Santo Jacques-Honoré Chastan

Iacobus Chastan (Sumber: cbck.or.kr)

Pastor Chastan (1803-1839) lahir di sebuah desa kecil di Perancis pada tanggal 7 Oktober 1803. Orang tuanya adalah petani yang sederhana. Sejak masih kecil, ia sudah punya keinginan yang kuat untuk pergi ke daerah asing dan terpencil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ia masuk seminari, dan keinginannya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa semakin kuat. Kepada orang-orang yang meragukan apakah ia mampu untuk menanggung semua kesulitan di negara asing, ia menjawab bahwa Allah akan memberikan keberanian untuk menanggung semua kesulitan dan juga dengan sepotong roti dan segelas air akan mencukupi semua yang ia butuhkan untuk bertahan hidup.

Ketika ia memutuskan akan masuk seminari Serikat Misi Paris (Paris Foreign Missions Society / Société des Missions étrangères de Paris disingkat menjadi M.E.P.), ia merasa sangat senang, kemudian ia mengirimkan sepucuk surat kepada salah seorang temannya. “Bersukacitalah bersamaku! Sukacitaku lebih besar daripada sukacita seorang pria yang merasa dirinya akan dipenjara untuk waktu yang sangat lama dan kemudian akhirnya dibebaskan. Oleh sebab itu, bersukacitalah bersamaku, dan pujilah Penyelenggaraan Ilahi bersama dengan semua teman-temanku!”

Jacques Chastan ditahbiskan sebagai seorang imam beberapa saat sebelum Natal tahun 1826 dan pulang ke rumahnya untuk memberikan salam perpisahan kepada orang tuanya. Mereka tahu bahwa keinginan putranya untuk pergi ke tempat misi, namun hal itu mengejutkan mereka karena putranya itu akan pergi begitu cepat. Dengan air mata mereka, mereka memohon supaya ia tidak pergi. Pastor Chastan berlutut di depan ibunya dan meminta berkatnya, namun ibunya menolak keras untuk memberkatinya, dan berkata bahwa ia adalah anak yang tidak tahu berterima kasih.

Hati Pastor Chastan hancur dengan kesedihan, namun kehendaknya yang kuat tetap teguh. Ia berusaha membujuk orang tuanya bahwa kehendak Allah yang membuatnya pergi ke tempat misi demi menyelamatkan jiwa-jiwa orang-orang yang belum beriman. Orang tuanya tidak mendengarkannya. Pastor Chastan harus meninggalkan rumah tanpa ciuman lembut dari ibunya. Ia pergi dan tahu kalau ia mungkin tidak akan pernah kembali. Hal itu menjadi saat-saat yang sangat menyedihkan.

Pastor Chastan datang ke Korea, dan bersama dengan Pastor Maubant yang sudah berada di sana sebelumnya, mereka bekerja keras demi menyelamatkan jiwa-jiwa. Mereka mengunjungi desa-desa Katolik yang terpencil jauh di dalam gunung, dan mempertobatkan banyak orang. Mereka membaptis ribuan orang, mendengarkan pengakuan dosa, dan mempersembahkan Misa bagi mereka.

Santo Jacques-Honoré Chastan (Sumber: cbck.or.kr)

Santo Jacques-Honoré Chastan (Sumber: cbck.or.kr)

Mematuhi perintah Uskup Imbert, Pastor Chastan menyerahkan dirinya bersama dengan Pastor Maubant. Ketiga misionaris ini bertemu di penjara. Mereka dipenggal di Saenamteo pada tanggal 21 September 1839. Jenazah mereka dimakamkan di Gunung Samsongsan dan kemudian dipindahkan ke ruang bawah tanah (yang berada di bawah altar utama) di Katedral Myeongdong. Ketika menjadi martir, Pastor Chastan berusia 35 tahun.

 

Sumber: cbck.or.kr

Posted on 5 May 2016, in Orang Kudus and tagged , , , . Bookmark the permalink. 17 Comments.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: