Author Archives: Terang Iman
Dimuliakanlah Nama-Mu dalam Doa Bapa Kami
Oleh Scott Hahn
Setiap kali kita berdoa Bapa Kami, kita mengakui nama Allah sebagai yang dimuliakan (Matius 6:9 secara khusus Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini dan Alkitab Terjemahan Lama) yaitu yang kudus atau disucikan. Namun bagaimana kita memaknainya? Dan apakah kita memahami apa yang Yesus maksud? Read the rest of this entry
Maria: Karya Agung Allah
Oleh Tim Gray
Terang Sang Putera Allah begitu cemerlang sehingga terang-Nya itu melingkupi seluruh sejarah umat manusia, bahkan jauh sampai ke ujung Perjanjian Lama. Sama seperti cahaya matahari yang dipantulkan bulan, demikian juga Terang Sang Putera Allah, dan terang itu dipantulkan oleh Bunda Maria. Sesuai dengan tradisi Katolik, sebagaimana yang diajarkan oleh St. Pius X bahwa Kristus digambarkan dalam Perjanjian Lama, Maria pun biasanya digambarkankan juga: “Dalam sebuah kata, setelah Kristus, kita menemukan Maria pada akhir hukum dan penggenapan dari berbagai gambaran dan nubuat.” Salah satu contohnya adalah tabut perjanjian, yang membawa hadirat Allah dan dengan demikian menggambarkan Maria yang membawa Kristus sebagai Theotokos, atau Bunda Allah. Read the rest of this entry
Tanda dan Simbol dalam Misa
Oleh Philip-Michael Tangorra
Untuk menyampaikan misteri keselamatan kita, liturgi suci menggunakan berbagai macam tanda dan simbol yang merupakan penyingkapan yang nampak dari misteri-misteri yang tidak kelihatan. Adapun misteri itu sedang dirasakan dan dihadirkan kepada kita. Karya seni, arsitektur, lagu, dan puisi linguistik dalam Misa dimaksudkan untuk mengangkat umat beriman supaya hati dan pikiran mereka bersatu dalam pujian, penyembahan, penghormatan dan kemuliaan yang dipersembahkan bagi Allah. Maka tanda-tanda yang nyata ini yang termasuk tata gerak, pergerakan para pelayan liturgi suci, pakaian liturgi dan penggunaan bejana-bejana kudus, diperuntukkan untuk “mengangkat hati kita” maka berbagai tanda-tanda itu harus indah agar dapat mengilhami kehadiran kasih, cahaya, dan keagungan Allah. Read the rest of this entry
Dari Seder Paskah ke Ekaristi
Oleh Vladimir Mauricio-Perez
Misa bukanlah penemuan para rasul atau sesuatu yang Yesus ciptakan entah dari mana asalnya. Ada suatu tradisi tua yang mengatakan bahwa Misa adalah perubahan liturgi Yahudi: Perjamuan Paskah Yahudi atau dikenal kemudian dengan istilah Seder. Read the rest of this entry
Kebiasaan Mengganti Air Suci dengan Pasir Selama Masa Prapaskah, Bolehkah?
Ada suatu kebiasaan yang dilakukan selama Masa Prapaskah mengenai air suci yang diganti dengan pasir. Hal ini menunjukkan pengalaman kekeringan rohani atau dikenal juga dengan istilah desert experience yang dimulai dengan kisah Yesus digoda di padang gurun selama 40 hari. Tempat air suci yang selama Masa Prapaskah kosong, bahkan diganti dengan pasir, akan diisi kembali pada Malam Paskah sebagai tanda sukacita Paskah.
Kelihatannya kebiasaan ini baik, namun apakah benar demikian? Mari kita lihat surat dari salah satu otoritas Gereja yang menjawab mengenai hal ini: Read the rest of this entry
Mengapa Patung Diselubungi pada Minggu Prapaskah V?
Mungkin kita merasa aneh ketika mengikuti Misa pada Minggu Prapaskah V ini, semua patung yang indah di gereja bahkan juga crucifix (salib ber-corpus) ditutup kain ungu. Bukankah kita seharusnya melihat adegan yang menyakitkan di Kalvari ketika mendengar pembacaan Kisah Sengsara pada Minggu Palma? Read the rest of this entry
Akar Perjanjian Lama mengenai Minggu Palma
Oleh Dr. Brant Pitre
Salah satu Misa dan bacaan-bacaan Kitab Suci yang saya sukai dalam lingkaran tahun liturgi adalah Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan atau lebih umum dikenal dengan “Minggu Palma.”
Melalui bacaan-bacaan pada Minggu Palma, Gereja menghantar kita menuju puncak perayaan tahun liturgi pada perayaan Pekan Suci. Inilah hari Minggu terakhir sebelum memulai masa Triduum (Trihari Suci), yang akan mencapai puncaknya pada perayaan Paskah (Paskah Latin), yang dalam Katekismus disebut sebagai “pesta segala pesta” (KGK 1169). Read the rest of this entry
Hawa dan Kejatuhan Manusia
Oleh Stacy Mitch
Kisah Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang adalah kisah yang akrab kita dengar, saking akrabnya dengan kisah itu sehingga kita menganggap bahwa makna kisah itu sama dengan dongeng anak-anak. Kita semua tahu tentang kisah itu sebagaimana kita mengenal dongeng “Bawang Merah & Bawang Putih” dan “Cinderella”. Namun demikian, ada kebenaran yang perlu disampaikan dalam kisah ini yang bukan sekadar pelajaran moral tentang kebodohan manusia. Read the rest of this entry












Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…