanya disita. Dia pergi untuk tinggal di rumah saudara laki-laki suaminya di Majae (Mahyon) di Gwangju, Provinsi Gyeonggi, namun dia tidak diperlakukan dengan baik. Read the rest of this entry

Santo Petrus Yu Tae-chol

Petrus Yu Tae-chol (Sumber: cbck.or.kr)

Petrus Yu Tae-chol (1826-1839) masih berusia 13 tahun ketika menjadi martir. Ayahnya, Agustinus Yu Chin-gil menjadi martir, namun ibunya tidak menjadi seorang Katolik, dan berusaha keras untuk menghalangi putranya itu dalam menjalankan imannya dan memaksanya untuk mempersembahkan kurban kepada para leluhur. Ibunya dan saudarinya berkata kepada Petrus, mengapa dia tidak patuh kepada ibunya. Petrus dengan lembut menjawab bahwa tidak pantas mematuhi ibunya tetapi tidak patuh kepada Raja Surgawi dan Bapa segala ciptaan. Dalam hal lain, Petrus mematuhi ibunya dengan setia dan berusaha untuk tidak menyinggung keluarganya, kecuali dalam hal iman. Read the rest of this entry

Santa Magdalena Cho

Magdalena Cho (Sumber: cbck.or.kr)

Katarina Yi (1782-1839) dan Magdalena Cho (1806-1839) adalah ibu dan anak perempuannya. Mereka ditangkap bersama-sama, ditempatkan di penjara yang sama dan mereka mati bagi Yesus Kristus di saat yang hampir bersamaan. Walaupun di dunia ini mereka berdua mengalami hidup yang sangat miskin selama beberapa tahun, namun Allah memberikan mereka kekayaan surgawi yang kekal. Read the rest of this entry

Santa Katarina Yi

Catharina Yi (Sumber: cbck.or.kr)

Katarina Yi (1782-1839) dan Magdalena Cho (1806-1839) adalah ibu dan anak perempuannya. Mereka ditangkap bersama-sama, ditempatkan di penjara yang sama dan mereka mati bagi Yesus Kristus di saat yang hampir bersamaan. Walaupun di dunia ini mereka berdua mengalami hidup yang sangat miskin selama beberapa tahun, namun Allah memberikan mereka kekayaan surgawi yang kekal. Read the rest of this entry

Santa Lusia Kim (Kopch’u)

Lucia Kim (Kopch’u) (Sumber: cbck.or.kr)

Perasaan yang umum dari jiwa seorang martir adalah iman dan keberanian. Begitu mengejutkan untuk menemukan perasaan yang berlimpah itu pada diri seorang wanita bernama Lusia Kim (1769-1839). Rahmat Allah dan imannya yang dalam dan juga kerendahan hati digabungkan bersama untuk membentuk seorang wanita sederhana dan martir yang heroik. Lusia biasanya dipanggil dengan nama “Si Bungkuk Lusia.” Sepertinya dia telah menjadi seorang Katolik sejak dia masih muda. Dia menikah dengan seorang pria pagan, namun karena suaminya tidak menginginkannya berelasi dengan umat Katolik lainnya dan juga untuk memenuhi kewajiban agamanya, dia meninggalkan suaminya dan tinggal di beberapa rumah umat Katolik yang berbeda. Umat Katolik dengan senang hati menerima Lusia. Dia membantu mereka dalam pekerjaan rumah dan menjaga anak-anak juga orang sakit, hal ini dilakukannya untuk membalas kebaikan mereka. Read the rest of this entry

Santa Kolumba Kim Hyo-im

Columba Kim Hyo-im (Sumber: cbck.or.kr)

Kolumba Kim Hyo-im (1814-1839) lahir pada tahun 1814 dan adiknya yaitu Agnes Kim Hyo-ju (1816-1839) lahir dua tahun kemudian dari keluarga pagan di Bamseom, yang berarti pulau kastanya, di tepian sungai Han. Pada awalnya keluarga mereka bukan Katolik, namun ibu mereka mulai ada ketertarikan terhadap iman dan berangsur-angsur semakin dekat dengan iman, tapi ayah mereka bukan seorang beriman. Bahkan, ayah mereka bahkan tidak mau mendengar kata Gereja disebutkan di dalam rumahnya dan dengan ia melarangnya dengan ketat. Read the rest of this entry

Santa Perpetua Hong Kum-ju

Perpetua Hong Kum-ju (Sumber: cbck.or.kr)

Perpetua Hong Kum-ju (1804-1839) lahir di luar kota Seoul. Dia seorang wanita yang berkarakter kuat, cerdas, baik dalam cara berbuat maupun caranya berbicara. Dia dibesarkan di rumah neneknya. Dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun, namun entah bagaimana dia dapat menjalankan agamanya. Suaminya meninggal muda, dan dia meninggalkan rumah suaminya itu bersama dengan anak laki-lakinya dan tinggal di Minari-kol. Tak lama kemudian, anak laki-lakinya itu juga meninggal. Pemilik rumah yang dia tinggali yaitu Filipus Choe, mengajarkan ajaran iman dari awal, dan Perpetua berdoa dengan sungguh-sungguh sehingga dia sering menangis dalam doanya. Orang-orang mengagumi perbuatan amal kasihnya dan dikatakan bahwa dia membantu orang lain layaknya seorang pembantu. Read the rest of this entry