Category Archives: Kisah Iman
Roma Rumahku – Kisah Dr. Scott Hahn

Scott, Kimberly and Jeremiah Hahn (Sumber: Facebook)
Kisah ini merupakan perjalanan yang membawa seorang pendeta hebat dari aliran Presbiterian dan juga Profesor Teologi dari seminari Protestan ternama, menjadi seorang teolog Katolik Roma dan juga dikenal sebagai apologis Gereja Katolik bertaraf internasional. Melalui pembelajaran dan doa, Scott Hahn menyadari bahwa kebenaran Gereja Katolik berakar kuat dalam Alkitab. Kisah lengkapnya dapat ditemukan di buku laris yang berjudul “Rome Sweet Home,” yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1993.
Menemukan Kebenaran Melalui Newman – Kisah Diakon Scott Carson Ph.D.

Diakon Scott Carson (Sumber: diosteub.org)
Kisah perjalanan saya memasuki Gereja Katolik merupakan suatu kisah pertumbuhan. Yakni pertumbuhan spiritual, pertumbuhan psikologis, dan yang paling penting adalah pertumbuhan akan pemahaman dan kapasitas untuk kasih Kristiani.
Saya memulai perjalanan hidup saya sebagai bukan bagian umat beriman. Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat skeptis dan cenderung ke saintisme, dan sekarang saya seorang diakon permanen untuk Keuskupan Steubenville, Ohio, dengan panggilan melayani komunitas akademis di wilayah itu. Banyak hal yang berubah dalam rentang waktu 60 tahun. Read the rest of this entry
Perjalanan Gadis Yahudi kepada Kristus – Kisah Melissa Zelniker-Presser

Melissa Zelniker-Presser (Sumber: godisinmytypewriter.com)
Awal Mula Perjalanan Iman Saya
Sebagai seorang gadis Yahudi yang dibesarkan di Florida Selatan, saya sudah tahu dari sejak kecil bahwa Tuhan itu nyata. Di usia tiga tahun, saya mengalami suatu perjumpaan dengan Tuhan, di mana Ia hadir seutuhnya dan menampakkan diri-Nya kepada saya. Ia ada di sana, bagaikan seorang sahabat, benar-benar nyata, sangat penuh kasih. Tentu saja waktu itu saya tidak tahu mengapa Ia memilih saya dan mendekati saya dengan cara ini. Saya masih sangat kecil, masih sangat muda, dan entah bagaimana perjumpaan itu tertanam dalam diri saya, terukir dalam jiwa saya. Baru di kemudian hari di kehidupan saya, saya akan menemukan alasan bahwa Ia telah memilih untuk datang kepada saya, tinggal bersama saya, bahkan ketika saya memilih untuk menjauh daripada-Nya. Read the rest of this entry
Kembali dari Neraka – Kisah Elvis Gutierrez

Elvis Gutierrez (Sumber: Facebook)
Saya lahir di Yonkers, New York, di dekat Bronx. Kedua orang tua saya berimigrasi dari Republik Dominika, ayah saya pada tahun 1960-an sedangkan ibu saya pada tahun 1970-an. Keduanya berasal dari komunitas pedesaan yang bernama La Cidra, di mana masyarakatnya hidup dengan bercocok tanam. Air minum mereka berasal dari sungai, anak sungai, dan juga hujan. Tidak ada listrik, tidak ada tata kelola sanitasi, dan banyak penduduknya masih menunggangi kuda dan keledai. Read the rest of this entry
Tanda Yunus – Kisah Romo Scott Wooten

Romo Scott Wooten (Sumber: fwdioc.org)
Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi (Matius 16:1-4)
Pernahkan Anda punya ayat dari Kitab Suci yang terbayang-bayang selama bertahun-tahun? Suatu waktu, Matius 16:1 menjadi salah satu ayat yang membingungkan bagi saya. Mengapa ayat ini? Ayat ini bukanlah ayat yang sangat unik, dan tidak secara khusus mewakili ayat tentang “kabar gembira” melainkan ayat yang menyedihkan. Namun, ayat ini melekat pada diri saya karena saya merasa kasihan pada orang-orang Farisi dan Saduki. Tampaknya mereka tersesat, dan setelah membaca kisah berikutnya, saya tahu kalau akhir cerita mereka tidak bagus. Read the rest of this entry
Kepada Siapa Ku Harus Pergi? – Kisah Douglas Beaumont Ph.D.

Douglas Beaumont (Sumber: douglasbeaumont.com)
Saya tidak menerima pendidikan yang sangat religius dari keluarga. Tetapi, secara tidak langsung saya diajarkan bahwa Tuhan itu ada, dan saya memegang kepercayaan yang samar-samar mengenai hal itu sampai sekolah menengah (setara SMA –red.), saat itu saya menjadi seorang agnostik praktis. Dengan adanya ribuan agama di dunia, dan juga ilmu pengetahuan yang terus mengubah pemikiran tentang “kebenaran.” Saya merasa tidak butuh untuk berkomitmen pada keyakinan apa pun. Lebih penting lagi, saya suka akan hidup saya tanpa aturan agama. Lebih jauh lagi, kelihatannya setiap orang Kristen yang berusaha menginjili saya, mereka tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Saya tidak akan mengubah hidup saya jika saya tidak punya alasan yang kuat untuk mengubahnya. Read the rest of this entry
Dari Agnostik ke Baptis ke Katolik – Kisah Ian Murphy Ph.D.

Dr. Ian Murphy (Sumber: EWTN YouTube Channel)
Mungkin aneh jika seseorang yang punya nama khas Katolik Irlandia seperti “Ian Murphy” ternyata seorang yang berpindah keyakinan ke Gereja Katolik. Awalnya, saya ragu apakah Tuhan itu ada, akhirnya saya menjadi pengkhotbah Kristen Baptis, dan sekarang saya seorang Katolik. Di satu sisi, saya kira saya punya sesuatu yang disebut orang banyak sebagai “salah satu kisah perubahan keyakinan yang dramatis.” Perjumpaan fisik dengan peperangan rohani membawa saya keluar dari keraguan saya sebagai seorang ateis, rasa keadilan saya di tahun-tahun sebagai orang Protestan mengilhami undang-undang negara bagian dari Kongres Amerika Serikat. Saya pasti bisa memahami kalau ada seseorang yang menganggap perjalanan ini sebagai kisah perubahan keyakinan yang dramatis. Read the rest of this entry
Kepenuhan Kehidupan – Kisah Christine Hall

Christine Hall (Sumber: chnetwork.org)
Saya lahir di Schenectady, New York pada tahun 1957 di sebuah keluarga Katolik yang sangat tradisional. Saya anak bungsu dari empat bersaudara. Empat bersaudara itu terdiri dari dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Kami semua bersekolah di sekolah Katolik dan setiap hari Minggu kami ikut Misa sebagai satu keluarga. Di rumah kami, kami punya satu gambar Yesus, sebuah patung Maria, dan beberapa salib (ber-corpus) yang diselipi daun palem dari perayaan Minggu Palma. Kami seperti keluarga Katolik Amerika pada biasanya. Kota tempat tinggal kami sangat Katolik. Hampir semua teman saya beragama Katolik, dan di setiap bagian wilayah kota ada sebuah paroki dan sekolah Katolik. Read the rest of this entry
Mengelilingi Dunia Protestan dalam 48 Tahun – Kisah Kira Ciupek

Kira Ciupek (Sumber: kira-marie-mccullough.com)
Jika Jules Verne penulis “Around the World in 80 Days (Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari),” menuliskan kisah hidup saya, mungkin judulnya “Around the Protestant World in 48 Years (Mengelilingi Dunia Protestan dalam 48 Tahun).” Saya bukan penjelajah bumi, tapi saya seorang yang pindah-pindah gereja. Sebagian besar hidup saya, saya tidak mendalami berbagai denominasi yang saya ikuti, sekadar mengagumi keindahan dan bingung akan perbedaan denominasi-denominasi itu. Saya bergabung dengan sebuah gereja dan kemudian dengan gereja lainnya, pindah dari Texas ke Tennessee, kemudian ke California dan kembali ke Texas, coba-coba dari non-denominasi, Presbiterian, Injili Bebas (Evangelical Free), gereja Baptis Amerika, dan gereja Southern Baptist. Akhirnya pada usia 49 tahun, saya menemukan apa yang saya cari-cari sepanjang hidup saya, yaitu Gereja Katolik. Anehnya, Alkitab yang membimbing saya kepada Gereja Katolik. Read the rest of this entry
Sukacita Pulang ke Gereja Katolik – Kisah Margaret Reveira

Margaret LaCovara-Reveira (Sumber: Facebook)
Pada bulan Maret 1984, di tengah krisis emosional yang saya alami, saya membuat keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya. Saya menyadari kalau saya butuh bertumbuh dalam berbagai hal yang berhubungan dengan Tuhan dan membiasakan diri dengan Firman-Nya. Saya tidak takut “dijual” kepada Allah, karena kasih saya bagi Sang Juruselamat sudah dibina sejak masa kanak-kanak. Sebagai seorang pelajar Katolik yang usianya delapan tahun, ikut Misa harian adalah hal yang biasa, dan praktik ini berlangsung lama setelah ini. Secara harfiah, ada sukacita berada di hadirat Tuhan dan berdoa. Kendati demikian, saya masih melakukan hal yang sangat menyimpang dari-Nya, terutama di usia 20-an. Sepanjang hidup saya, penampilan saya sering dipertanyakan, dan meskipun humor yang menyindir menjadi bagian dari tata bicara saya, saya tidak punya harga diri yang pantas, memulai pencarian cinta yang tak ada hentinya. Saya dengan cepat mengadopsi gaya hidup pergaulan bebas sebagai sarana untuk memuaskan tujuan saya. Namun, hal itu sia-sia. Terlepas dari kesenangan fisik, sebagaian besar perjumpaan yang saya alami tidak menghasilkan apa-apa selain dari kejatuhan emosional. Read the rest of this entry


Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…